nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peran Wanita Indonesia Anggota Sindikat Luar Negeri Kasus Skimming ATM Bank BRI

Badriyanto, Jurnalis · Sabtu 17 Maret 2018 14:38 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 17 337 1874176 peran-wanita-indonesia-anggota-sindikat-luar-negeri-kasus-skimming-bank-bri-c4AL0WWK9U.jpg Milah Karmila, wanita WNI yang ikut terlibat dalam aksi skimming Bank BRI. (Foto: Badriyanto/Okezone)

JAKARTA - Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengungkapkan, satu dari lima pembobol ATM BRI dengan metode skimming adalah warga negara Indonesia (WNI) yakni atas nama Milah Karmila (30). Dia direkrut oleh komplotan jaringan internasional tersebut.

Menurut Argo, perempuan asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) turut ditangkap karena terlibat membantu aksi skimming warga asing itu. Peran Milah membantu pelaku lainnya menukarkan hasil kejahatannya dari Rupiah ke mata uang Euro.

“Dia ikut membantu menukarkan uang dari Rupiah ke Euro,” ujar Argo saat rilis mengungkap kasus tersebut di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (17/3/2018).

(Baca juga: Pelaku Skimming ATM BRI Datangkan Alat Canggih dari Luar Negeri)

Sementara itu, di kesempatan yang sama, Milah berkilah mengetahui pekerjaan pelaku yang sesungguhnya. Ia juga mengaku tidak mengerti istilah skimming yang dilakukan WNA itu.

"Sebenarnya saya enggak tahu yang kayak ginian, saya waktu itu cuma disuruh transfer,” ujar dia seraya menutup mukanya.

Milah mengaku awal kenal dengan para pelaku di sebuah tempat hiburan malam di daerah Bali. Dari pertemuan itu kemudian mereka semakin akrab. Ia menegaskan tidak pernah diberikan uang atau jatah dari kejahatan yang dilakukan.

(Baca juga: Polisi Tangkap 5 Orang Diduga Pelaku Kejahatan Skimming Bank BRI)

“Kalau dikasih duit enggak, cuma makan-makan, gitu aja sih,” timpalnya.

Sebanyak empat tersangka lainnya yakni FH (26) WN Hungaria, kemudian IRT (27), LN (27) dan ASC (34) WN Romania. Mereka bakal dikenakan Pasal 363 KUHP dan atau Pasal 46 juncto Pasal 30 dan Pasal 47 juncto Pasal 31 Ayat 1 dan 2 UU Nomor 19 Tahun 2016, dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini