Mengenang Sederet Catatan Apik TNI dalam Berbagai Operasi Pembebasan Sandera

Yudhistira Dwi Putra, Okezone · Sabtu 11 November 2017 07:45 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 10 337 1812212 mengenang-sederet-catatan-apik-tni-dalam-berbagai-operasi-pembebasan-sandera-YCyLuwqHmj.jpg Operasi pembebasan sandera (FOTO: Istimewa)

JAKARTA - Sebanyak 1.300 orang dari dua desa di Papua disandera oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB). Nasib seluruh warga dari Desa Kimbely dan Desa Banti di Tembagapura itu kini dipertaruhkan.

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dituntut bergerak cepat, namun senyap, menghindari segala kegaduhan agar keselamatan para sandera tetap terjaga.

Khusus TNI, sejatinya Indonesia memiliki sejumlah catatan positif dalam hal pembebasan sandera. Berikut Okezone paparkan tiga dari sederet kisah sukses pembebasan sandera yang berhasil dilakoni TNI.

1. Operasi Woyla

Sabtu, 28 Maret 1981, pukul 10.10 WIB, Pesawat DC-9 Woyla milik maskapai Garuda Indonesia yang dipiloti Kapten Pilot Herman Rante baru saja lepas landas dari Pelud Sipil Talang Betutu, Palembang, Sumatera Selatan.

Setelah beberapa lama mengudara, dua penumpang kemudian berusaha membajak pesawat. Satu penumpang menuju kokpit, satu lagi tetap di kabin, menyandera 48 dan tiga kru kabin dengan pistol revolvernya.

Salah satu pembajak kemudian meminta pilot untuk menerbangkan pesawat itu ke ke Kolombo, Sri Lanka. Tentu saja permintaan tersebut tidak mungkin dipenuhi karena keterbatasan bahan bakar avtur.

Pesawat akhirnya dialihkan menuju Penang, Malaysia untuk mengisi bahan bakar. Setelah bahan bakar terisi, pesawat kembali terbang menuju Bandara Don Mueang, Thailand.

Saat di Malaysia, para penyandera membacakan sejumlah tuntutan, termasuk meminta pesawat itu untuk pembebasan tahanan dan terbang menuju lokasi yang dirahasiakan. Bila tuntutan tidak dipenuhi, mereka mengancam akan meledakkan bom yang telah mereka pasang di pesawat.

Puncak dari peristiwa penyanderaan yang berlangsung selama empat hari ini terjadi ketika pesawat transit di Bandara Don Mueang di Bangkok, Muangthai, 31 Maret 1981.

Kabar penyanderaan tersebut akhirnya sampai ke Jakarta. Para pejabat pemerintah terkait segera menggelar rapat. Akhirnya, Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha) --cikal bakal Kopassus-- pun diperintahkan untuk segera menggelar operasi pembebasan sandera.

Setelah berlatih selama dua hari, pasukan Kopassandha pun sampai ke Thailand. Dengan izin pemerintah setempat, mereka melakukan berbagai persiapan untuk melaksanakan operasi pembebasan.

Selasa 31 Maret 1981, pukul 02.30 dinihari, prajurit Kopassandha yang sudah tidur pulas mulai bergerak mendekati pesawat dengan senyap. Mereka membagi diri menjadi tiga tim, yakni Tim Merah, Tim Biru dan Tim Hijau.

Tim Merah dan Biru memanjat ke dua sisi sayap pesawat, sedang Tim Hijau masuk perlahan lewat pintu belakang. Penyerbuan pun dimulai. Tim Hijau yang masuk terlebih dahulu berpapasan dengan seorang teroris yang berjaga di pintu belakang.

Serbuan pun dilakukan. Semua pintu kabin pesawat didobrak. Ketika berhasil mendobrak pintu, Kopassandha langsung meneriakkan instruksi agar para penumpang tiarap. Dalam baku tembak itu, seorang teroris ditembak mati setelah sebelumnya menembak mati salah satu anggota tim, Letnan Achmad Kirang.

Dalam operasi ini, Letnan Kirang gugur bersama Kapten Pilot Herman Rante yang meninggal di Bangkok enam hari pasca operasi. Kedua teroris tewas. Seluruh penumpang selamat.

2. Operasi Pembebasan Somalia

Kapal Sinar Kudus berisi empat warga negara Indonesia (WNI) dan 22 orang lain dibajak di Kepulauan Seychelles, Somalia. Operasi pembebasan memakan proses yang begitu panjang ketika itu. Bagi pemerintah Indonesia dan TNI, operasi pembebasan di laut ini merupakan operasi jarak jauh pertama yang dilakukan.

Operasi pembebasan ini didukung oleh pasukan elit TNI, seperti dari Den Jaka, Sat-81/Gultor, Batalyon Inti Amphibi, Kopaska, 4 Sea Riders, dan Frigate.

Pada saat mendekat ke Perairan Somalia, tim penyelamat melakukan pengamatan permukaan dan udara yang dimulai dengan jarak 400 mil, hingga jarak 20 mil dengan terus mengikuti perkembangan komunikasi radio dengan satuan- satuan lain dari mancanegara yang beroperasi di perairan itu. Tak mudah menemukan Sinar Kudus karena berada di antara puluhan kapal lain yang juga disandera di satu wilayah perairan itu.

Sambil menunggu kesempatan, pasukan penyelamat bertolak ke Oman untuk mengisi ulang logistik dan bahan bakar. Dua hari berada di Oman, Mabes TNI di Jakarta memerintahkan pembebasan sandera agar dilakukan saat itu juga.

Pasukan penyelamat pun langsung bertolak ke lokasi penyanderaan. Dengan cepat dan senyap, para sandera berhasil diselamatkan. Mereka kemudian dipindahkan ke sebuah kapal di daerah Hobyo, 511 km dari Mogadishu, ibu kota Somalia.

Selanjutnya, sandera dibawa ke safe house di Golkayo Town, setelah singgah di Budbud, yang berjarak 288 kilometer dari Mogadishu.

Dari Golkayo Town, para sandera kemudian dibawa menggunakan United Nation Humanitarian Flight menuju Wajir Airport, perbatasan Kenya dan Somalia. Mereka tiba pada pukul 15.30 waktu setempat.

Setelahnya, sandera dibawa ke Bandara Nairobi, Kenya. Akhirnya, para sandera berhasil dibawa keluar dari wilayah Somalia, meski masih perlu beberapa hari untuk dilakukan pemulihan sebelum keempat sandera dipulangkan ke Indonesia.

3. Operasi Mapenduma

Operasi Mapenduma merupakan salah satu operasi pembebasan sandera terbesar sepanjang sejarah bangsa. Tak hanya itu, penyanderaan Mapenduma nyatanya turut menyita perhatian dunia internasional. Sekjen PBB kala itu, Boutros Boutros Ghali dan Paus Johanes Paulus II turut andil dalam upaya membujuk para pemberontak OPM untuk membebaskan para sandera.

Selama 129 hari, berbagai upaya mediasi dilakukan untuk menyelamatkan 26 orang --sebagian besar peneliti-- yang tergabung dalam Ekspedisi Lorentz '95.

Penyanderaan berakhir ketika Kopassus melakukan penyergapan gerombolan penyandera yang tengah membawa lari para sandera ke belantara hutan Papua. Kopassus yang dikomandoi Prabowo Subianto berperan besar dalam pembebasan tersebut.

Selain Kopassus, operasi tersebut melibatkan setidaknya 400 personel gabungan TNI dari berbagai kesatuan. Sebanyak dua orang dari 26 sandera tewas dalam penyergapan.

(ydp)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini