Share

Setya Novanto dalam Bayang-Bayang Jeruji Penjara

Arief Setyadi , Okezone · Sabtu 16 Desember 2017 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 16 337 1831224 setya-novanto-dalam-bayang-bayang-jeruji-penjara-LYfDKyvjgg.jpg Setya Novanto saat menjalani pemeriksaan di KPK (Foto: Antara)

“KPK menetapkan saudara SN, anggota DPR periode 2009-2014 sebagai tersangka,” ujar Ketua KPK Agus Rahardjo saat mengumumkan penetapan Setya Novanto sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan proyek e-KTP tahun anggaran 2011-2013 pada 17 Juli 2017.

Hari itu pertama kalinya Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka korupsi yang merugikan negara Rp2,3 triliun. Kicuan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin yang menyebut Setya Novanto bak ‘sinterklas’ karena kerap bagi-bagi duit ‘panas’ seakan menemukan jalannya.

Setya Novanto yang ketika itu menjabat Ketua Fraksi Golkar disangka melanggar Pasal 3 atau Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korups Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

(Baca: KPK Tetapkan Setya Novanto Tersangka Baru Korupsi E-KTP)

E-KTP, bukanlah rekam kisah Setya Novanto pertama dalam bayang-bayang kasus hukum. Ia kerap kali dikaitkan dalam perkara rasuah. Hingga, ungkapan Setya Novanto licin bak belut kian mengemuka, karena seiring waktu berjalan tak ada satu pun kasus hukum yang bisa menyentuhnya. Hingga proyek senilai Rp5,9 triliun itu berhasil diselisik KPK untuk menyeret Setya Novanto dalam pusaran hukum.

Berbagai Ekspresi Setya Novanto pada Sidang Perdana di Pengadilan Tipikor

Dugaan keterlibatan Setya Novanto dalam perkara tersebut sudah terungkap ke publik dalam persidangan para terdakwa yang lebih dulu diseret KPK ke ‘meja hijau’. Sebut saja eks Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Irman dan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Sugiharto.

Keduanya telah divonis, Irman 7 tahun penjara dan diwajibkan membayar denda Rp500 juta subside 6 bulan kurungan. Sedangkan Sugiharto divonis 5 tahun penjara dan diwajibkan membayar denda Rp400 juta subside 6 bulan kurungan.

(Baca juga: Sidang Korupsi E-KTP, 2 Mantan Pejabat Kemendagri Divonis Penjara 7 dan 5 Tahun)

Begitu pula dalam persidangan Andi Agustinus alias Andi Narogong, terdakwa e-KTP ketiga yang berhasil diusut KPK. Di persidangan e-KTP berbagai fakta persidangan mencuat, mulai dari kesaksian Nazaruddin yang menyebut Setya Novanto mendapatkan komisi USD500 ribu, hingga disebut sebagai ‘kunci’ dari proyek ‘panas’ itu.

Pada dakwaan Andi Narogong disebutkan Jaksa Penuntut dari KPK bahwa terdakwa membagi-bagikan uang proyek e-KTP di ruang kerja Setya Novanto di lantai 12 Gedung DPR, Senayan, Jakarta kepada sejumlah wakil rakyat agar memuluskan proses penganggaran.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Berlanjut ke sidang tuntutan Andi Narogong, 7 Desember 2017, nama Setya Novanto kembali disebut ikut menikmati keuntungan dari proyek tersebut senilai USD7 juta dan sebuah jam tangan merek Richard Mille RM 011 senilai USD135 ribu.

Prahara pencabutan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) mantan anggota Komisi II DPR Miryam S Haryani juga nyaris memutus mata rantai kasus e-KTP. Sepenggal BAP yang dicabut mengenai keterangan Miryam yang mengaku pada 2010 pernah diminta Chairuman Harahap, Ganjar Pranowo, Taufik Effendi, serta Teguh Juwarno untuk mengkordinir duit dari Dukcapil Kemendagri.

Berbagai Ekspresi Setya Novanto pada Sidang Perdana di Pengadilan Tipikor

Kemudian pada 2011-nya, Miryam kembali mengungkapkan bahwa dirinya pernah menerima amplop dari Sugiharto senilai Rp1 miliar untuk kemudian dibagikan ke seluruh Komisi II. Namun, Miryam mencabut keterangan tersebut karena merasa di bawah ancaman penyidik saat memberikan pernyataan tersebut.

Sejalan dengan itu, penyidik KPK Novel Baswedan dihadirkan ke persidangan dan membantah pernyataan Miryam. Novel justru menyebut Miryam yang berada di bawah ancaman, hingga mencabut keterangannya.

Orang-orang yang disebut mengancam Miryam, seperti Bambang Soesatyo, Azis Syamsuddin, Masinton Pasaribu, Desmond J Mahesa, hingga Sarifuddin. N amun, mereka kompak membantah keterangan Novel.

Belakangan Miryam pun ditersangkakan dalam kasus pemberian keterangan palsu, dan kini mantan politikus Hanura itu sudah resmi menerima vonis 5 tahun penjara dengan denda Rp200 juta subsider 3 bulan kurungan.

Sakit Di-{Bully} hingga Jadi Tersangka Lagi

Setya Novanto orang sakti, demikian dikatakan koleganya di parlemen Fahri Hamzah mungkin tepat bila dikatakan dalam konteks ini. Setya Novanto membuktikan kesaktiannya dengan mendaftarkan praperadilan atas penetapannya sebagai tersangka oleh KPK pada 4 September 2017 ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel).

Gugatan Setya Novanto atas penetapan status tersangkanya oleh KPK itu terdaftar dengan Nomor 97/Pid.Prap/2017/PN Jak.Sel.

Praperadilan Setya Novanto jilid I terbilang penuh drama, karena dirinya seakan menggunakan berbagai strategi untuk bisa menuntaskan perlawanan hukumnya dengan mulus. Salah satunya, ia kerap menghindar dari pemanggilan KPK yang kala itu tengah mengebut proses penyidikan kasus e-KTP.

Pria yang pernah tersangkut perkara ‘Papa Minta Saham’ itu dikabarkan jatuh sakit. Sekjen Golkar Idrus Marham pun diutus mengantarkan surat medis, bahwa Setya Novanto sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Siloam lantaran gula darahnya naik akibat berolahraga.

Sehari kemudian, 12 September, kolega Setya Novanto seperti Fadli Zon juga mendatangi KPK untuk menyampaikan surat agar KPK menunda proses penyidikan hingga praperadilan yang dilayangkannya diputus hakim.

Kali Ini Setya Novanto Diperiksa Terkait Kecelakaan Lalu Lintas yang Menimpanya

KPK menolak, dan justru menjadwal ulang pemanggilan Setya Novanto.Lagi-lagi Setya Novanto tak datang, karena kondisi kesehatannya memburuk dan harus menjalani kateterisasi jantung di RS Premier Jatinegara, Jakarta Timur.

Sakitnya suami dari Deista Astriani Tagor itu pelak membuat publik menaruh kecurigaan. Ditambah ketika beredarnya foto Setya Novanto sedang terbaring di rumah sakit dan dijenguk koleganya di partai berlambang beringin Endang Srikarti Handayani menjadi viral.

Foto tersebut ramai menjadi perbincangan publik jagat maya, mulai dari menganalisa perangkat medis yang menempel di tubuh Setya Novanto hingga dijadikan sebuah meme yang berujung pada olok-olokan.

Seakan acuh pada kondisi tersebut, Cepi Iskandar, Hakim Tunggal Praperadilan Setya Novanto memenangkan gugatannya, pada 29 September. Setya Novanto pun kembali bisa bernapas lega lantaran statusnya sebagai tersangka kasus e-KTP oleh KPK dinyatakan gugur.

"Hakim praperadilan berkesimpulan bahwa penetapan yang dilakukan termohon untuk menetapkan pemohon sebagai tersangka tidak didasarkan kepada prosedur dan tata cara ketentuan perundang-undangan tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, KUHAP dan SOP KPK," kata Cepi saat membacakan putusan.

Seiring berjalan waktu, Setya Novanto pun ‘gerah’, bully terhadap dirinya semakin liar hingga melalui kuasa hukumnya, Fredrich Yunadi mempolisikan orang-orang yang dianggapnya melakukan pencemaran nama baik ke Bareskrim Polri, Rabu 1 November. Sementara bully terhadap Setya Novanto belum usai, KPK terus bermanuver untuk kembali menjeratnya dalam perkara yang merugikan Negara senilai Rp2,3 triliun itu.

Ketok palu hakim Cepi bak obat mujarab, sebab Setya Novanto mendadak sehat usai putusan praperadilan memenangkan dirinya. Setya Novanto yang sebelumnya tak pernah terlihat dalam berbagai kesempatan di parlemen maupun kegiatan Golkar, kini sudah berani menampakan diri.


Kegaduhan baru pun muncul tatkala bocornya surat perintah penyidikan (sprindik) ke publik pada 6 November. Kubu Setya Novanto kalang kabut langsung beramai-ramai menegaskan bahwa sprindik tersebut hoax. Bahkan, pengacaranya mengancam akan membawa ke pengadilan HAM internasional bila Setya Novanto kembali ditetapkan sebagai tersangka.

Beberapa hari bungkam atas sprindik bocor tersebut, KPK justru pada 10 November resmi kembali mengumumkan Setya Novanto sebagai tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP pada 10 November. Tak mau buang waktu, KPK langsung menjadwalkan pemanggilan terhadap Setya Novanto.

Setya Novanto Masih Pucat di Pemeriksaan Kedua Kasus KTP Elektronik

Setiap pemanggilan pun diacuhkan Setya Novanto, dengan berbagai alasan. Mulai dari sedang sakit hingga melaksanakan tugas sebagai wakil rakyat. Seolah tak ingin dibodoh-bodohi, KPK melancarkan operasi penjemputan paksa ke kediaman Setya Novanto di Jalan Wijaya XIII, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 15 November malam.

Kekecewaan pun didapat, KPK tak menemukan Setya Novanto di rumah megahnya itu. Menolak pulang dengan tangan kosong, KPK menyita sejumlah barang, mulai dari dokumen penting hingga rekaman CCTV rumah Setya Novanto.

KPK pun segera berkoordinasi dengan kepolisian untuk menetapkan Setya Novanto sebagai buron dan menyertakannya dalam daftar pencarian orang (DPO). Lagi-lagi, hilangnya Setya Novanto menarikan perhatian jagat maya, hashtag #Indonesiamencaripapa menjadi trending topic Twitter.

Kepala Setya Novanto pun dihargai Rp10 juta bagi yang bisa menemukan oleh Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) dalam sebuah sayembara.Sayangnya, Setya Novanto terburu memunculkan batang hidungnya dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun televisi swasta dan menyatakan akan memenuhi panggilan KPK, pada 16 November.

Kali Ini Setya Novanto Diperiksa Terkait Kecelakaan Lalu Lintas yang Menimpanya

Drama baru muncul ketika dalam perjalanan menuju KPK, Setya Novanto mengalami kecelakaan tunggal di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan. Mobil Toyota Fortuner yang ditumpanginya ringsek di bagian depan setelah menabrak tiang listrik, yang belakangan diketahui adalah tiang lampu PJU. Setya Novanto pun dilarikan ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau.

Pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi pun mengabarkan, bahwa kliennya mengalami kecelakaan parah, hingga menyebut kepala kliennya itu benjol seperti bakpao, yang kemudian viral di jagat maya. Lagi-lagi, bully-an menimpa Setya Novanto, mulai dari meme ‘kepala bakpao’hingga diperban bak mummy.

Sementara Hilman Mattauch, yang ketika itu masih menjadi jurnalis Metro TV menjadi tersangka kecelakaan, karena diduga lalai selaku sopir mobil yang ditumpangi Setya Novanto. Di tengah sibuknya kabar kecelakaan Setya Novanto, justru dikabarkan bahwa dirinya sudah mendaftarkan praperadilan untuk kedua kalinya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sehari sebelumnya pada 15 November.

KPK pun bergegas menyambangi RS Medika Permata Hijau dan kemudian memutuskan untuk memindahkan Setya Novanto ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, 17 November untuk mempermudah proses penyidikan. Pada hari itu juga, Setya Novanto resmi menyandang status tahanan KPK kendati dibantarkan karena kondisi kesehatannya.

Dua hari kemudian, 19 November KPK memindahkan Setya Novanto ke rutan cabang KPK di Kuningan, Jakarta Selatan. Pemindahan dilakukan setelah KPK melakukan komunikasi dengan tim dokter RSCM dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Seiring penahanan Setya Novanto, sidang praperadilan perdana digelar 30 November. KPK tidak hadir, dengan alasan masih mengumpulkan berkas dan meminta penundaan hingga tiga pekan ke depan. Hakim tunggal Kusno yang memimpin jalannya persidangan memutuskan untuk menunda persidangan hingga 7 Desember.

KPK dan Setya Novanto berpacu dengan waktu. Di satu sisi KPK mengebut pemberkasan perkara korupsi e-KTP agar bisa segera p21 untuk digelar sidang pokok perkara dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor. Sebab, sebagaimana diatur KUHAP, bila sidang pokok perkara digelar, otomatis praperadilan yang diajukan Setya Novanto akan gugur.

Sidang putusan praperadilan pun teragenda pada Kamis 14 Desember, KPK menyalip waktu dengan menyatakan berkas Setya Novanto P21 dan sudah dilimpahkan ke pengadilan. Sidang dakwaan pun digelar sehari sebelum putusan praperadilan, 13 Desember. Sementara Setya Novanto ditinggal kuasa hukumnya, Fredrich Yunadi dan Otto Hasibuan mendadak mengundurkan diri. Setya Novanto tak ingin putus asa, praperadilan terus bergulir berbarengan dengan sidang dakwaan.


Didakwa Korupsi 2,3 Triliun, Praperadilan Gugur di Ujung Sidang

Kesaktian Setya Novanto seakan luntur setelah sidang pokok perkara dengan pembacaan dakwaan atas perkara e-KTP resmi digelar di Pengadilan Tipikor, Jakarta. Di waktu bersamaan, sidang praperadilan juga bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Hadiri persidangan dengan kemeja putih berbalut rompi oranye khas tahanan KPK, wajah Setya Novanto sudah terlihat pucat. Lembar demi lembar dakwaan dibacakan, hingga Setya Novanto menunjukan bahwa dirinya tidak dalam kondisi prima.

Setya Novanto seolah ‘membisu’ selama pembacaan dakwaan dan ditanya Hakim Yanto, hingga sesekali dirinya terlihat memejamkan mata dan menunduk. Tak lama berselang, Setya Novanto pun izin ke toilet untuk buang air.

Berbagai Ekspresi Setya Novanto pada Sidang Perdana di Pengadilan Tipikor

Setya Novanto menyatakan bahwa dirinya sudah lima hari mengalami diare, dan tidak diberi obat oleh KPK. Sontak, hal tersebut dibantah KPK, dan menegaskan bahwa Setya Novanto dalam kondisi sehat sesaat sebelum menjalani persidangan.

Sidang akhirnya berlangsung berbelit-belit hingga tiga kali diskors. Setya Novanto menjalani pemeriksaan, kendati akhirnya menolak karena yang memeriksa adalah dokter umum.

Peristiwa sakitnya Setya Novanto di ‘meja hijau’ tak memutus proses perkara untuk dituntaskan pada hari itu. Hakim melanjutkan sidang, dan pembacaan dakwaan diteruskan oleh jaksa KPK. Di tengah derai air mata sang istri, Setya Novanto pun didakwa merugikan Negara Rp2,3 triliun atas korupsi pengadaan proyek e-KTP.

"Terdakwa baik secara langsung maupun tidak langsung melakukan intervensi dalam proses penganggaran dan pengadaan barang atau jasa paket pekerjaan penerapan KTP Elektronik," kata Jaksa KPK, Irene Putri saat membacakan‎ dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar, Jakarta Pusat, Rabu 13 Desember 2017.

Sepak terjang Setya Novanto untuk memperkaya diri kian terkuak dalam dakwaan, mulai dirinya menerima USD7,3 juta dari eks Direktur PT Murakabi Sejahtera sekaligus keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo dan mantan bos PT Gunung Agung, Made Oka Masagung.

Menyamarkan uang korupsi e-KTP melalui rekening perusahaan, OCBC Center Branch atas nama OEM Investment, Ptd.Ltd sejumlah dan melalui rekening Delta Energy, Pte. Ltd di Bank DBS Singapura.Setya Novanto juga disebut mendapatkan jatah Rp2.000 dari satu keping e-KTP.

Setya Novanto pun dijerat dengan Pasal 3 atau 2 Ayat (1) UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal 3 memiliki ancaman maksimal penjara seumur hidup dan denda paling banyak Rp1 miliar. Sedangkan Pasal 2 Ayat (1) ancaman maksimal 20 tahun penjara dan denda paling banyak Rp1 miliar.

Sidang dakwaan yang dibacakan di Pengadilan Tipikor akhirnya menjadi rujukan hukum bagi Kusno, hakim tunggal yang menyidangkan perkara praperadilan Setya Novanto di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Gugatan Setya Novanto untuk lolos dari jerat tersangka kasus e-KTP untuk kedua kalinya gagal. Hakim memutuskan menolak gugatan Setya Novanto alias praperadilannya dinyatakan gugur.

“Menyatakan praperadilan yang diajukan pemohon gugur,” ucap Hakim Kusno saat membacakan putusan di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis 14 November 2017.

Keputusan hakim mengacu pada Pasal 82 Ayat (1) Huruf d Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang berbunyi dalam hal suatu perkara sudah mulai diperiksa pengadilan negeri sedangkan pemeriksaan mengenai permintaan kepada praperadilan belum selesai, maka permintaan tersebut gugur.

Perjuangan Setya Novanto berpacu dengan KPK kandas, ia harus berlapang dada menerima kelanjutan dari proses hukum korupsi e-KTP, kendati pihak kuasa hukum, tetap memberikan suara perlawanan dengan menyatakan sidang dakwaan Setya Novanto seolah dipaksakan.


Dua Singgasana Setya Novanto ‘Goyang’

Manuver kader Golkar antikader korupsi terus bergerilya sejak ditetapkan sebagai tersangka untuk pertama kalinya. Mereka mendesak untuk menonaktifkan Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar dengan alasan elektabilitas ‘beringin’ terus melorot.

Pleno sempat digelar pada 25 September, dan mendorong penonaktifkan Setya Novanto, tetapi kelanjutannya tertunda hingga adanya putusan praperadilan. Tuhan masih berkata lain, status tersangka pertama disematkan kepada Setya Novanto gugur. Ia menang praperadilan jilid pertama.

Kader Golkar yang menolak Setya Novanto, seperti Ahmad Dolly Kurnia pun terus melakukan manuver untuk menumbangkan Setya Novanto. Hingga akhirnya mencuat didorongnya Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) hingga bergulir berbulan-bulan.

Momentum Setya Novanto jadi tersangka lagi semakin memacu semangat orang-orang untuk menumbangkan pria yang juga duduk sebagai Ketua DPR itu. Yorrys Raweyai, Ketua Bidang Polhukam DPP Golkar ikut berperan, hingga akhirnya ia dipecat dengan alasan merugikan partai, salah satunya tak terlepas dorongannya meminta Setya Novanto dinonaktifkan.

Ditahannya Setya Novanto oleh KPK pun menjadi ‘pintu masuk’ bagi para kader anti-Setya Novanto untuk melancarkan serangan. Mulai dari sosok bakal calon ketua umum hingga ketua DPR.

Dua singgasana Setya Novanto dibidik. Tak habis akal, Golkar menggelar pleno yang akhirnya Setya Novanto menunjuk ‘orangnya’ Idrus Marham sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum Golkar, sebelumnya adalah Sekjen Golkar.

Ormas Partai Golkar Meminta Pelaksanaan Munaslub Desember Tahun Ini

Hal tersebut ternyata tak membuat kubu anti-Setya Novanto berdiam diri. Gerilya terus dilakukan, hingga sosok Airlangga Hartarto yang sudah disiapkan terus dimunculkan ke publik. Airlangga Hartarto pun menjadi kandidat paling kuat dalam proses penggalangan suara di internal Golkar. Kendati ada sejumlah nama lainnya calon ketua umum, seperti Idrus Marham, Azis Syamsuddin, Agung Laksono, serta Siti Hediati Haryadi atau Titiek Soeharto.

Bermodal ‘mengabdi’ kepada Joko Widodo (Jokowi) sebagai Menteri Perindustrian memuluskan jalannya untuk menuju Golkar 1. Hari demi hari Airlangga menggalang suara dan dukungan. Mulai dari bertemu Presiden Jokowi hingga Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang juga politisi senior Golkar.

Klaim Airlangga sudah mendapatkan 2/3 dukungan DPD I membuat Setya Novanto dan para loyalisnya ketar-ketir.Sebab, otomatis atas persetujuan 2/3 DPD I, Munaslub bisa diselenggarakan.

Di tengah kencangnya dorongan Munaslub, Setya Novanto ternyata menyusun strategi untuk tetap menempatkan loyalisnya. Ia pun mengirim surat pengunduran dirinya sebagai Ketua DPR RI, dan menunjuk Azis Syamsuddin sebagai Ketua DPR.

Pro kontra pun terjadi, penunjukan Azis dianggap melanggar AD/ART Golkar dan dinilai ilegal. Paripurna DPR pun memutuskan untuk menerima surat pengunduran diri Setya Novanto, namun untuk penunjukan Azis yang diterima tapi tidak dilaksanakan, hingga adanya keputusan dari Golkar. Rabu 13 November malam setelah sidang dakwaan Setya Novanto dibacakan, Golkar kembali menggelar pleno. Dua kali tertimpa tangga, kesialan yang pantas disematkan kepada Setya Novanto pada hari itu.

Sudah didakwa korupsi e-KTP, Setya Novanto pun resmi dinyatakan lengser dari posisinya sebagai Ketua Umum Golkar. Kandidat kuat ketua umum Golkar, Airlangga pun mengisi posisi tersebut.

Kendati pengukuhannya baru akan dilakukan pada 19 Desember 2017 dalam Munaslub, sehari sebelum Rapimnas Golkar. Terpilihnya Airlangga tidak lantas meninggalkan Setya Novanto, karena ia menegaskan bahwa Golkar akan memberikan bantuan terhadap proses hukum yang dijalani.

Adapun untuk posisi Ketua DPR, dirinya akan memutuskan setelah semua mekanisme di internal Golkar dilakukan. Golkar pun memastikan kepada marwahnya untuk terus berada di koalisi pemerintah, dan mendukung Presiden Jokowi lanjut periode dua pada pemilihan presiden (pilpres) 2019.

1
6

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini