Politik Kasih Sayang, Nasionalisme dan Guncangan Hoaks

Amril Amarullah, Okezone · Minggu 11 Februari 2018 14:24 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 11 337 1857911 politik-kasih-sayang-nasionalisme-dan-guncangan-hoaks-2EiKFnpaIv.jpg Ilustrasi

Oleh: I. Majid

(Ketua Bidang Geopolitik dan Geostrategi DPP Garda Rajawali Perindo)

Beberapa Negara di dunia memiliki pengalaman berbeda dalam menghadapi fenomena hoaks, mulai dari guncangan hoaks politik yang menggiring identitas etnis, suku, agama dan ras, sehingga sentimen dan pergulatan identitas mudah sekali menggerogoti alam pikir warga Negara dan menodai kebhinekaan. Permasalahan ini sedang dialami oleh Negara multikultural seperti Indonesia, menyebabkan terjadi gesekan interaksi sosial yang berkelindan langsung dengan sistem politik dan sistem Negara itu sendiri. Lagi-lagi, hoaks bebas menyusupinya.

Oleh karena itu, dalam frame heterogenitas, semua warga Negara harus bisa mengintegrasikan jalan kasih sayang sebagai transformasi gagasan politik baru, menjadikan tesis baru untuk meningkatkan kualitas peradaban politik yang masih rendah.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana peran institusi politik seperti parpol menangkal hoaks? Tanggal 14 Febuari, bertepatan dengan momentum Hari Ulang Tahun Garda Rajawali Perindo (GRIND) yang kedua. Dalam rangkaian acaranya, GRIND mengagendakan pertukaran kado secara simbolik sebagai bentuk kasih sayang di tahun-tahun politik.

Selain itu, GRIND juga siap menjembatani masalah politik tanah air, sekaligus memberikan solusi, baik secara horisontal maupun vertikal. Upaya ini tidak sekedar sebuah formalitas dalam rangka mewarnai dinamika politik yang diguncang hoaks tanpa mengenal batas. Tapi, menggugah kesadaran dan kemanusiaan dengan perasaan kasih sayang. Hal tersebut bakal menjadi salah satu model kampanye yang efektif dalam menangkal hoaks. Rakyat akan merasa lebih baik menyibukkan diri dengan menebar kasih sayang daripada mengkonsumsi berita palsu. Dan, model kampanye anti hoaks ala GRIND secara terang-terangan akan digelar hingga ke seluruh Indonesia. Meminjam tuturan Gramsci, tidak hanya bersifat teritorial tapi hingga ke wilayah kesadaran manusia.

Selanjutnya, langkah GRIND ini akan berjangka, yakni pendek, menengah dan panjang melalui pembahasan resmi tentang penguatan ideologi partai sehingga ada keselarasan yang monolitik antara parpol dan kekuatan masa.

Sebagai pendatang baru dalam belantika politik, Partai Persatuan Indonesia menggandeng beberapa sayap, salah satunya adalah GRIND. Organisasi penjaga marwah partai Perindo ini menyadari bahwa hakikatnya politik memberi makna dan cita rasa berbeda di tiap fase. Sejarah pun diikutsertakan untuk melengkapinya, sebab politik bukan baru saja hari ini dan akan datang. Jauh sebelum Indonesia resmi bersistem, bernegara dan berkonstitusi, kerajaan-kerajaan di Nusantara telah mempraktikannya.

Praktik politik kasih sayang dalam kerajaan, secara historis, bisa kita merujuk pada peranan seorang Patih Gajah Mada. Ia adalah politisi ulung dalam kerajaan Majapahit. Ia disebut sebagai anayaken musuh (pemusnah musuh) sekaligus pembawa pesan kasih sayang terhadap kawan-kawannya. Gajah Mada besar atas dasar perdamaian dan pembelaannya terhadap siapapun yang dirongrong. Selain Panglima Perang, Amangkubhumi ini berhasil mengantarkan Majapahit di puncak Kejayaan. Misinya untuk menyatukan Nusantara, Gajah Mada mesti dijadikan rujukan dalam khasanah politik kontemporer di abad milenial. Karena Sang Patih ini adalah simbol Nasionalisme, berjuang menyatukan Nusantara tanpa memandang suku, agama dan ras. Apalagi menyebar hoaks?

Hoaks dan Masa Depan Politik

Publik akan berpandangan parokial, karena kabar angin, kabar burung, kabar bohong, dan kabar-kabar apapun lainnya terpaksa menjadi bahan dasar pendidikan politik terhadap fakta demokrasi. Hoaks mulai melekat di nadi rakyat. Negara mudah diadudomba, ideologi diinjak-injak, tidak lagi menjadi arah dan orientasi yang mengikat kita menuju satu tujuan mulia. Terbalik mencabik-cabik hati nurani. Disini, kekuatan kekuasaan pun mudah terjerembab dalam lubang-lubang kebohongan tanpa makna.

Dalam sebuah tayangan acara televisi swasta, Rocky Gerung, seorang pengajar Universitas Indonesia mengatakan sesungguhnya hoaks adalah by design penguasa, diproduk oleh kekuasaan. Statement ini bisa saja dianggap benar, bisa juga keliru. Kenapa? Kita jangan menganggap bahwa ada pembiaran dari pemerintah terhadap hembusan hoaks, terutama di media sosial. Bisa saja, hoaks dilakukan oleh orang per orang, suatu kelompok, suatu komunitas, bahkan dapat ditengarai bahwa kabar-kabar bohong ini dilakukan oleh kelompok oposisi dan kelompok lainnya yang haus kekuasaan.

Jika ini terus terjadi, maka rontoklah semangat berpolitik, semangat membangun keadaban publik, semangat persatuan. Estetika politik menjadi buram. Etika yang mestinya menjadi acuan dan perangkat dasar kekuasaan, hilang. Lalu, bagaimana nasib masa depan politik Indonesia? Bisa jadi wajah masa depan politik adalah era antipolitik. Sebagaimana dalam penjabaran Geoff Mulgan, menurutnya; tidak lagi dijadikan dasar perwakilan politik, karena etika dan moralitas tidak lagi dijadikan pedoman.

Kalau begitu, Kita sedang belajar membangun demokrasi, tapi gagal cerdas ber-Nasionalisme, ber-Negera dan ber-Kuasa. Ketika terus menerus digempur hoaks, akal sehat pun bakal dihabisi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini