NEWS STORY: Letjen TB Simatupang, Pahlawan Nasional yang Religius dan Kritis terhadap Pemimpin

Hantoro, Okezone · Sabtu 11 November 2017 07:31 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 10 337 1812042 news-story-letjen-tb-simatupang-pahlawan-nasional-yang-religius-dan-kritis-terhadap-pemimpin-WJwU9gCtlS.jpg Letjen TB Simatupang (kanan). (Foto: Ist)

KETIKA melintasi Jalan TB Simatupang di kawasan Jakarta Selatan, apakah Anda terpikirkan siapa sosok yang diabadikan menjadi nama fasilitas umum tersebut? Bisa jadi iya, bisa juga tidak. Maka itu Okezone coba segarkan ingatan pembaca semua mengenai kisah singkat pahlawan nasional Letnan Jenderal TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang atau lebih dikenal TB Simatupang, sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber, Sabtu (11/11/2017).

Letjen TB Simatupang diketahui lahir di Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, pada 28 Januari 1920. Ia merupakan putra dari seorang pegawai Kantor Pos dan Telegraf bernama Sutan Mangaraja Soaduan Simatupang serta ibunya Mina Boru Sibutar. Anak kedua dari delapan bersaudara yang akrab disapa Bonar ini menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Pematangsiantar (lulus 1934), lanjut ke Algemeene Middelbare School (AMS) di Salemba-Batavia (lulus 1940), kemudian masuk Koninlijke Militaire Academie (KMA) di Breda dan diungsikan ke Bandung (lulus 1942).

Jabatan tertingginya dalam karier militer adalah sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia (KSAP) periode 29 Januari 1950–4 November 1953. Ia ditunjuk langsung Presiden Soeharto usai Panglima Besar Jenderal Soedirman wafat pada 1950. Jabatan KSAP sendiri membawahi Kepala Staf Angkatan Darat, Kepala Staf Angkatan Laut, Kepala Staf Angkatan Udara, dan berada di bawah tanggung jawab Menteri Pertahanan.

(Baca: TOP FILES: Hari Pahlawan, Mengenal Sosok Mayor Daan Mogot yang Diabadikan Jadi Nama Jalan Besar)

Momen penting dalam karier militer TB Simatupang dikenal dengan Peristiwa 17 Oktober 1952, yaitu ketika muncul gelombang demonstrasi oleh tujuh panglima daerah mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) dibubarkan. Bahkan kala itu para pimpinan militer tersebut berani mengarahkan meriam-meriam aktif ke hadapan Istana Negara untuk menekan Presiden Soekarno.

Tersiar kabar juga Kolonel Bambang Soepeno meminta pencopotan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Kolonel Abdul Haris Nasution, dan dipersilakan Bung Karno. Hal itu sontak mendapat kritik keras dari TB Simatupang selaku KSAP. Ia menegaskan Presiden melakukan kesalahan yang sangat besar dan mendasar.

TB Simatupang menerangkan, sistem di militer bakal terganggu bila panglima divisi bisa meminta KSAD dicopot, dan seterusnya panglima divisi bisa diganti jika ada aduan dari bawahannya. Ia tegas mengungkapkan kepada Bung Karno bahwa selama menjabat KSAP tidak akan membiarkan itu terjadi.

(Baca: TB Simatupang, Jenderal yang Bertentangan dengan Soekarno)

Sikap kritis TB Simatupang tersebut dirumorkan menjadi alasan pada 1953 jabatan KSAP dihapuskan. Tapi, ia kemudian diangkat menjadi Penasihat Militer di Departemen Pertahanan Republik Indonesia periode 1954–1959. Pada masa itu pula TB Simatupang dipensiunkan. Ia kemudian aktif bergiat di dunia pendidikan dan gereja.

TB Simatupang juga diketahui produktif menerbitkan buku hasil pemikirannya di bidang militer hingga teologi. Beberapa di antaranya autobiografi pada masa revolusi 'Laporan dari Banaran (1960)', 'Pengantar Ilmu Perang di Indonesia (1969)', 'Pelopor dalam Perang', 'Pelopor dalam Damai (1981)', serta 'Iman Kristen dan Pancasila (1984)'.

TB Simatupang kemudian wafat pada 1 Januari 1990 karena sakit, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Berkat jasanya yang besar terhadap bangsa Indonesia, namanya diabadikan menjadi salah satu jalan utama di Ibu Kota. Wajahnya juga terpampang di uang logam pecahan Rp500 tahun 2016. Selanjutnya dianugerahi pahlawan nasional pada 2013.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini