nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BNPB Paparkan Kronologi Longsor di Brebes

Muhamad Rizky, Jurnalis · Jum'at 23 Februari 2018 16:54 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 23 337 1863813 bnpb-paparkan-kronologi-longsor-di-brebes-OPQBnrX9VK.jpg Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. (Foto: Muhamad Rizky/Okezone)

JAKARTA – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memaparkan kronologi dan penyebab terjadinya longsor di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada Kamis 22 Februari 2018.

Ia menjelaskan, lokasi kejadian berada di perbukitan Gununglio, tepatnya di hutan produksi milik Perhutani BKPH Salem Petak 26 RPH Babakan, yang memiliki kontur lereng curam sehingga sangat memungkinkan terjadinya longsor.

"Berdasarkan peta potensi rawan longsor se-Indonesia, daerah ini masuk potensi rawan longsor. Kalau ada curah hujan di atas normal, potensi longsornya tinggi," papar Sutopo di Gedung BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Jumat (23/2/2018).

(Baca: Korban Tewas Akibat Longsor di Brebes Bertambah Jadi 7 Orang, 13 Lainnya Masih Hilang)

Ia mengatakan, dua minggu sebelum terjadi longsor, di kawasan tersebut terjadi hujan deras sehingga mengakibatkan air mengalir ke lereng bukit dan terjadi mampet. Sehingga, lanjut dia, air meresap ke pori-pori tanah dan menyentuh lapisan hingga batuan napal yang merupakan bidang penggelincir (longsor).

"Material geologinya kalau kita lihat penyebabnya, kemiringan lerengnya terjal, batuan penyusun geologinya adalah batuan napal sebagai bidang penggelincir, bagian atas ada tanah liat tapi gembur. Saat hujan ada retakan retakan air mengisi pori-pori tanah. Ketika sampai pada batuan napal yang kedap air, dia menjadi bidang peluncur sehingga meluncur ke bawah alias longsor. Jadi secara alam, wilayah ini rawan longsor," paparnya.

Sutopo mencatat lintasan longsor yang dihasilkan yakni luas longsor sebesar 16,8 hektare dengan panjang longsoran dari mahkota (titik) longsor sampai titik terakhir (longsor) sekira 1 kilometer dan lebar longsor di titik mahkota longsor sebesar 120 meter. Sementara lebar bagian bawah 240 meter dengan ketebalan 5–20 meter dengan perkiraan 1,5 juta meter kubik.

"Tidak ada permukiman di sepanjang lintasan longsor, dan ini murni bencana alam, jadi tidak ada kaitannya illegal logging, konversi alam. Jadi yang perlu dipahami, hutan yang bagus bisa terjadi longsor, apalagi kalau daerah hutan daerah resapan air berubah menjadi permukiman maka potensi longsornya semakin tinggi," tambahnya.

(Baca: Tim SAR Temukan Potongan Tubuh Diduga Kaki Korban Longsor Brebes)

Sementara untuk korban, kata Dia, kebanyakan yakni dari masyarakat yang tengah bertani dan juga pengemudi yang tengah melintas sehingga tersapu longsor. Sampai saat ini, tambahnya, Tim SAR gabungan belum bisa menjangkau sampai bagian atas (titik longsor) maupun tengah karena potensi longsor masih tinggi.

"Kondisi cuaca juga berpengaruh menghambat, jadi dalam prioritas tetap menggunakan prinsip safety first. Saat ini kami juga masih menunggu hasil drone untuk melakukan pemetaan lebih detail untuk menyiapkan langkah antisipasi selanjutnya," tukas dia.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini