Konten Pornografi di WhatsApp, Bukti Sulitnya Tertibkan Distribusi Konten di Rimba Raya Internet

Yudhistira Dwi Putra, Okezone · Rabu 08 November 2017 07:45 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 07 337 1810057 konten-pornografi-di-whatsapp-bukti-sulitnya-tertibkan-distribusi-konten-di-rimba-raya-internet-Uduez9WZ3j.jpg Ilustrasi (FOTO: Ahmad Sahroji)

JAKARTA - Minggu malam, 5 November 2017, sebuah pesan berantai sampai ke redaksi Okezone. Pesan tersebut berisi peringatan tentang banyaknya konten negatif berbentuk gambar bergerak atau Graphics Interchange Format (GIF) dalam aplikasi berbagi pesan, WhatsApp Messenger.

Konten yang berbau pornografi dan beberapa muatan lain mengandung nilai-nilai seputar LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer) disebut-sebut sebagai ancaman. Konten-konten tersebut, dikhawatirkan dapat memberi pengaruh negatif terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat tanah air. Beralasan mungkin jika melihat besarnya jumlah pengguna WhatsApp di Indonesia.

Pada Agustus 2016, sejumlah perusahaan digital dan periklanan di tanah air berasosiasi dengan perusahaan peneliti comScore untuk menetapkan Standar Pengukuran Audiens Online --layaknya rating Nielsen dalam ranah media televisi.

Dalam laporan pertama tertanggal 29 Maret 2017, comScore mendapati bahwa aplikasi WhatsApp merupakan aplikasi mobile terpopuler dengan jumlah pengguna terbanyak di Indonesia, yakni mencapai 35,8 juta pengguna. Mengungguli WhatsApp, hanya ada Google Play yang notabene adalah aplikasi wajib bagi perangkat Android.

Data lain menunjukkan, selain jadi aplikasi yang paling banyak diunduh, WhatsApp juga merupakan aplikasi yang paling sering digunakan, setelah Facebook dan LINE. Hal tersebut terlihat dari rata-rata waktu yang dihabiskan para pengguna dalam rata-rata akses aplikasi dalam telepon pintar mereka.

Masuk akal memang. Dengan sejumlah fitur unggulannya, WhatsApp mampu menjadi jembatan penghubung utama dalam pola komunikasi masyarakat dunia. WhatsApp memungkinkan seseorang untuk berkirim pesan berupa teks, gambar, audio, video hingga data GPS dengan sangat mudah. Tak hanya itu, fitur video dan telepon interaktif membuat WhatsApp mampu mengantarkan setiap penggunanya menembus berbagai batasan.

Ancaman Pemblokiran dari Kemkominfo

Terkait konten negatif di dalam aplikasi WhatsApp, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemkominfo RI) bereaksi cepat. Kemkominfo langsung menghubungi pihak Facebook sebagai pengembang aplikasi.

Facebook menyebut, konten GIF yang tersedia dalam aplikasi WhatsApp disediakan oleh pihak ketiga sebagai pembuat konten. Tak puas dengan jawaban yang didapat, Kemkominfo lantas memperingatkan Facebook untuk segera menghapus konten negatif yang dimaksud. Jika tetap bandel, Kemkominfo sebagai otoritas mengancam akan melakukan pemblokiran terhadap aplikasi WhatsApp dalam waktu 2x24 jam atau hari ini, Rabu, 8 November 2017.

"Kalau dilihat waktunya Rabu paling lambat (pemblokiran). Kalau tidak ada respon kita tutup WhatsApp," ungkap Dirjen Aplikasi Informatika Kemkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan di Kantor Kemkominfo, Senin, 6 November 2017.

BACA JUGA: Konten Pornografi di WhatsApp

Hingga tulisan ini dibuat, belum ada tanggapan resmi dari Facebook. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, pada Rabu pagi, 7 November 2017 mengatakan, Kemkominfo telah membuka komunikasi dengan dua penyedia konten GIF pada aplikasi WhatsApp, Givi dan Tenor.

Rudiantara mengatakan, pihak Givi telah merespons permintaan Kemkominfo dan berjanji akan segera membersihkan konten yang dimaksud dalam waktu 24 jam. Untuk Tenor, Kemkominfo bertindak tegas dengan menutup tujuh server (DNS) milik Tenor.

"Content creatornya ini ada dua yang berhasil kami identifikasi. Satu Givi, itu yang sudah bisa berkomunikasi, mereka mengatakan akan membersihkan secepatnya dalam waktu 24 jam," kata Rudiantara, Selasa, 7 November 2017.

"Kemudian Tenor. Karena Tenor ini belum bisa berkomunikasi, akhirnya ada enam DNS Tenor sampai kemarin pagi yang terpaksa kami tutup. Dan saya diberitahu tadi malam ada satu DNS lagi dari tenor sudah ditutup," tambahnya.

Sementara itu, pengamat media sosial, Enda Nasution mengapresiasi langkah yang dilakukan Kemkominfo sebagai otoritas yang bertanggung jawab dalam mengelola penyebaran konten di jagat internet.

Terkait dengan kritik yang menyebut pemerintah telah kecolongan melakukan penyaringan distribusi konten, Enda menyampaikan pandangannya. Menurutnya, jagat internet merupakan sebuah rimba raya yang besar, sehingga mustahil untuk menyaring semua konten digital yang berseliweran. Maka, reaksi cepat Kemkominfo dalam merespons kejadian ini, menurut Enda adalah hal terbaik yang dapat dilakukan Kemkominfo sebagai otoritas.

"Mustahil untuk mengecek semua informasi. Pemerintah sekarang melakukan peran sebagai penjaga gawang. Kalau ada masalah, ya ditindaklanjuti, ditanggapi reaktif," ungkap Enda kepada Okezone, Rabu (8/11/2017).

Melindungi Diri dari Dampak Buruk Internet

Sebesar apapun dampak buruk yang mungkin muncul dari penggunaan internet, sebesar itu pula hal positif yang dapat diambil dari pemanfaatan internet. Menumbuhkan kesadaran dalam diri sendiri menjadi penting.

Enda mengatakan, selain upaya penjaringan digital yang dilakukan otoritas terkait, masyarakat sebagai pengguna internet harus pula memahami bagaimana internet bekerja. Dengan begitu, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan akses internet dengan bijak.

"Di sisi lain adalah memberikan pendidikan, pengertian tentang penggunaan teknologi digital oleh anak-anak. Menggunakan sosmed dengan bijaksana, teknologi digital dengan bijaksana," kata Enda.

Menurut Enda, sebagai bentuk media baru --dimana kebebasan akses informasi dan konten menjadi unsur utamanya, internet memiliki karakteristik yang unik.

Berbeda dengan bentuk media lain seperti televisi atau radio yang menjadikan para penggunanya audiens pasif, internet justru menjadikan para penggunanya sebagai audiens aktif yang memiliki kuasa penuh atas konten dan informasi apa yang ingin mereka akses.

Untuk itu, kedewasaan, kebijaksanaan dan kesadaran penuh harus ditanamkan dalam upaya melindungi diri dari dampak buruk internet.

"Jadi, kita juga harus punya kebijakan sendiri di dalam diri kita. Internet ini sebuah rimba raya, ada miliaran konten di situ. Bedanya dengan media lain, internet ini kita adalah tempat dimana kita sebagai pengguna ini adalah pengguna yang aktif. Jadi, informasi yang ingin kita akses ini adalah informasi yang memang harus kita cari dengan aktif," kata Enda.

Pun soal konten negatif di WhatsApp. Menurut Enda, persoalan utama dari permasalah ini adalah bagaimana melindungi anak-anak dari dampak negatif konten tersebut. Bagi orang dewasa, hal tersebut tentu bukan masalah besar, lantaran orang dewasa sejatinya memiliki kesadaran penuh atas dampak baik dan buruk pemanfaatan internet.

"Jadi memang kalau kita secara aktif mencari kata kunci sex misalnya atau porn. Itu akan keluar GIF itu. Tapi kalau kita tidak cari ya tidak akan keluar. Jadi mungkin yang dikhawatirkan adalah kalau misalnya anak-anak memasukkan kata kunci yang semacam itu," kata Enda.

Terkait itu, sesungguhnya WhatsApp telah menetapkan ketentuan dengan hanya mengizinkan pendaftaran dilakukan oleh pengguna di atas usia 13 tahun. WhatsApp berasumsi, pada usia tersebut, seseorang sudah memiliki kesadaran yang cukup baik untuk mengoperasikan fitur-fitur dalam aplikasi WhatsApp.

(ydp)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini