Marak Kasus Intoleransi Beragama, Diduga karena Terpapar Pemikiran Radikal

Puteranegara Batubara, Okezone · Rabu 28 Maret 2018 01:21 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 28 337 1878820 setara-institute-155-kasus-intoleransi-beragama-terjadi-sepanjang-2017-Cl5oUxrzaq.jpg (Foto: Puteranegara/Okezone)

JAKARTA - Setara Institute merilis laporan terkait kasus intoleransi beragama yang terjadi sepanjang 2017. Setidaknya, pada tahun itu tercatat 155 pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di 29 provinsi di Indonesia.

Kemudian yang terhangat, pelanggaran juga terjadi di 2018. Antara lain pembubaran kegiatan bakti sosial Gereja Katolik St Paulus Pringgplayan, Bantul, Yogyakarta, pengusiran seorang biksu di Tangerang, Banten dan penyerangan di Gereja Katolik St. Lidwina, Trihanggo, Sleman.

Pelanggaran atas kebebasan beragama tersebut dilakukan kelompok yang berpaham radikal dan hampir kebanyakan melakukan tindakan itu adalah para pemuda.

Menanggapi hasil yang dirilis itu, Pengamat Terorisme, Sofyan Tsauri mengatakan, masalah radikalisme sangat berkaitan dengan situasi global saat ini. Dan menurutnya beberapa kasus terorisme atau berpaham radikalisme di Indonesia tidak secara tiba-tiba muncul tetapi merupakan efek dari situasi global.

"Contoh kasus terbaru adalah konflik Ambon dan Poso, di mana pelaku terorisme di Indonesia merupakan alumni dari konflik-konflik komunal dan sosial. Maka di situlah saya rasa terpapar dengan pemikiran radikal, kemudian benci dengan situasi dan kondisi global, kondisi di Indonesia," kata Sofyan dalam diskusi di Universitas Paramadina yang bekerja sama dengan Yayasan Jalin Perdamaian dan Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam) Polri, Jakarta, Selasa 27 Maret 2018.

Kesempatan yang sama, Chairman Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC), Pipip A Rifai Hasan mengatakan, kondisi internasional sangat berpengaruh terhadap perkembangan terorisme atau paham radikalisme.

(Baca juga: Potret Buram Insiden Penyerangan Tokoh Agama dan Tempat Ibadah Wajib Jadi Perhatian Pemerintah)

"Upaya untuk mengalahkan terorisme dilakukan secara berlebihan sebagai contoh invasi ke Irak. Secara ideologi Saddam Husein adalah sekuler, sangat berbeda dengan terorisme. George Bush menggunakan, memanfatkan isu terorisme untuk kepentingan masyarakat Amerika terkait eksplorasi minyak. Akhirnya terbentuk kelompok bersenjata ISIS," tutur dia.

Sedangkan, Pakar Antropologi Tobat Phil Suratno menuturkan, terjadinya aksi terorisme dikarenakan adanya faktor prasituasi dan kondisi, Ideologi pemberontak seperti HTI, khalifah dan kekerasan politik.

"Beberapa prakondisi yang harus dilaksanakan untuk mencegah aksi radikalisme yakni rekonsiliasi tokoh, pemerintah dan ulama karena ada hak-hak muslim yang belum terakomodir atau terabaikan. LSM dan Pemerintah perlu memberi pencerahan lewat media, kepolisian melalui revolusi mental atau pendidikan karakter," tutup Suratno.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini