nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menguak Fakta Baru Kasus Bom Thamrin Lewat Persidangan

Qur'anul Hidayat, Jurnalis · Jum'at 16 Maret 2018 18:24 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 03 16 337 1873889 menguak-fakta-baru-kasus-bom-thamrin-lewat-persidangan-pHcTHyQfQz.jpg Polisi saat menyerbu para pelaku bom Thamrin, 14 Januari 2016. (Foto: Heru Haryono/Okezone)

SEJUMLAH ledakan menggema di kawasan Jalan MH. Thamrin. Ledakan bom itu menewaskan 8 orang, baik sipil maupun polisi. Bukan hanya bom, tetapi aksi baku tembak selama 11 menit antara polisi dan pelaku pun tak terelakkan. Pelaku teroris pun berhasil dilumpuhkan, 5 tewas di tempat.

Hari itu, 14 Januari 2016 jadi catatan kelam bagi Indonesia, khususnya warga Ibu Kota. Rentetan ledakan dan tembakan itu memakan 34 orang korban.

Aman Abdurrahman alias Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarma, otak serangan  teror ini kemudian menjalani sidang perdana pada 15 Februari 2018. Sidang kemudian berlangsung beberapa kali, termasuk hari ini Jumat (16/3/2018). Sejumlah keterangan pun bermunculan selama sidang berlangsung, apa saja?

Peringatan Setahun Ledakan Bom Thamrin, Keluarga Korban Tuntut Keadilan

Aman Ajak Pengikut Dukung ISIS

Seorang pimpinan kelompok Jemaah Ansharut Daulah (JAD), Zainal Anshor dalam kesaksiannya mengatakan bahwa Aman secara jelas mengajak para pengikutnya mendukung kelompok Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS.

Otak Teror Bom Thamrin Aman Abdurrahman Jalani Sidang Perdana di PN Jaksel

(Aman Abdurrahman. Foto: Reuters)

Keterangan ini terungkap saat sidang terkait Bom Thamrin pada Jumat, 9 Maret 2018. Zainal menyebut Aman sebagai pemikir cerdas yang pernah mengisi tausiyah yang diikutinya. Kala itu Zainal mendapat materi tentang tauhid uluhiyah serta sistem demokrasi sebagai ‘syirik akbar’.

(Baca juga: Ini Harapan dan Sikap Korban Bom Thamrin)

Pertemuan mereka berlanjut karena Zainal kemudian kembali mengundang Aman untuk mengisi tausiyah di Lamongan. Menurutnya, isi tausiyah Aman berbeda dengan penceramah kebanyakan.

"Karena materi yang disampaikan belum ada di majelis-majelis yang lain, selain itu dalil-dalilnya juga kuat," katanya kala itu.

Aman, dari keterangan Zainal diketahui mengajarkan bahwa demokrasi adalah 'syirik akbar'. Untuk itu, para anggotanya dilarang untuk mengikuti pemilu. Menurut Aman, seseorang akan kafir jika mengikuti sistem demokrasi.

Bahkan Zainal yang beberapa kali membesuk Aman yang ditahan di Lapas Nusakambangan sempat mengajarkan bahwa ISIS adalah 'daulah islamiyah'.

Video Call dari Balik Lapas Nusakambangan

Masih dari keterangan Zainal, Aman ternyata pernah melakukan sesi video call dengan JAD.  Padahal saat itu Aman sedang ditahan di Lapas Nusakambangan.

(Aman Abdurrahman. Foto: Antara)

Zainal dalam keterangannya memang tak mengetahui kenapa JAD bisa melakukan sesi video call dengan Aman. Yang diketahuinya adalah, JAD sudah mengatur Aman untuk memberikan tausiyah dalam salah satu acara mereka.

(Baca juga: Pemasok Senjata Bom Thamrin Dititipkan ke Lapas Pangkalan Bun, Anggota TNI Siaga)

Ditanya jaksa soal apa saja yang dibicarakan oleh Aman dalam video call tersebut, Zainal mengaku tak banyak mengingat. Salah satu yang diingatnya adalah pembicaraan sempat mengarah pada hukum menyekolahkan anak di sekolah luar negeri. "Yang lainnya saya lupa," kata Zainal.

Mengaku Tak Tahu soal Bom Thamrin

Aman didakwa telah meggerakkan orang lain untuk melakukan sejumlah teror di Indonesia, termasuk bom Thamrin. Aman kemudian didakwa pidana Pasal 14 UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Namun dalam persidangan, Aman yang ditanya Ketua Majelis Hakim Akhmad Jaini saat sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat 23 Februari 2018 mengaku tak tahu menahu soal bom Thamrin.

Akhmad bertanya setelah polisi korban bom Thamrin, Ipda Dody Maryadi menjelaskan soal peristiwa tersebut. Dody mengatakan, dirinya terkena tembakan di perut di lokasi ledakan. Dia juga menunjukkan barang bukti berupa foto pelaku ledakan bom, topi warna hitam serta rompi yang digunakan pelaku.

Aman lantas mengaku tak tahu tentang serangan bom tersebut. "Tidak ada. Saya tidak tahu menahu," ujarnya. Mendapati bantahan tersebut, Ipda Dony berkata, "Tapi Allah tahu," ujarnya.

Baiat di UIN Ciputat

Adi Jihadi, seorang saksi bom Thamrin mengaku pernah dibaiat ISIS di Universitas Islam Negeri (UIN) Ciputat. Dia mengaku harus mengucap sumpah setia kepada pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi.

Dalam sidang yang berlangsung Selasa 13 Maret 2018 itu, Adi mengatakan dirinya dibaiat oleh Fauzan Ansori di UIN Ciputat pada 2014. Saat itu peserta yang dibaiat menurut Adi berjumlah 500 orang yang disebutnya adalah masyarakat umum.

(Baca juga: Jalani Persidangan Aman Abdurrahman Tolak Didampingi Pengacara)

Adi sendiri dihukum selama 6 tahun 4 bulan karena pernah ikut latihan senjata dan militer di Filipina. Dirinya juga adalah fasilitator pengiriman anggota JAD ke Suriah dan Filipina serta jadi perantara pengiriman uang dari napi teroris Iwan Darmawan.

Adi juga mengenal Aman saat mengunjung Iwan Darmawan yang juga kakaknya di Lapas Nusakambangan.

Beli Senjata dan Latihan Militer di Filipina

Saksi dari JPU, Achmad Supriyanto dalam sidang Jumat (16/3/2018) mengaku pernah ke Filipina untuk latihan militer bersama dengan Adi Jihadi, yang merupakan fasilisator pengiriman JAD ke Filipina dan Suriah.

Saat di Filipina Achmad juga mengaku pernah membeli senjata di sana, namun ia tidak menjelaskan pembelian senjata tersebut digunakan untuk apa. "Pernah ke Filipina, latihan militer dan beli senjata di sana," kata Achmad.

(Achmad Supriyanto. Foto: Rizky/Okezone)

Dalam pembelian senjata di Filipina, Achmad mengaku tidak tahu menahu siapa yang memerintah. Saat ditanya apakah ada kaitannya dengan Aman, Ia mengaku tidak tahu. Pasalnya katanya hanya mengikuti perintah. "Tidak tahu," ucapnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini