Share

Bendahara La Nyalla: Kami Baik-Baik Saja dengan Gerindra dan Prabowo

Apriyadi Hidayat, Okezone · Selasa 16 Januari 2018 21:10 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 16 337 1845979 bendahara-la-nyalla-kami-baik-baik-saja-dengan-gerindra-dan-prabowo-08ZiCZ2wG3.jpg La Nyalla Mattalitti (foto: Okezone)

JAKARTA – Dugaan adanya mahar politik yang diminta Partai Gerindra kepada La Nyalla Mattalitti dalam Pilgub Jawa Timur, menjadi ‘serangan’ mengejutkan jelang Pilkada Serentak 2018. Meski demikian, Bendahara La Nyalla, Daniel Hidayat, mengaku hubungan dengan Ketua Umum Gerindra baik-baik saja.

“Saya dan Pak La Nyalla baik-baik saja dengan Gerindra serta Ketua Umum Prabowo. Yang kami permasalahkan adalah oknum dari Gerindra itu yang mencatut nama Prabowo," ungkap Daniel, saat live by phone dalam Redbons Discussion bertajuk ‘Pilkada 2018, Antara Mahar dan Kotak Kosong’ di Kantor Redaksi Okezone, Jakarta Pusat, Selasa (16/1/2018).

"Untuk masalah Jatim ini sudah ada panggilan dari Bawaslu. Nanti kami akan datang,” sambungnya.

(Baca Juga: La Nyalla Ngaku Dimintai Rp40 Miliar, Fadli Zon: Dana Logistik Pilkada)

Menurut dia, oknum tersebut berinisial S dan F dari Partai Gerindra yang menjabat pengurus dan anggota dewan. “Total yang diminta ya miliaran. Kami sudah keluar miliaran. Intinya, banyak oknum-oknum yang mangatsnamakan Partai Gerindra, meminta uang kepada para calon, tetapi itu semua kebohongan belaka. Kami sedang mengumpulkan data dan bukti dan akan kami bawa ke Bawaslu,” jelasnya.

Sementara dalam kesempatan yang sama Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio, mengatakan mahar politik ini merupakan sebuah hal yang sulit ditemukan ujung pangkalnya.

“Menurut saya Rp40 miliar itu kecil untuk Calon Gubernur. Prabowo sudah kasih bocoran, paket hemat Rp300 miliar. Menurut saya itu bukan minta, itu pernyataan jujur dari seorang Prabowo. Anda punya uang tidak? Itu saya yakin itu pembicaraan antara Prabowo dengan calon dengan calon yang elektabilitasnya rendah. Makanya ditanya punya uang tidak? Kalau elektablitasnya tinggi, pasti dicariin uangnya,” ungkap Hendri.

Menurut dia, untuk menjadi seorang pejabat atau pemimpin daerah, rumusnya ada tiga. “Ngetop banget, pinter banget atau kaya banget. Kalau tiga-tiganya enggak ada susah tuh. Katakanlah pinter banget saja, dia mesti cari yang mau sponsorin. Ngetop banget juga gitu. Yang paling enak emang yang kaya banget,” ungkapnya lalu tertawa.

Menurut Hendri, partai politik yang menerapkan sistem mahar hanya untuk mengeluarkan rekomendasi bagi calon kepala daerah memiliki pikiran sempit.

“Kalau mahar yang dimaksud untuk hanya untuk mengelurkan surat rekomendasi, itu tidak tepat. Pertama, parpol seperti itu pemikirannya pendek. Pasti orang-orang itu cuma butuh rekomendasi saja agar mendapatkan perahu untuk Pikkada. Apakah kemudian dia menang? belum tentu. Sekali lagi, kalau dia punya peluang menang, pasti partai politik yang akan mendekati,” urai dia.

(Baca Juga: La Nyalla Berkicau Dimintai Rp40 Miliar oleh Prabowo, Gerindra: Itu Bukan Mahar)

Sebetulnya, kata dia, Indonesia punya sistem bagus, artinya negara mendanai parpol untuk kemudian parpol menyiapkan pemimpin bangsa di kemudian hari.

“Itukan sebuah sistem yang bagus luar biasa. Harusnya tanpa mahar politik hanya untuk mendapatkan rekomendasi, bisa. Tapi kembali lagi, dalam proses kampanye memang harua ada coast yang dikeluarkan, untuk makan saksi, kampanye, cetak kaos dan lain sebagainya,” pungkas Hendri.

Follow Berita Okezone di Google News

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini