nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lima Fakta Dibalik Kejahatan Skimming, Nomor 4 Mengejutkan!

Annisa Ulva Damayanti, Jurnalis · Kamis 22 Maret 2018 10:35 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 22 337 1876321 lima-fakta-dibalik-kejahatan-skimming-nomor-4-mengejutkan-ecapHSjR93.jpg Polisi melakukan pengamanan ATM karena marak aksi skimming (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kejahatan duplikasi kartu (skimming) pada sejumlah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) kembali mencuat di beberapa perbankan nasional setelah sempat menggegerkan publik di tahun 2016.

Teranyar, polisi telah mengamankan enam pelaku kejahatan skimming yang telah merugikan puluhan nasabah Bank BRI di berbagai daerah. Hal ini disebabkan karena saldo para nasabah yang berkurang.

Selain menangkap para pelaku, polisi juga mengamankan beberapa barang bukti untuk melanjutkan proses penyidikan dan penelusuran tersangka lainnya. Berikut ini telah Okezone rangkum 5 fakta dibalik kejahatan skimming di Indonesia:

1. Sebagian Besar Pelaku Merupakan WNA

Seperti yang dikatakan sebelumnya, polisi telah berhasil membekuk para pelaku kejahatan beberapa kasus skimming di Indonesia. Dari sekian banyak pelaku, sebagian besar merupakan seorang Warga Negara Asing (WNA) negara- negara di Eropa seperti negara Rumania, Bulgaria dan Hungaria. Tak hanya menangkap pelaku, pihak kepolisian juga telah mengamankan berbagai barang bukti seperti satu buah deepskimmer, satu buah encoder, tiga buah spy cam, 1447 kartu ATM dengan data curian, empat buah kanopi pin pet, enam unit micro SD, empat mulut ATM, lima unit handphone, 19 buah karet mulut ATM, enam unit modem, dan sejumlah alat untuk membuat deep skimmer.

(Baca: Indonesia Marak Pembobolan ATM, Begini Ciri-Ciri Kejahatan Skimming)

Pada awalnya, pelaku hanyalah seorang turis yang kemudian memiliki motif lain untuk berbuat kejahatan. Menurut pengakuan tersangka, mereka sudah menjalankan aksinya sejak Bulan Juni tahun 2017 lalu. Dalam melakukan aksinya, para tersangka membuat alat skimmer dan seperangkat alat pendukung lainnya kemudian memasangnya di berbagai ATM yang ada di Bali, Bandung, Yogyakarta, Tangerang, dan Jakarta.

Mereka mampu membobol 64 bank di seluruh dunia termasuk Indonesia. Untuk di Indonesia sendiri sudah ada 13 bank lokal yang menjadi korban, dan sisanya 51 bank di luar negeri.

2. Pemasangan Alat Skimming Hanya 5 Menit

Menurut penuturan Direktur Reserse Kriminal Umum (Dir Reskrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Pol Nico Afinta mengatakan bahwa para tersangka pembobol mesin ATM 64 bank hanya membutuhkan waktu 5-10 menit untuk memasang alat skimming tersebut. Alat itu nantinya berfungsi untuk mencuri data para nasabah yang menggunakan mesin ATM.

Dalam melancarkan aksinya itu, para tersangka memasang alat skimmer di tempat memasukkan kartu ATM dan juga kamera tersembunyi yang ditempatkan di lokasi PIN, sehingga apabila seseorang memasukkan nomor PIN-nya begitu kartu dimasukkan data itu terekam. Nantinya, jika data nasabah sudah masuk akan ditempatkan di sebuah hard disk. Dana nasabah yang menjadi korban ini akan ditransfer untuk diambil tunai dan digunakan para pelaku untuk keperluan sehari-hari. Namun sebagian dana yang didapatkan pelaku juga dipindahkan ke Bitcoin sehingga membuat proses penyidikan mengalami kesulitan.

(Baca juga: Pelaku Skimming Bidik Lokasi ATM di Tempat Wisata)

3. Menyasar ATM di Tempat Umum

Mesin ATM yang terletak di tempat umum, memiliki tingkat kerawanan yang tinggi untuk dipasang skimmer (alat penyalin data nasabah). Pasalnya, lokasi di tempat umum tersebut kerap tidak diawasi oleh petugas keamanan. Manajemen Public Area yang jarang dikontrol membuat para pelaku skimming dengan mudah meletakkan alat-alatnya pada ATM seperti di pertokoan yang ada di tempat-tempat terpencil waralaba yang ada. Para pelaku memang kerap mengincar mesin ATM dengan intensitas transaksi tinggi dab berpotensi terjadi perputaran uang.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dir Reskrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Pol Nico Afinta menghimbau kepada masyarakat agar menutupi tangan pada saat memencet atau memasukkan pin pada saat memasukkan ATM itu juga. Selain itu, para pengguna ATM juga bisa melaporkan kepada polisi secara langsung jika

menemukan alat-alat di luar kebiasaan yang mengganggu proses transaksi.

4. Pemakaian Satu Jari saat Transaksi ATM

Pemakaian satu jari saat menggunakan ATM ternyata juga berpeluang untuk menimbulkan kejahatan skimming. Pasalnya penggunaan satu jari saat memencet nomor PIN akan dengan mudah terbaca oleh pelaku. Pihak kepolisian menyarankan untuk menggunakan kelima jari secara bergantian agar polanya menjadi sulit untuk ditebak.

5. Para Pelaku Berbagi Peran

Para pelaku skimming mempunyai peran masing-masing dalam menjalankan aksinya. Ternyata, mereka membagi tugasnya menjadi beberapa tim mulai dari penyediaan alat hingga eksekusi di lapangan.

Ada tim yang berperan sebagai penyedia alat, software, hardware dan alat skimming. Mereka mendatangkan alat-alat tersebut dari luar negeri.

Lalu ada tim kedua yaitu tim operasional yang mencari ATM untuk bisa dipasang alat skimming dengan aman. Kemudian tim ketiga bertugas untuk ambil uang dan transfer, di mana setelah mereka mendapatkan data dari ATM tertentu kemudian mereka pindahkan ke kartu dan langsung tersedia material skimming, sehingga data korban itu langsung terekam. Setelah mengambil data dan rekening, mereka memindahkan hasil tersebut ke dalam harddisk.

Para tersangka yang telah berhasil ditangkap pihak kepolisian merupakan bagian dari tim kedua dan ketiga. Polisi mengaku bahwa sedikit mengalami kesulitan untuk menangkap tim 1 tersebut. Pasalnya, barang yang mereka masukkan dari luar negeri merupakan barang-barang yang bersifat legal.

(ulu)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini