Share

Aksi Sodomi 'Semar Mesem' Babeh yang Mengundang Kutukan

Salman Mardira, Okezone · Minggu 07 Januari 2018 15:17 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 07 337 1841338 aksi-sodomi-semar-mesem-babeh-yang-mengundang-kutukan-WAUk1cjD9W.jpg Tersangka kasus sodomi anak, Wawan alias Babeh (tengah) di Polresta Tangerang (Chyntia/Okezone)

KASUS kekerasan seksual terhadap anak-anak terjadi di Kabupaten Tangerang, Banten. Wawan Sutiono alias Babeh (49) diduga telah menyodomi 41 anak. Akibatnya, guru SD honorer dari Kampung Sakem, Desa Tamiang, Kecamatan Gunung Kaler, Tangerang itu kini meringkuk di penjara.

Babeh ditangkap pada 20 Desember 2017 setelah polisi menerima laporan dari orangtua salah satu korban. Kemudian satu-satu korban melapor hingga jadi 25 anak. Belakangan bertambah lagi 41 orang dan 29 di antaranya sudah divisum.

Polresta Tangerang pun membuka posko pengaduan kalau-kalau ada lagi korban yang mau melaporkan.

Kapolresta Tangerang, Kombes Sabilul Alif mengatakan, pelaku sudah beraksi sejak April 2017. Namun, baru terungkap setelah salah seorang korban memberanikan diri menceritakan tindak kekerasan seksual dialami kepada orangtuanya.

"Dari keterangan pelaku, anak-anak memang sering mendatanginya di gubuk yang didirikannya untuk belajar ajian semar mesem yang bisa mengobati penyakit. Syaratnya mereka harus bayar atau mau disodomi," tuturnya pada Kamis 4 Januari 2018.

Ajian semar mesem adalah semacam mantra pelet pengasih yang dipercaya bisa memikat lawan jenis. Babeh diduga menggunakan modus itu sehingga anak-anak tertarik mempelajarinya. Tapi, mereka harus rela disetubuhi “sang guru”.

"Modus yang dilakukan pelaku dengan cara memberikan janji tipu daya bahwa anak-anak akan diberikan kesaktian, ada yang dijanjikan ilmu kebal, kemampuan untuk menarik perhatian lawan jenis sehingga banyak korban yang tertarik,” kata Kapolda Banten, Brigjen Listyo Sigit Prabowo.

Anak-anak lingkungan sekitarnya berdatangan silih berganti ke gubuk Babeh di lahan persawahan Kampung Jawaringan, Desa Sukamanah, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang. Terlebih tersangka mengaku sebagai ustaz yang bisa mengajarkan anak-anak mengaji.

(Baca juga: Begini Ritual Sebelum Babeh Sodomi Bocah-Bocah)

Menurut Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Tangerang, Nadli Rotun, tersangka memang dikenal rajin mengaji.

“Tiap jumatan jam 10 sudah di masjid, sering bantu bersihin masjid dan suaranya dikenal sangat merdu saat mengaji,” kata dia.

Itulah yang membuat anak-anak tertarik datang kepadanya agar diajarkan mengaji dan diberi ilmu pengasih.

Nadli Rotun mengatakan, korban pelecehan seksual Babeh rata-rata berusia 6 sampai 15 tahun. “Semuanya berjenis kelamin laki-laki. Bahkan ada satu keluarga yang tiga anaknya semua menjadi korban sodomi pelaku," ujarnya.

(Baca juga: Mensos Khofifah Kutuk Aksi Babeh Sodomi 41 Anak di Tangerang)

Sebelum disodomi, biasanya korban diminta menelan butiran besi kecil atau gotri agar proses transfer “ilmu kebal” dari tersangka lebih mudah. Akibatnya, para korban mengalami muntah-muntah dan anus mereka berdarah.

"Tiap anak ini paling sedikit itu disodomi sebanyak tiga kali dan sebanyak itu pula gotri ditelan,” ungkap Nadli Rotun.

Kepada polisi, Babeh mengakui kalau modus itu hanya akal-akalannya saja, “biar saya terlihat betul betul seperti orang yang mempunyai ilmu pemikat dan kebal."

Tindakan Babeh terhadap anak-anak mengundang kutukan dan kecaman dari berbagai pihak.

“Kami kecewa terhadap kasus sodomi yang dilakukan seorang guru terhadap anak-anak,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Yohana Yembise seperti dikutip dari Antara.

“Saya meminta agar aparat penegak hukum memberikan hukuman yang berat sesuai tindakan tersangka," lanjutnya.  

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa juga menyayangkan kejadian itu, terlebih pelakunya guru yang notabene adalah ujung tombak pendidikan bangsa.

Maraknya kasus pedofilia, menurut dia, berdampak pada rusaknya tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara karena yang menjadi korban adalah generasi penerus bangsa. Dia meminta tersangka dihukum dengan pemberatan sesuai Perppu 1 tahun 2016 yang telah disahkan menjadi UU Nomor 17 Tahun 2016.

"Saya mengajak para orang tua agar lebih mengenal teknologi. Awasi penggunaan smartphone pada anak. Dampingi anak dan berikan edukasi kepada mereka," tandasnya.

Kementerian Sosial telah menyiapkan rumah aman atau safe house untuk menangani dampak psikis yang dialami 41 anak korban sodomi Babeh. Tim pekerja sosial dan konselor juga telah diterjunkan ke lokasi untuk memahami dan mempelajari (assessment) kondisi para korban sehingga bisa dilakukan penangan pemulihan.

"Jika diperlukan dan keluarga mengizinkan nantinya korban bisa mendapatkan layanan psikososial di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) milik Kementerian Sosial di Bambu Apus, Jakarta Timur," ujar Khofifah.

Khofifah menjelaskan, selain melakukan assessment, tim yang telah diterjunkan ke lokasi juga memberikan pendampingan dan advokasi sosial, membantu proses pemulihan dan perubahan perilaku anak, memberikan pertimbangan kepada aparat penegak hukum untuk penanganan rehabilitasi sosial anak.

"Pendampingan psikososial akan diberikan karena seluruh korban sangat besar kemungkinan mengalami trauma psikis," tuturnya.

(Baca juga: KPAI Minta Babeh Penyodomi 41 Anak Dihukum Kebiri)

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ai Maryati Solihah mengatakan, Babeh (49) layak dijatuhi hukuman kebiri disertai pemasangan chip dan diumumkan ke ruang publik, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014.

Dia menyesalkan kasus pencabulan tersebut, karena telah menambah deretan panjang kekerasan terhadap anak yang terjadi di Indonesia. Sepanjang 2017, KPAI mencatat ada 116 kasus kekerasan terhadap anak.

Direktur Eksekutif Pusat Lembaga Kajian Kepolisian (Lemkapi), Edi Hasibuan meminta agar tersangka sodomi tersebut diberikan hukuman seberat-beratnya.

(Baca juga: Motif si Babeh Sodomi 41 Anak)

Namun, pengamat sosial, Intan Erlitan mengatakan, Babeh harus dihukum seumur hidup atas perbuatannya diduga menyodomi 41 bocah, agar memberikan efek jera sekaligus pelajaran bagi yang lain agar tak melakukan kejahatan serupa.

Menurutnya, Pasal 82 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan hukuman penjara maksimal 15 tahun seperti dijerat polisi kepada Babeh, belum memberi keadilan bagi korban.

“Harusnya diberikan hukuman seumur hidup karena efeknya yang melekat seumur hidup di para korban," ujar Intan.

‎Selain hukuman pidana, menurut Intan, tersangka maupun korban juga harus ditangani ahli kejiwaan.

“Pelaku sudah jelas ada masalah dalam kejiwaan, mempunyai perilaku seksual menyimpang. Bagi para korban, harus (segera) ditangani lebih serius karena pasti mereka mengalami cemas, trauma dan ketakutan. Belum lagi sanksi sosial dari penilaian masyarakat," imbuhnya.

 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini