Menhan: Ada 2 Dimensi Ancaman yang Akan Dihadapi Negara

Prabowo, Okezone · Selasa 19 Desember 2017 16:57 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 19 337 1833019 menhan-ada-2-dimensi-ancaman-yang-akan-dihadapi-negara-eSJwWJMLu7.jpg Menhan, Ryamizard di seminar UGM (foto: Ist)

YOGYAKARTA - Menteri Pertahahan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menyebut ada dua jenis dimensi ancaman yang akan dihadapi oleh Indonesia, yaitu perang terbuka atau konvensional serta ancaman terorisme dan radikalisme.

Hal itu dikatakan Menhan menghadiri seminar nasional bela negara dies natalis ke-68 Universitas Gadjah Mada ( UGM) Yogyakarta, Selasa (19/12/2017).

"Perang Terbuka atau konvensional antar negara saat ini mungkin saja terjadi. Meskipun, ancaman ini terbilang masih sangat kecil. Tetapi, tetap harus dipersiapkan karena sewaktu-waktu dapat berubah menjadi ancaman nyata apabila Keutuhan dan Kedaulatan serta keselamatan Bangsa dan Negara terganggu dan diserang," tegas Menhan.

Lalu, sambung dia, ancaman terorisme dan radikalisme, separatisme dan pemberontakan bersenjata, bencana alam dan lingkungan, merupakan ancaman nyata yang saat ini sedang dihadapi oleh Tanah Air.

"Pelanggaran wilayah perbatasan, perompakan dan pencurian sumber daya alam, wabah penyakit, perang siber dan intelijen serta peredaran dan penyalahgunaan narkoba harus kita waspadai," sambungnya.

Selain ancaman fisik tersebut, kata Menhan, Indonesia juga akan menghadapi ancaman non-fisik yang dampaknya akan lebih besar. Ancaman dan tantangan tersebut berupa serangan ideologis dengan kekuatan “soft power” yang berupaya untuk merusak “mindset” dan jati diri bangsa Indonesia.

Serangan Ideologis inilah, tegas Menhan, yang sering disebut dengan istilah perang modern atau istilah saat ini proxy war, jenis perang baru tanpa perlu berhadapan secara fisik.

"Mereka melalui upaya sistemik guna melemahkan dan menghancurkan benteng ideologi suatu bangsa," bebernya.

Menhan pun menekankan guna menghadapi potensi ancaman-ancaman tersebut di atas diperlukan adanya wawasan kebangsaan yang kuat dari seluruh rakyat Indonesia agar tidak mudah dipengaruhi dan terprovokasi oleh upaya pencucian otak dari kelompok tertentu.

Oleh Karena itu, kata Menhan, dirinya telah mendesain strategi pertahanan Negara dengan mengedepankan nilai-nilai perjuangan yang lahir dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia yaitu perjuangan yang menerapkan konsep perang rakyat semesta yang didukung oleh kekuatan TNI beserta alutsistanya.

"Strategi Pertahanan tersebut merupakan strategi perang khas Indonesia yang telah menghantarkan bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya, dan menjadikannya suatu Negara-Bangsa yang sejajar dengan bangsa-bangsa merdeka lainnya di dunia," jelas Menhan. 

Selain itu, Menhan juga menyebut, kesadaran bela Negara juga sangat Penting dalam upaya memerangi hal tersebut selaras dengan perang melawan kemiskinan dan kebodohan.

Dengan kesadaran bela Negara yang tinggi maka akan dihasilkan warga negara Indonesia yang mengenal jati diri dan amanahnya bagi bangsa dan negara ini.

"Dengan demikian seluruh warga negara akan berupaya untuk terus belajar dan berkarya bahu membahu untuk membangun bangsa dan negaranya," pungkasnya.

Diketahui, seminar nasional bela negara dies natalis ke-68 Universitas Gadjah Mada ( UGM) Yogyakarta dihadiri oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Ditjen Polpum) Kemendagri, Mayjen Soedarmo, dan Civitas-Civitas Akademika UGM.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini