Panasnya Pilkada DKI Jakarta, Aksi 212 hingga Ahok Dipenjara

Salman Mardira, Okezone · Senin 11 Desember 2017 14:12 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 11 337 1828484 panasnya-pilkada-dki-jakarta-aksi-212-hingga-ahok-dipenjara-pq3aERmvsj.jpg Tiga pasangan cagub dan cawagub DKI Jakarta memperlihatkan nomor urut (Heru/Okezone)

INDONESIA diwarnai banyak peristiwa besar sepanjang 2017. Satu di antaranya adalah Pilkada DKI Jakarta yang berlangsung dua putaran. Persaingannya sengit, tahapannya dihiasi gelombang unjuk rasa besar-besaran hingga sang petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dipenjara.

Tahun 2017 ada 101 daerah yang menggelar pilkada serentak; 7 provinsi, 18 kota dan 76 kabupaten pada 15 Februari 2017. Tapi, pilkada-pilkada di daerah lain seakan tenggelam dengan hiruk pikuk Pilgub Ibu Kota yang diikuti tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur.

Mereka adalah Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni yang disokong Partai Demokrat, PAN, PKB dan PPP. Pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat yang diusung PDIP, Hanura, Nasdem dan Golkar. Kemudian Anies Baswedan-Sandiaga Uno didukung Gerindra dan PKS.

Beberapa analis menyebutkan bahwa persaingan Pilkada DKI Jakarta ‘beraroma’ pilpres, karena masing-masing pasangan memiliki tokoh politik besar di belakangnya; Susilo Bambang Yudhoyono di kubu Agus-Sylviana, Megawati Sukarnoputri di pihak Ahok-Djarot, kemudian ada Prabowo Subianto bersama Anies-Sandi. Tak sedikit yang menilai Pilkada DKI Jakarta merupakan pertarungan ketiga pemimpin parpol tersebut.

Awalnya Pilkada DKI Jakarta datar saja. Ahok sang gubernur elektabilitas dan popularitasnya tak terkalahkan di sejumlah hasil survei. Dengan gaya kepemimpinannya yang khas, Ahok dielu-elukan bisa dua kali memimpin Ibu Kota.

Pasangan calon gubernur dan wagub Jakarta (Heru/Okezone)

Terbentuklah relawan-relawan pendukungnya. Karena tak memiliki partai usai keluar dari Gerindra, Ahok pun bersiap maju melalui jalur independen atau perseorangan. Teman Ahok, komunitas relawan suporternya, gencar mengumpulkan KTP.

Tapi, di tengah jalan aksi mereka diselip parpol. Ahok dipinang lalu diusung sebagai petahana. Koalisi PDIP, Nasdem, Hanura, Golkar menduetkannya dengan Djarot Saiful Hidayat yang juga Wakil Gubernur Jakarta.

Petaka datang setelah video pidato Ahok yang menyinggu Surah Al Maidah Ayat 51 di Pulau Pramuka, Kepualauan Seribu pada 27 September 2016 tersebar di media sosial. Ahok pun jadi sasaran karena dituduh menistakan agama.

Aksi 212 dan Lebaran Kuda

Dia ramai-ramai dilaporkan ke polisi. Gelombang unjuk rasa massa terjadi di berbagai daerah hingga puncaknya demo besar-besaran di Jakarta pada 4 November dan 2 Desember 2016. Kedua unjuk rasa menuntut Ahok dipenjara itu diistilahkan sebagai “aksi bela Islam” 411 dan 212.

(Baca juga: Lebaran Kuda SBY yang Bikin Heboh)

Ahok ditolak di berbagai tempat saat berkampanye karena dituding sebagai penista agama, hingga ia memilih berkampanye di markas tim pemenangannya dengan mengumpulkan para simpatisan dan pendukungnya.

Massa aksi 212 memutihkan Jakarta (Arif/Okezone)

Dua hari sebelum aksi 411 digelar, SBY membuat konferensi pers mendesak agar Ahok yang jadi pesaing putranya di Pilgub DKI diproses hukum. Jika tidak, maka akan terus ada aksi demo.

“Sampai lebaran kuda bakal ada unjuk rasa,” ujar SBY. Kata lebaran kuda yang keluar dari mulut Presiden ke 6 RI itu pun mendadak jadi trending topik dan diulas banyak media.

(Baca juga: Ira Kusno Pandu Debat Pilgub DKI, Bikin Orang-Orang Gagal Fokus)

Selain kasus penistaan agama, Ahok juga diterpa tudingan dugaan korupsi Rumah Sakit Sumber Waras bahkan reklamasi Jakarta. Penantangnya Silviana Murni juga diserang kasus dugaan korupsi pengelolaan dana hibah dan pembangunan masjid.