nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kembalinya Jaringan Freddy Budiman dan Kelanjutan Invasi Ekstasi dari Belanda

Yudhistira Dwi Putra, Jurnalis · Jum'at 24 November 2017 08:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 23 337 1819468 kembalinya-jaringan-freddy-budiman-dan-kelanjutan-invasi-ekstasi-dari-belanda-YsXyhyTfSG.jpg Freddy Budiman (FOTO: Arif Julianto/Okezone)

JAKARTA - Eksekusi Freddy Budiman pada Juli 2016 lalu tak menghentikan invasi ekstasi dari Belanda. Sejak pertengahan tahun 2017, polisi berhasil mengungkap dua penyelundupan narkoba jenis ekstasi dalam jumlah besar.

Satuan Tugas Narkoba Bareskrim Polri berhasil menggagalkan distribusi 600.000 butir pil ekstasi yang diselundupkan dari Belanda. Polisi menduga kuat keterlibatan sindikat internasional Jaringan Belanda-Jakarta dibalik penyelundupan ini.

Ratusan ribu ekstasi itu disita dari sebuah gudang di kawasan Bekasi, Jawa barat pekan lalu. Dari operasi tersebut, polisi berhasil mengamankan empat orang kurir.

Keempatnya mengaku bahwa seluruh ekstasi sedianya akan segera didistribusikan ke dua orang narapidana yang tengah mendekam di Lapas Surakarta, Jawa Tengah dan Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat.

“Pengendali ekstasi tersebut adalah dua narapidana. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak lapas untuk meminjam tersangka. Kami ingin tahu mereka disuruh oleh siapa, termasuk bandar besarnya, baik di Jakarta ataupun Belanda,” ungkap Direktur Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Mabes Polri Brigjen Pol Eko Daniyanto sebagaimana ditulis KORAN SINDO.

(BACA JUGA: Penyelundupan 1,2 Pil Ekstasi Berhasil Digagalkan)

Eko mengungkapkan, 600.000 ekstasi itu terklasifikasi sebagai ekstasi dengan kualitas nomor wahid dengan harga pasaran mencapai Rp 500.000 per butir, dimana dosis satu butirnya dapat dikonsumsi oleh lima sampai enam orang.

Atas keberhasilan menggagalkan distribusi ekstasi itu, Eko mengklaim, polisi berhasil menyelamatkan 600.000 orang. “Kalau dihitung satu butir satu orang saja, kami sudah berhasil menyelamatkan 600.000 orang,” katanya.

Kembalinya Jaringan Freddy Budiman

Terungkapnya penyelundupan 600.000 ekstasi ini menambah catatan keterlibatan sindikat internasional asal Belanda dalam peredaran ekstasi di Indonesia. Tak hanya itu, penyelundupan itu juga mengindikasikan hidupnya kembali jaringan Freddy Budiman di Indonesia.

Pada Juli 2017 lalu, Mabes Polri berhasil menggagalkan upaya distribusi ekstasi yang juga diselundupkan dari Belanda. Tak main-main, jumlah ekstasi yang berhasil disita polisi dari gudang penyimpanan di Tangerang mencapai 1,2 juta butir.

(BACA JUGA: Bandar Besar di Belakang Freddy Budiman)

Selain menyita 1,2 juta ekstasi, polisi juga berhasil mendapati sejumlah tersangka di lokasi, yakni An Liu Kit Cung alias Acung yang berhasil diamankan dan seorang tersangka lain bernama Zulkarnain yang terpaksa ditembak mati lantaran melakukan perlawanan saat penangkapan.

Modus para tersangka dalam kasus ini terbilang baru, lantaran pemesanan dilakukan melalui email, meninggalkan modus lama, dimana pemesanan biasanya dilakukan melalui layanan pos konvensional.

Atas keberhasilan menggagalkan distribusi jutaan ekstasi itu, Kapolri Jenderal Polisi, Tito Karnavian mengklaim polisi berhasil menyelamatkan setidaknya 1,4 juta orang dari "nikmat sesaat" ekstasi, dengan asumsi, tiap satu butir ekstasi dikonsumsi oleh dua orang. Jika diuangkan, seluruh ekstasi itu diperkirakan bernilai Rp 600 miliar. “Dari pengungkapan kasus ini kita berhasil menyelamatkan 2,4 orang dari penggunaan narkoba,” ujar Tito.

Seperti pada penyelundupan 600.000 ekstasi, kasus penyelundupan 1,2 juta ekstasi juga melibatkan nama-nama pesakitan yang tengah menjalani hukuman di dalam Lapas. Dalam kasus ini, distribusi narkoba dikendalikan oleh Aseng, terpidana 15 tahun penjara --yang didakwa atas kasus yang sama-- yang tengah mendekam di Lapas Nusakambangan, Jawa Tengah.

(BACA JUGA: Dalami Penyelundupan 1,2 Ekstasi, Polisi Sambangi Aseng di Nusakambangan)

Juru Bicara Badan Narkotika Nasional (BNN), Kombes Sulistiandiatmoko mengungkapkan, berdasar penelusuran yang dilakukan BNN, Aseng diketahui merupakan bagian dari jaringan Freddy Budiman yang telah dieksekusi mati pada Juli 2016 lalu.

"Kalau berdasar data yang ada di BNN, Aseng itu yang di Nusakambangan yang mendatangkan 1,2 juta itu, itu adalah tangan kanannya Freddy Budiman. Jadi itu masih meneruskan jaringannya Freddy Budiman di Belanda," tutur Sulistiandiatmoko kepada Okezone, Jumat (24/11/2017).

Untuk mendalami pertalian antara dua penyelundupan besar yang telah dilakukan, polisi menyatakan masih terus mendalami hal tersebut. Termasuk mengantisipasi kemungkinan hidupnya kembali jaringan Freddy Budiman di Indonesia.

“Fokus kami sekarang adalah mengejar bandar atau pemilik modalnya. Doakan saja mudah-mudahan terungkap,” tutur Eko Daniyanto.

Aroma Keterlibatan Oknum Otoritas

Terkait dua penyelundupan ini, BNN mencium adanya berbagai peran yang dimainkan oleh sejumlah oknum dari otoritas terkait, baik itu di Belanda maupun di Jakarta. "Yang menjadi pertanyaan itu, kenapa itu (ekstasi) bisa keluar. Kenapa bisa keluar dari Belanda itu," kata Sulistiandriatmoko.

(BACA JUGA: Oknum Polisi di Tanah Tinggi Lindungi Peredaran Narkoba di Lapas)

Menurut Sulis, dua penyelundupan ekstasi yang berhasil diungkap kepolisian seharusnya tak mungkin terjadi jika pengawasan di pintu keluar dan pintu masuk masing-masing negara berjalan dengan baik.

"Ya padahal itu jumlahnya 1,2. Kalau kita bawa Vitamin D1 saja kan itu harusnya diperiksanya setengah mati. Nah ini ekstasi 1,2 kok bisa lolos. Ya mungkin memang jaringan sindikat ya," tutur Sulis.

Meski begitu, Sulis mengatakan, kewenangan pendalaman dua kasus penyelundupan ini ada di tangan kepolisian. "Kita tidak bisa mengungkap itu ya (keterlibatan oknum tertentu), karena itu otoritas kepolisian. Kita hanya bisa mengungkap kalau itu adalah si Aseng, gitu lho," katanya.

(BACA JUGA: Pemerasan Narkoba Oknum Polisi Polres Jakarta Timur)

Tito Karnavian, pasca pengungkapan penyelundupan 1,2 juta ekstasi menyatakan, polisi akan mendalami kemungkinan keterlibatan oknum tertentu dalam penyelundupan ekstasi. Bahkan, Tito dengan tegas menginstruksikan tembak di tempat, jika ada anggota polisi yang terlibat dalam penyelundupan narkoba.

“Saya perintahkan ditembak, karena mereka (oknum polisi) itu sudah berkhianat,” tegas Tito.

Meski begitu, Tito mengapresiasi capaian jajarannya, yang bersama Bea-Cukai mampu mengungkap penyelundupan ekstasi sehingga distribusi pil terlarang yang tergolong stimulan itu mampu diputus.

“Kita juga berterima kasih kepada Bea-Cukai yang turut membantu mengungkapkan kasus ini,” kata Tito.

(ydp)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini