TOP FILES: Hari Pahlawan, Mengenal Sosok Mayor Daan Mogot yang Diabadikan Jadi Nama Jalan Besar

Hantoro, Okezone · Jum'at 10 November 2017 07:31 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 09 337 1811503 top-files-hari-pahlawan-mengenal-sosok-mayor-daan-mogot-yang-diabadikan-jadi-nama-jalan-besar-3ZPW12s7Td.jpg Pahlawan nasional Mayor Daan Mogot. (Foto: Ist)

BAGI warga Ibu Kota mungkin tidak asing lagi dengan Jalan Daan Mogot di wilayah Jakarta Barat. Jalur sepanjang 27,5 kilometer ini dikenal cukup padat dilalui pengendara, baik yang hendak ke wilayah Tangerang Banten maupun Jakarta. Tapi, ternyata ada juga masyarakat yang belum mengetahui kalau nama jalan tersebut diambil dari sosok pahlawan nasional Elias Daniel Mogot.

Elias Daniel Mogot atau Daan Mogot merupakan seorang perwira militer dengan pangkat terakhir mayor. Ia lahir di Manado pada 28 Desember 1928. Daan Mogot merupakan putra dari pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang (Mien). Dia adalah anak kelima dari tujuh bersaudara.

Daan Mogot tercatat sebagai anggota dan pelatih Pembela Tanah Air (PETA) di Bali dan Jakarta pada 1942–1945. Kemudian dia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Jakarta. Sejumlah mantan perwira PETA turut bergabung, di antaranya Singgih, Daan Jahja, Kemal Idris, Daan Mogot, Islam Salim, Jopie Bolang, Oetardjo, Sadikin (Resimen Cikampek), dan Darsono (Resimen Cikampek).

(Baca: Sang Mayor Muda yang Tak Tersohor)

Pada November 1945, Daan Mogot bersama rekan-rekannya mendirikan Militaire Academie Tangerang (MAT). Saat itu bahkan ia masih berusia 17 tahun. Langkah ini ditanggapi diapresiasi Markas Besar Tentara (MBT), dan pada 18 November 1945 dan Daan Mogot pun dilantik sebagai direktur.

Kisah pertempuran sengit Daan Mogot pun terjadi setelah itu. Pada 24 Januari 1946, didapat kabar Belanda dan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) menduduki Parung dan akan merebut depot senjata tentara Jepang di Lengkong, Tangerang Selatan, Banten. Dikarenakan bisa mengancam kedudukan Resimen IV Tangerang dan Akademi Militer Tangerang, Mayor Daan Yahya segera memanggil Mayor Daan Mogot dan Mayor Wibowo selaku perwira penghubung yang diperbantukan di Resimen IV Tangerang untuk melakukan pengamanan.

Keesokannya mereka berangkat bersama 70 kadet MAT dan sejumlah perwira yakni Mayor Wibowo, Lettu Soebianto Djojohadikoesoemo, dan Lettu Soetopo. Strategi ini dilakukan untuk mendahului jangan sampai senjata tentara Jepang yang sudah menyerah tidak jatuh ke tangan Belanda.

(Baca: Heroisme Pahlawan KH Noer Ali Hantam Sekutu di Pondok Ungu)

Setibanya di sana Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo, dan Taruna Alex Sajoeti bertemu Kapten Abe. Sementara pasukan kadet MAT diserahkan ke Lettu Soebianto dan Lettu Soetopo menunggu di luar. Di saat Mayor Daan Mogot dan lainnya bernegosiasi di dalam kantor, ternyata para kadet melucuti senjata tentara Jepang.

Entah apa yang terjadi, terdengar letusan senjata di depot tersebut. Mayor Daan Mogot pun langsung keluar dan kantor Kapten Abe. Ia pun turut terlibat pertempuan. Sampai pada suatu waktu Mayor Daan Mogot terkena peluru tembakan di paha kanan dan dadanya. Namun ia masih bisa mengambil senapan mesin dan menembaki lawan sampai dirinya sendiri dihujani peluru dari berbagai penjuru dan meninggal dunia.

Guna mengingat momen tersebut, di tempat pertempuran Lengkong itu dibangun monumen peringatan. Kisah pertempuran Lengkong itu bahkan dijadikan dasar penulisan skenario film Merah Putih (2009).

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini