nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

WNI Diduga Ikut ISIS Ditangkap di Malaysia, Mabes Polri Tak Mau Ikut Campur

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Selasa 23 Januari 2018 07:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 23 337 1848827 wni-diduga-ikut-isis-ditangkap-di-malaysia-mabes-polri-tak-mau-ikut-campur-LXEAUXz4O6.jpg Ilustrasi.

JAKARTA - Polri tak mau ikut campur atas tertangkapnya Warga Negara Indonesia (WNI) di Malaysia yang diduga terlibat ke dalam jaringan ISIS.

"Kalau itu kewenangan Malaysia kita tidak ikut campur, sama kaya WN Malaysia di Indonesia terlibat ISIS kita tangkap," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Senin 22 Januari 2018.

Meski enggan ikut campur atas penangkapan tersebut. Pemerintah tetap akan memberikan pendampingan hukum terhadap WNI yang ditangkap di luar negeri.

"Ada (pendampinga hukum). Tapi nanti dari Direktorat Perlindungan WNI, paling tidak mengunjungi yang bersangkutan kenapa kamu ditangkap dan sebagainya," tuturnya.

Pihaknya juga akan terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian negara manapun termasuk kepolisian Malaysia.

"Pasti koordinasi dengan polisi Malaysia," tutupnya.

Diketahui, seorang WNI dan seorang warga negara Malaysia yang diduga terlibat dalam Negara Islam Irak Suriah (ISIS) ditahan polisi Malaysia dalam operasi yang dijalankan mulai 23 Desember 2017 hingga 17 Januari 2018.

Kepala Polisi Diraja Malaysia (PDRM) Irjen Pol Tan Mohamad Fuzi Harun di Kuala Lumpur, Senin, mengatakan kedua pelaku berumur 25 dan 23 tahun masing-masing bekerja sebagai buruh bangunan dan guru agama di sebuah sekolah agama swasta.

(Baca juga: WNI Didakwa Terlibat Terorisme oleh Pengadilan Malaysia)

"Guru agama tersebut merancang untuk menlancarkan serangan ke pusat hiburan sekitar Lembah Klang selain merampok, menculik, dan membunuh orang bukan Islam di luar pahamnya," ujar Tan Mohamad Fuzi Harun.

Sementara itu, ujar dia, warga Indonesia yang ditahan diduga merancang melakukan serangan untuk merampas senjata api dari tempat penyimpanan senjata api di kantor Polisi Diraja Malaysia (PDRM) di Bukit Aman dan Balai Polis Travers.

Mohamad Fuzi mengatakan pelaku turut merancang mencuri senjata api di kantor polisi lain dan juga markas tentara untuk digunakan dalam serangan di Malaysia dan Indonesia.

Dia mengatakan hasil penyelidikan menunjukkan pelaku pernah membuat pemantauan di sekitar Jalan Pudu pada November tahun lalu.

"Bersenjatakan sebilah pisau, pelaku mencari orang Buddha untuk dibunuh sebagai tindakan balas dendam terhadap kekejaman pemerintah Myanmar atas umat Islam Rohingya," katanya.

Kedua pelaku, ujar dia, ditahan karena diduga melakukan kesalahan dibawah Bab VIa - Kesalahan Berkaitan Terorisme, Hukum Pidana (Akta 574) dan akan diselidiki mengikuti prosedur di bawah Akta Kesalahan Keselamatan 2012, katanya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini