BNPB Prediksi Kebakaran Hutan dan Lahan Jelang Pilkada 2018 Akan Meningkat

Muhamad Rizky, Okezone · Jum'at 23 Februari 2018 18:40 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 23 337 1863877 bnpb-prediksi-kebakaran-hutan-dan-lahan-jelang-pilkada-2018-akan-meningkat-4F92gQE62l.jpg Ilustrasi (Dok.Okezone)

JAKARTA - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada 2018 mendatang potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) akan meningkat. Hal itu diutarakan oleh BNPB berdasarkan pengalaman Pilkada serentak pada tahun 2015.

"Tahun ini ancaman kebakaran hutan dan lahan akan meningkat karena 171 Pilkada serentak akan digelar. Belajar dari pengalaman 2015 ada hampir 150 Pilkada digelar, saat itu kebakaran hutan meluas terlebih saat itu ada el nino," kata Sutopo di Gedung BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Jumat, (23/02/2018).

Sutopo mengurai, pada saat momentum Pilkada 2015, potensi peningkatan Karhutla akan meningkat karena Pelaksana Tugas (PLT) kepalad daerah biasanya tidak berani mengambil langkah cepat untuk menyatakan siaga darurat. Penetapan siaga darurat akan memudahkan BNPB dalam memberikan bantuan dan penanganan Karhutla.

 (Baca: BNPB Antisipasi Kebakaran Hutan Jelang Asian Gamse 2018)

"Dengan Pilkada serentak biasanya Plt Gubernur, Bupati, Walikota, tidak berani cepat untuk melakulan langkah-langkah tadi, ini pasti akan berpengaruh," ungkapnya.

Sutopo mengatakan, daerah-daerah yang biasanya terbakar adalah daerah di wilayah perbatasan baik provinsi maupun perbatasan kab/kota. Karena sambungnya biasanya wilayah tersebut lemah pengawasan.

"Belajar dari itu kita koordinasi dengan Kemendagri agar Plt agar tidak ragu-ragu. Jadi kita punya pengalaman dan kita berhasil mengatasi kebakaran," ungkapnya.

Selain itu, Sutopo menjelaskan, saat ini sudah ada empat provinsi menetapkan siaga darurat kebakaran hutan dan lahan yaitu Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Ada yang langsung sampai dengan 31 Desember dan juga ada yang sampai dengan bulan Mei tergantung dari ancamannya.

"Kalo kita lihat daerah-daerah yang dilewati oleh khatulistiwa atau ekuator saat ini wilayah tersebut masuk pada periode musim penghujan periode pertama, jadi pada Februari sampai Maret daerah yang dilintasi khatulistiwa akan menghadapi musim kemarau, kemudian April, Mei, dan Juni musim penghujan, setelah itu Juli sampai dengan September akan memasuki musim kemarau yang lebih kering," ungkapnya.

 (Baca juga: Jet Tempur F-16 TNI AU Dikerahkan Pantau Karhutla di Riau)

Sutopo memaparkan, saat ini ada beberapa kejadian Karhutla diantaranya, di Riau, kemudian di Kalbar, dan Kalteng juga terdeteksi. Di riau tercatat ada 630 hektare hutan dan lahan juga terbakar, belum lagi beberapa kawasan yang dihitung.

"Nanti memasuki bulan Juni maka daerah-daerah langganan kebakaran hutan dan lahan yakni, Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Papua dan beberapa daerah lain juga pasti akan mengalami peningkatan kebakaran," tukasnya.

 

(ulu)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini