Pulau Jawa dan Aceh Paling Banyak Dilanda Bencana di 2017, Kerugian Capai Triliunan Rupiah

Salman Mardira, Okezone · Jum'at 29 Desember 2017 18:17 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 29 337 1837575 pulau-jawa-dan-aceh-paling-banyak-dilanda-bencana-di-2017-kerugian-capai-triliunan-rupiah-A9OQX6qtQ4.jpg Banjir merendam desa-desa di Pacitan, Jawa Timur, Rabu 29 November 2017 (Destyan/Antara)

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat Indonesia dilanda 2.341 bencana alam sepanjang 2017 yang mengakibatkan 377 orang meninggal dan hilang. Bencana paling banyak terjadi di Pulau Jawa.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, sebaran bencana daerah paling banyak terjadi di Jawa Tengah yakni 600 kejadian. Disusul Jawa Timur 419 kali dan Jawa Barat 316 kali. Aceh 89 kejadian dan Kalimantan Selatan 57 kali.

“Sedangkan untuk kabupaten/kota, daerah yang paling banyak terjadi bencana adalah Kabupaten Bogor 79 kali, Cilacap (72), Ponorogo (50), Temanggung (46), dan Banyumas (45),” kata Sutopo dalam keterangan tertulisnya kepada Okezone, Jumat (29/12/2017).

Kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan akibat bencana mencapai puluhan triliun rupiah. “Hingga saat ini masih dilakukan perhitungan dampak dari bencana,” ujarnya.

Kerugian ekonomi paling besar akibat bencana selama 2017 adalah dampak dari peningkatan aktivitas vulkanis dan erupsi Gunung Agung di Bali. Penetapan status Awas pada September 2017 yang kemudian terjadi erupsi Gunung Agung pada 26-30 November 2017 telah menyebabkan kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp11 triliun.

“Kerugian ini sebagian besar berasal dari kredit macet masyarakat yang harus mengungsi dan dari sektor pariwisata. Menteri Pariwisata menyatakan kerugian di sektor pariwisata di Bali mencapai Rp9 triliun dari dampak erupsi Gunung Agung,” tutur Sutopo.

Banjir di Jombang, Jawa Timur (Zen Arivin/Okezone)

Beberapa kerusakan dan kerugian akibat bencana yang terjadi pada 2017 antara lain adalah banjir dan tanah longsor pengaruh Siklon Tropis Cempaka sekira Rp1,13 trilyun, banjir Belitung Rp338 milyar, banjir dan longsor di Lima Puluh Koto Rp253 milyar, longsor Cianjur Rp 68 miliar dan lainnya.

“Tentu saja bencana ini banyak berpengaruh pada masyarakat yang terdampak. Bencana memerosotkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” kata Sutopo.

Apalagi bagi masyarakat yang mengalami bencana berulang, seperti banjir di daerah Dayeuhkolot, Baleendah dan sekitar Sungai Citarum banjir melanda masyarakat sekitar 10-15 kali setahun.

(Baca juga: BMKG: Indonesia Diguncang 6.893 Kali Gempa Sepanjang 2017)

“Begitu juga bagi masyarakat di sekitar Sungai Bengawan Solo, Sungai Kemuning di Madura dan lainnya yang terlanda banjir berulang. Lahan pertanian yang terendam banjir menyebabkan gagal panen,” sebut Sutopo.

Gunung Agung di Bali erupsi (Antara)

“Petani menanam padi dengan modal hutang, yang akhirnya tidak mampu membayar hutang. Petani terpaksa hutang lagi untuk modal menanam padi berikutnya. Begitu juga masyarakat yang terkena bencana, harta miliknya hilang sehingga jatuh miskin dan memerlukan bantuan,” lanjutnya.

Indonesia yang berada di kawasan cincin api, menurut dia, adalah laboratorium bencana, bukan super market bencana.

(Baca juga: 3 Orang Tewas Akibat Gempa 6,9 SR di Tasikmalaya)

“Untuk itulah sudah seharusnya kita harus siap menghadapi bencana. Bencana adalah keniscayaan. Besar kecilnya bencana sangat ditentukan oleh alam. Pengaruh manusia begitu dominan merusak alam, meningkatkan kerusakan hutan, degradasi lahan, kerusakan lingkungan, DAS kritis dan lainnya telah makin memicu terjadinya bencana,” jelasnya.

“Untuk itulah, pengurangan risiko bencana harus menjadi mainstream dalam pembangunan di semua sektor. Pengurangan risiko bencana menjadi investasi pembangunan untuk kita dan generasi mendatang,” pungkasnya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini