nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menteri Yohana: Putuskan Mata Rantai Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan!

Demon Fajri, Jurnalis · Kamis 22 Maret 2018 12:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 22 337 1876368 menteri-yohana-putuskan-mata-rantai-kekerasan-terhadap-anak-dan-perempuan-5Sm9cL0m5e.jpg Kampanye 'He for She' dihadiri Menteri PPPA Yohana Yambise di Bendungan Seluma, Bengkulu (Demon/Okezone)

BENGKULU - Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindugan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Bengkulu mencatat ada 156 anak dan 103 perempuan di provinsi berulukan 'Bumi Rafflesia menjadi korban kekerasan terutama fisik dan seksual.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise meminta semua pihak berperan dalam memutuskan mata rantai kekerasan terhadap perempuan dan anak.

''Kekerasan dapat terjadi di mana dan kapan saja dan oleh siapa saja. Ini merupakan tanggung jawab kita bersama untuk memutus mata rantai kekerasan pada perempuan dan anak,'' kata Yohana dalam kampanye bertema ‘He for She’ di Bendungan Seluma, Kabupaten Seluma, Bengkulu, Kamis (22/3/2018).

''Karena perempuan dan anak adalah dua pilar utama yang diperhitungkan dunia. Dengan menyelamatkan satu orang perempuan ataupun anak sama saja kita telah menyelamatkan masa depan dunia,'' sambung Yohana.

Misi perlindungan perempuan dan anak dari segala bentuk kekerasan, menurut Yohana, sejalan dengan salah satu misi utama Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sebelumnya dinobatkan sebagai salah satu dari 10 Kepala Negara terpilih menjadi HeforShe Champion World Leader.

Selain penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, terang Yohana, Indonesia juga di daulat untuk berfokus pada penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), serta peningkatan partisipasi perempuan dalam politik dan pengambilan keputusan.

Menurutnya, Presiden Jokowi merupakan ikon keterlibatan kaum laki-laki sebagai agen perubahan yang diakui dunia untuk mencapai kesetaraan gender.

Indonesia saat ini menjadi sorotan dunia karena mampu menjadi role model dalam mengemban amanah komitmen PBB yang tertuang pada Kampanye He for She.

''Saya mengajak seluruh masyarakat Bengkulu untuk mengambil peran dalam kampanye He for She. Kampanye ini tidak hanya dapat memajukan kaum perempuan tapi juga dapat melindungi kaum perempuan dan anak untuk berada di atas batas garis aman,'' sampai Yohana.

Satgas PPA

Sejalan dengan kampanye ini, Pemprov Bengkulu melibatkan 2.632 orang dalam Satuan Tugas Penanganan Perempuan dan Anak (Satgas PPA).

Selain itu, serangkaian peraturan daerah (perda), peraturan gubernur (pergub), keputusan gubernur (kepgub) serta keputusan bersama terkait perlindungan perempuan dan anak telah dibuat.

Pemprov mengklaim upaya itu telah mampu menekan angka kekerasan perempuan dan anak di Bengkulu dalam tiga tahun terakhir. Dari 513 kasus yang tercatat dalam SIMFONI Provinsi Bengkulu pada 2015, menurun drastis menjadi 265 kasus di tahun 2017.

Semangat perlindungan perempuan dan anak terus ditularkan pemerintah daerah ke tengah masyarakat Bengkulu. Misi utamanya, mengoptimalisasi peran masyarakat khususnya perlibatan kaum laki-laki dalam perlindungan, pencegahan serta pendampingan korban kekerasan baik perempuan maupun anak-anak.

''Provinsi Bengkulu sangat menyambut baik kampaye He for She, karena kampanye ini sudah kami inisiasi sejak dua tahun yang lalu. Untuk meneruskan kampanye ini, saya meminta para OPD dan juga Perguruan Tinggi di Bengkulu terus mengeluarkan program-program yang responsif gender,'' pungkas Plt Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini