nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mantan Kabais Sebut Panglima TNI yang Baru Baiknya dari AL dan AU

Tim Okezone, Jurnalis · Minggu 03 Desember 2017 11:42 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 12 03 337 1824331 mantan-kabais-sebut-panglima-tni-yang-baru-baiknya-dari-al-dan-au-ckGSp5JM3S.jpg Panglima TNI, Gatot Nurmantyo (Foto: Antara)

JAKARTA - Masuknya Jenderal Gatot Nurmantyo pada masa pensiun membuat bursa pemilihan Panglima TNI makin menarik perhatian.

Seperti diketahui, Jenderal Gatot akan memasuki usai 58 tahun pada Maret 2018. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 34/2004 tentang TNI, usia pensiun seorang perwira TNI adalah 58 tahun.

Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto, mengungkapkan bahwa pergantian Panglima TNI dapat dijabat secara bergantian oleh perwira tinggi aktif dari tiap angkatan. Artinya, ketiga kepala staf yang sedang menjabat saat ini memiliki peluang yang sama.

(Baca Juga: Begini Mekanisme Pergantian Panglima TNI di DPR)

"Jadi tidak benar bahwa pengganti Panglima TNI harus berasal dari Kasad, seperti pernyataan Panglima Gatot di media beberapa waktu lalu," ungkap Soleman dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Minggu (3/12/2017).

Kabais di tahun 2011-2013 tersebut memaparkan pola pengangkatan jabatan panglima dari kepala staf yang telah terbentuk.

1. Laksamana TNI Widodo 26 Oktober 1999 - 7 Juni 2002 dari TNI AL

2. Jenderal TNI Endriartono Sutarto 7 Juni 2002 - 13 Februari 2006 dari TNI AD

3. Marsekal TNI Djoko Suyanto 13 Februari 2006 - 28 Desember 2007 dari TNI AU

4. Jenderal TNI Djoko Santoso 28 Desember 2007 - 28 September 2010 dari TNI AD

5. Laksamana TNI Agus Suhartono 28 September 2010 - 30 Agustus 2013 dari TNI AL

6. Jenderal TNI Moeldoko 30 Agustus 2013 - 8 Juli 2015 dari TNI AD

7. Jenderal TNI Gatot Nurmantyo 8 Juli 2015 - Sekarang dari TNI AD

"Dari pola giliran yang sudah terbentuk terlihat bahwa Kasad mendapat giliran kesempatan yang lebih besar dari pada Kasal dan Kasau. Bila mengikuti pola yang telah terbentuk itu, maka penempatan Jenderal Gatot sebagai Panglima TNI sebenarnya sudah merusak pola yang telah terbentuk," ucapnya.

"Bila mengikuti pola yang sudah terbentuk, maka Setelah Jenderal Moeldoko, maka Panglima TNI seharusnya diisi dari TNI AU. Tapi kenyatannya diisi dari TNI AD. Apabila kemudian Jenderal Gatot diganti lagi oleh Kasad, maka pola yang terbentuk menjadi semakin rusak, dan hal ini akan sangat berpengaruh terhadap soliditas TNI," jelas Soleman.

(Baca Juga: Imbau Pergantian Panglima TNI Jangan Jadi Polemik, Wiranto: Itu Urusan Presiden!)

Soleman mengungkapkan, sejak diberlakukan UU TNI, maka tugas ketiga Angkatan menjadi sangat jelas. Tidak ada salah satu Angkatan yang dominan. Itulah sebabnya ketiga Kepala Staf dapat menjabat Panglima TNI secara bergiliran, tidak lagi didominasi TNI AD seperti yang terjadi pada zaman sebelum berlakunya UU TNI.

"Jadi, sebagai pangganti Jenderal Gatot, yang berpeluang terpilih menjabat Panglima TNI adalah Kasau dan Kasal. Bila presiden ingin memperbaiki pola giliran yang sudah terbentuk, maka pilihan akan jatuh kepada Kasau," jelasnya.

"Akan tetapi bila Presiden ingin menyukseskan Indonesia sebagai Poros Maritim dunia, maka pilihan akan jatuh kepada Kasal. Siapapun nantinya yang akan terpilih, harus kita hormati, karena mengangkat Panglima TNI adalah prerogatif Presiden," pungkasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini