Komisi IX DPR Sarankan IDI dan dokter Terawan Duduk Bersama

Bayu Septianto, Okezone · Jum'at 06 April 2018 08:02 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 06 337 1882876 komisi-ix-dpr-sarankan-idi-dan-dokter-terawan-duduk-bersama-WD4DY1BWah.jpg (Foto: IG/Dean Metric)

JAKARTA - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay meminta perseteruan antara Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan Kepala RSPAD Gatot Soebroto, Mayjen TNI Terawan Agus Putranto atau dokter Terawan segera diselesaikan secara internal. Semua pihak terkait, termasuk Majelis Kehormatan Etik Dokter (MKEK), Kementerian Kesehatan dan Mabes TNI menurut Saleh perlu duduk bersama untuk menyelesaikan masalah ini.

"Kalau ada dianggap pelanggaran ya diselesaikan secara internal supaya jangan melebar. Saya berharap Kemenkes ikut ambil bagian, bersama Mabes TNI mungkin bisa berdialog dengan IDI," ujar Saleh kepada Okezone, Jumat (6/4/2018).

Saleh berharap masalah ini segera selesai, sehingga dokter Terawan bisa kembali melakukan kegiatan sehari-harinya sebagai seorang dokter.

"Persoalan dokter Terawan dengan IDI jangan sampai kemana-mana. Jangan sampai ada pecat memecat atau skors menskors itu ya. Kalau ada dianggap pelanggaran ya diselesaikan secara internal supaya jangan melebar," jelas Saleh.

(Baca Juga: Dipecat IDI, KSAD Minta Dokter Terawan Bela Diri)

(Baca Juga: Prabowo Ceritakan Pengalamannya Diterapi Dokter Terawan hingga Bisa Pidato 5 Jam)

Sebelumnya, dokter Terawan diberhentikan IDI karena dianggap melanggar kode etik kedokteran. Pasalnya, kode etik melarang dokter mengiklankan dan memuji diri sendiri.

Dokter Terawan selama ini diketahui sebagai orang yang mengenalkan metode 'cuci otak' untuk mengatasi penyakit stroke. Terapi 'cuci otak' dengan Digital Substracion Angiography (DSA) diklaim mampu menghilangkan penyumbatan di otak. Namun, metode masih menuai pro kontra di kalangan kedokteran.

Saleh menegaskan perlunya klarifikasi diantara semua pihak sehingga masalah ini cepat selesai dan hasilnya bisa dijelaskan secara luas ke masyarakat. Hal ini menurut Saleh sangat penting agar tak ada lagi penafsiran berbeda-beda di masyarakat.

"Kalau enggak ada klarifikasi kasihan, sepihak saja, nanti masyarakat menafsirkan macam-macam, perlu ada klarifikasi masing-masing pihak, duduk bersama selesaikan masalah ini," pungkasnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini