Share

Teror Novel Baswedan dan Pelakunya yang Masih Misteri

Rachmat Fahzry, Okezone · Kamis 28 Desember 2017 08:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 27 337 1836418 teror-novel-baswedan-dan-pelakunya-yang-masih-misteri-97U8ZbfAWD.jpg Novel Baswedan. Foto Antara/Monalisa

11 APRIL 2017, sekira pukul 05.10 WIB, penyidik senior Novel Baswedan baru saja pulang usai melaksanakan ibadah salat Subuh berjamaah di Masjid Al Ikhsan. Masjid itu berada 30 meter dari rumahnya di wilayah Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Belum sampai di kediaman, Novel dihampiri dua orang yang menaiki sepeda motor. Tanpa menghentikan laju kendaraannya, orang yang dibonceng menyiramkan cairan ke arah Novel. Belakangan diketahui, cairan itu adalah air keras. Novel terluka di bagian dahi dan mata kirinya.

Musibah yang menimpa Novel ini menjadi salah satu peristiwa yang paling mendapat perhatian sepanjang 2017. Peran jenderal, pelaku seorang profesional hingga keterlibatan anggota DPR dan Ketua DPR mengisi kasus yang dikenal dengan “Teror Air Keras Novel” ini.

Spekulasi bermunculan mengenai motif pelaku menyerang Novel. Yang paling disorot yakni kasus korupsi pengadaan proyek e-KTP yang ditangani Novel. Kasus tersebut merugikan negara sebesar Rp23 triliun serta sejumlah anggota DPR diduga menerima aliran dananya.

Sudah Enam Bulan Kasus Penyerangan Penyidik KPK Novel Baswedan Belum Terungkap

Sebulan sebelum penyiraman, anggota Komisi II DPR Fraksi Hanura Miryam S dalam sidang e-KTP mengatakan bahwa Novel salah satu dari tiga penyidik KPK melakukan penekanan terhadap dirinya.

Novel, pada sidang selanjutnya, menerangkan mekanisme yang dilakukan penyidik KPK. Novel menyebut Miryam S Haryani mendapat ancaman dari sesama koleganya di DPR.

“Dia menyebut nama Bambang Soesatyo dan beberapa anggota partai politik seperti Aziz Syamsuddin, Desmond Mahesa, Masinton Pasaribu, dan beberapa orang lainnya."

Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo juga berpendapat hal yang sama. "Diduga kuat aksi serangan terhadap Novel kali ini berkaitan erat dengan kasus korupsi E-KTP yang tengah diusut KPK."

Peran Jenderal

Mei 2017, Polda Metro Jaya menahan seorang berinisial AL yang diduga sebagai salah satu pelaku penyiraman. Namun, tak sampai 1x24 jam diperiksa, AL dilepas karena kepolisian tak punya cukup bukti untuk menahan AL.

Polisi menjelaskan, kasus penyiraman teror air keras Novel sangat sulit karena pelaku menggunakan helm saat melakukan aksi dan situasi yang gelap. Ditambah, tempat kejadian perkara tidak terdapat kamera CCTV. Polisi hanya bermodalkan kesaksian korban.

Sementara Novel terus menjalani perawtan di salah satu rumah sakit yang berada di Singapura. Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan, "Agar mendapatkan terapi yang lebih baik, kita merujuk Novel ke Singapura.”

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Novel semenjak dirawat di Singapura tak pernah mengeluarkan pernyataan. Ia hanya menjelaskan perkembangan matanya. Itu pun disampaikan melalui keluarga.

Baru pada 15 Juni, Novel mengungkapkan bahwa ada "orang kuat" yang menjadi dalang serangan itu. Bahkan, dia mendapat informasi bahwa seorang jenderal polisi ikut terlibat.

"Saya memang mendapat informasi bahwa seorang jenderal polisi terlibat," kata Novel ketika diwawancara majalah Times.

Tak sampai sebulan usai Novel membeberkan ada peran jenderal, polisi membuat sketsa wajah satu dari dua terduga pelaku.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan, sketsa dibuat berdasarkan dua orang yang melihat orang mencurigakan di masjid dekat rumah Novel. Orang itu diduga kuat pengendara motor yang terlibat penyiraman air keras kepada Novel.

Ini Dia Sketsa Wajah Pelaku Penyerang Novel Baswedan

Pelaku berjenis kelamin laki-laki, berusia sekitar 35 tahun, dengan tinggi badan kurang lebih 167 cm. Pelaku memiliki wajah bulat dengan kulit sawo matang dan berambut ikal keriting pendek.

Pengungkapan sketsa berujung pemanggilan Tito oleh Presiden Joko Widodo. Pada pertemuan itu, Tito menjelaskan bahwa Tim pencari fakta belum diperlukan karena kepolisian masih dipercaya oleh Presiden untuk menangani kasus ini sampai tuntas.

Kepolisian kemudian bergerak untuk mewawancari Novel di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura. Namun, dalam wawancara itu, Novel menolak untuk mengungkap siapa jenderal polisi yang diduga memiliki peran dalam kasus penyiraman air keras.

Novel menyatakan hanya membuka nama sang jenderal kepada suatu tim gabungan pencari fakta.

"Yang bersangkutan sudah saya tanya, jawabannya ‘belum saatnya saya sampaikan,’" kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Argo Prabowo Yuwono, awal Agustus 2017.

Novel dilaporkan

Masih di bulan Agustus, Novel kembali berurusan penyidik. Muasalnya karena surel yang dikirimkannya kepada Direktur Penyidikan (Dirdik) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Brigjen Aris Budiman, dinilai si penerima telah melewati batas dan cenderung fitnah.

Aris mengatakan, ‎”Pada saat itu terjadi dikirimkan email kepada saya. Saya baca, saya sangat tersinggung. Tentu saya marah, merasa terhina, tapi saya berusaha tenang.”

Ia kemudian menindaklanjuti masalah ini kepada pimpinannya. Namun demikian, tidak ada respon positif dari pimpinan KPK terhadap laporannya itu. Kasus ini kemudian menguap karena inisiasi dari pimpinan KPK.

Novel kemudian dipolisikan kembali dengan tuduhan pencemaran nama baik. Kali ini laporan itu dilayangkan Wakil Direktur Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bareskrim Polri sekaligus mantan penyidik KPK, Kombes Erwanto Kurniadi.

"Iya betul, ada laporan dari yang bersangkutan (Erwanto Kurniadi) masuk ke kita," jelas Argo medio September. 

Laporan Erwanto diterima polisi dalam Nomor LP/4198/IX/2017/PMJ/Dit. Reskrimsus tertanggal 5 September 2017. Erwanto mempersoalkan pernyataan Novel Baswedan yang menganggap penyidik KPK yang berasal dari Polri memiliki integritas rendah.

"Korban (pelapor) yang pernah ditugaskan di KPK sebagai penyidik merasa bahwa keterangan Novel sangat melukai kehormatan dan merupakan fitnah yang keji terhadap korban dan juga anggota Polri lain yang pernah bertugas di KPK," beber Argo.

Sketsa kembali dibuat

Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis merilis dua sketsa wajah baru terduga pelaku penyiraman air keras Novel Baswedan. Sketsa itu dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan 66 saksi yang bekerjasama dengan Australian Federal Police (AFP) dan Pusat Inafis Polri.

Dalam sketsa yang dipaparkan Idham Aziz kepada awak media di gedung KPK berciri-ciri, pria bermbut cepak, dan berkulit gelap. Sementara satu terduga lainnya, berambung panjang dan berkulit putih.

Idham mengaku penyidiknya mendapat informasi seorang terduga pelaku penyerang Novel ‎Baswedan dari seorang saksi berinisial SN. Namun demikian, pejabat polisi nomor satu di Jakarta tersebut tidak merincikan inisial SN itu.

"Mungkin saya ingin memberikan gambaran rekan-rekan, yang pertama itu kita ketahui dari saksi S. Dan kedua, kita dapat info dari SN,"katanya.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah juga memastikan bahwa saksi SN yang memberikan informasi kepada penyidik Polri bukan Setya Novanto, tersangka korupsi proyek pengadaan e-KTP.

"Bukan (Setya Novanto). Dari informasi yang saya terima itu orang yang berbeda," singkat Febri.

Keluarga Berharap Pemerintah Tuntaskan Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan

Pakar Hukum dari Universitas Al Azhar, Suparji Ahmad menilai kepolisian perlu membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TNGF) untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Menurutnya, jika kasus ini didiamkan terlalu lama, barang bukti bisa ikut menghilang.

“Harus ada pembentukan TNGF. Itu tidak bisa begitu saja di diamkan lama-lama. Kenapa sampai begitu lamanya proses ini berlangsung. Saya kira harus ada pembentukan tim itu. Agar ini bisa menjadi clear semua,” ungkap Supadji pada Okezone.

Aksi Dukung KPK Terkait Teror Terhadap Novel Baswedan

Kasus penyiraman air keras Novel Baswedan sudah terbengkalai selama 8 bulan. Suparji menyebut meski kasus Novel sudah berjalan lama, proses penanganan hukumnya masih tetap bisa dilakukan dengan prosedur yang ada.

“Untuk proses perkara hukum tidak ada kadaluarsa dan kurun waktunya bisa mencapai belasan tahun. Hanya saja dibutuhkan keseriusan dalam menangani kasus ini,” tandasnya.

Ketua Umum PP Pemuda Muhamadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak saat menggelar diskusi bertajuk 'Catatan akhir tahun 2017: Satu tahun politik anti korupsi pemerintahan Jokowi' menyampaikan, operasi penanaman selaput mata, Novel kembali dijadwalkan akan melakukan operasi pada 1 Februari 2018.

“Beberapa minggu lalu Novel melakukan operasi penanaman selaput di mata sebelah kiri dan pertumbuhannya positif insya Allah 1 Februari akan operasi kembali."

"Tapi belum tau apakah lebih cepat atau lebih lambat tergantung pertumbuhan selaput (mata) kalau iya akan ada penanaman korena ke mata Novel, dan kalau lancar Maret sudah bisa kembali," tuturnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini