Ada 167 TKI Terancam Hukuman Mati di Luar Negeri

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 21 Maret 2018 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 21 337 1875692 ada-167-tki-terancam-hukuman-mati-di-luar-negeri-75KqXJdMm0.jpg foto: Illustrasi

JAKARTA - Sebanyak 167 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terancam dihukum‎ mati di luar negeri. 167 TKI yang terancam hukuman mati tersebut berada di lima negara yakni, Malaysia, Tiongkok, Arab Saudi, Qatar, dan Singapura.

Berdasarkan data yang diperoleh Okezone dari Direktur Eksekutif Migrant Care, Wahyu Susilo, terdapat 167 TKI yang terancam hukuman mati dan paling banyak ‎tercatat ada di Malaysia.

Dari catatan Migrant Care, ada 117 TKI di Malaysia terancam hukuman‎ mati, 27 TKI di Tiongkok, 21 TKI di Arab Saudi, dan masing-masing satu TKI di Qatar dan Singapura.

 (Baca juga: JK Klaim Sudah Berupaya Keras Loloskan Zaini Misrin dari Hukuman Mati)

Sebelumnya, Migrant Care sendiri mencatat ada tiga TKI yang sudah dieksekusi mati di luar negeri. Ketiga orang tersebut yakni, Siti Zaenab (47), dieksekusi mati setelah dituduh membunuh majikannya, pada tahun 1999. Siti Zaenab dihukum mati pada 14 April 2015.

Kemudian, pada 16 April 2015, seorang TKI, Karni Binti Merdi Tasim juga dihukum mati oleh pemerintah Arab Saudi. Perempuan asal ‎Brebes, Jawa Tengah itu dihukum mati karena membunuh anak majikannya pada 26 September 2012.

 (Baca juga: Setelah Zaini Misrin, Ada 20 TKI Lagi Menanti Hukuman Mati di Arab Saudi)

Terakhir, hukuman mati terjadi pada Muhammad Zaini Misrin. Pria asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu dihukum mati atas kasus pembunuhan terhadap majikanya, Abdullah bin Umar Muhammad Al Sindy, pada 2004. Zaini Misrin dieksekusi pada 18 Maret 2018.

Atas eksekusi mati terakhir yang terjadi pada Zaini Misrin, Migrant Care pun mendesak pemerintah Indonesia untuk mengeluarkan nota protes diplomatik kepada kerajaan Saudi Arabia. Sebab, eksekusi mati itu tanpa menyampaikan mandatory consular notification.

"Kami menuntut pemerintah Indonesia untuk mengeluarkan nota protes diplomatik kepada kerajaan Saudi Arabia dan mempersona non gratakan Duta Besar Kerajaan Saudi Arabia untuk Indonesia," kata Wahyu Susilo saat dikonfirmasi, Rabu (21/3/2018).

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini