Gelar Maulid Kebangsaan, Fatayat NU Ajak Umat Doakan Palestina

Fahreza Rizky, Okezone · Sabtu 16 Desember 2017 16:48 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 16 337 1831380 gelar-maulid-kebangsaan-fatayat-nu-ajak-umat-doakan-palestina-sP5tGMVmwb.jpg Maulid kebangsaan Fatayat NU (Fahreza/Okezone)

JAKARTA - Fatayat Nahdatul Ulama (NU) menggelar Maulid Kebangsaan di Gedung PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat. Mereka ikut mengecam sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yarusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Maulid turut dihadiri Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum Fatayat NU Anggia Ermarini dan penyanyi religi Hadad Alwi.

Dalam sambutannya, Anggia mengatakan acara ini digelar untuk menyampaikan pesan bahwa dahulu Nabi Muhammad berjuang tidak hanya untuk misi penyebaran agama Islam saja, tetapi juga untuk memersatukan bangsa dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman.

Anggia menuturkan, Nabi Muhammad kala itu di Madinah selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang egaliter dengan melibatkan berbagai pihak untuk merancang sebuah komitmen bersama demi terciptanya perdamaian suatu bangsa.

"Karena ketika satu negara berkembang dalam kondisi ysng stabil dan aman, maka dapat dipastikan kualitas kehidupan masyarakatnya juga terjamin dengan baik," kata Anggia, Sabtu (16/12/2017).

Terkait dengan maraknya aksi penolakan dunia atas sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara sepihak melegitimasi Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Anggia berpendapat bahwa AS telah melanggar kesepakatan dunia yang dapat memicu konflik bekerpanjangan.

"Yerusalem sudah diakui oleh PBB dan dunia sebagai ibu kota dari Palestina dan dianggap sebagai Kota Suci oleh tiga agama, maka ketika Trump bersikap sepihak sepertinya ini sama saja dia siap menantang dunia," tegasnya.

Anggia menuturkan, potensi konflik yang berkepanjangan antara Israel dan Palestina semakin memperburuk kondisi masyarakat Palestina, terutama bagi perempuan dan anak yang sudah banyak sekali menjadi korban.

Di samping itu, ironi sekali ketika AS terus mengklaim diri sebagai sebuah negara demokratis namun ternyata sama sekali tidak menunjukkan itikad baik atas perdamaian Israel-Palestina dan justru memicu konflik global dengan pengakuan sepihaknya.

Padahal, pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Palestina sudah tercatat dalam Resolusi DK-PBB Nomor 252 pada 21 Mei 1968 hingga resolusi Nomor 2334 pada 23 Desember 2016.

"Masalah Palestina jangan lagi dipetakan atau dianggap sebagai masalah keyakinan dan agama tetapi masalah ini sudah jauh melampaui soal kemanusiaan," tutur Anggia.

Dalam momentum ini, Anggia juga meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi atas isu atau berita yang tidak bertanggung jawab. Dia juga menyerukan kepada seluruh jajaran Fatayat NU untuk terus memberi dukungan kepada negara dan rakyat Palestina melalui doa dan dukungan moral lainnya.

 

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini