Share

Kampanye Celup yang Heboh di Medsos Berpotensi Buka Aib Orang

Silvia Rahmatina, · Senin 01 Januari 2018 13:11 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 01 337 1838422 kampanye-celup-yang-heboh-di-medsos-berpotensi-buka-aib-orang-lbE4VNFXLK.jpg Kampanye Celup (Istimewa)

JAKARTA – Kampanye sosial cekrek, lapor, upload (Celup) yang mengajak orang melaporkan tindak asusila di tempat umum sempat heboh di media sosial. Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar menilai, kampanye Celup berpotensi membuka aib orang lain sehingga tidak etis.

“Kita tidak diperkenankan untuk membuka aib seseorang, karena itu merupakan hak privasi setiap orang,” kata Musni kepada Okezone, akhir pekan lalu.

Kampanye Celup yang sempat viral di media sosial digagas mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) UPN Veteran Surabaya, Jawa Timur.

Lewat kampanye ini masyarakat diajak untuk melaporkan tindakan asusila di ruang publik, seperti taman, bioskop, dan lainnya. Masyarakat bisa melaporkannya melalui official account LINE atau instagram @cekrek.lapor.upload dan akan mendapat poin serta hadiah.

Karena menimbulkan kontroversi, akun itu akhirnya menghilang dari internet.

Musni Umar menilai, Celup juga berpotensi menyeret pelaku dipidana dengan Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) maupun tuduhan pencemaran nama baik, karena dianggap mengumbar aib.

“Pertama, yang melakukan atau turut melakukan bisa kenai UU ITE atau KUHP tentang pencemaran nama baik. Kedua, agama apa pun melarang untuk membuka aib seseorang karena kebaikan seseorang bisa pupus akibat keburukannya dibuka di media sosial atau di khalayak ramai,” ujarnya.

“Ketiga, adat istiadat masyarakat Indonesia yang bersumber dari ajaran agama tidak menyukai jika seseorang atau banyak orang dibuka aibnya di publik. Keempat, masyarakat sejatinya tidak menyukai buka aib seseorang di hadapan publik,” papar wakil rektor Universitas Ibnu Chaldun ini.

Menurutnya sekarang ada perubahan dalam kehidupan bermasyarakat mengingat kegiatan mempublikasikan aib seseorang melalui foto atau video di media sosial telah menjadi semacam tren.

“Masyarakat saat ini yang menyukai menyukai gosip, tidak jarang membuka aib sendiri demi mendapatkan atau mempertahankan popularitas yang mulai redup,” tambahnya.

Musni mengingatkan, semua orang harus bijak dalam menggunakan internet, agar tidak terbawa tren yang dapat merugikan orang lain. Ia juga mengingatkan, ada tiga hal yang perlu diwaspadai masyarakat pengguna internet.

“Pertama, jangan meng-upload atau menyebarkan berita yang bernada fitnah, mencemarkan nama seseorang, menista dan memaki-maki. Kedua, jangan mengumbar tulisan kebencian di media sosial yang menyinggung seseorang. Ketiga, teruslah menulis hal-hal yang baik. Jika tidak bisa, maka lebih baik diam,” tutupnya.

 

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini