nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Belum Juga Terungkap, Ini Perjalanan Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan

Fahmy Fotaleno, Jurnalis · Kamis 02 November 2017 06:42 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 01 337 1806502 belum-juga-terungakap-ini-perjalanan-kasus-penyiraman-air-keras-novel-baswedan-wDYvpwfK4L.jpg Kondisi Novel Baswedan saat awal-awal perawatan (Foto: Antara)

JAKARTA - Sejumlah tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) hingga mantan pimpinan KPK pun meminta lembaga pimpinan Agus Rahardjo untuk segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan kasus Novel Baswedan dengan mendorong pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

Mantan Ketua KPK, Abraham Samad mengatakan penyelesaian kasus Novel lewat pembentukan TGPF tersebut agar tidak ada lagi para pegawai KPK yang menjadi korban penyerangan air keras.

"Dan kami khawatir kalau kasus novel tidak pernah diungkap, tidak menutup kemungkinan kasus-kasus ini kembali terjadi dan terjadi pada pegawai atau pimpinan KPK lain," katanya

Terhitung sudah lebih dar 200 hari kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan belum terungakap. Berikut perjalanan kasus tersebut:

1. Novel disiram air keras (11 April 2017)

Penyidik KPK Novel Baswedan mengalami teror siraman air keras. Novel disiram usai salat subuh sekitar pukul 05.10 WIBdi di Masjid Al Ikhsan dekat rumahnya.

Saat itu, Novel tiba-tiba dihampiri oleh dua orang laki-laki tak dikenal yang berboncengan sepeda motor dan langsung menyiramkan air keras ke arah wajahnya.

Setelah melakukan aksinya, kedua pelaku langsung melarikan diri. Sementara itu, Novel langsung dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara, untuk mendapat perawatan intensif.

2. Novel dirujuk ke Singapura (12 April 2017)

Novel Baswedan dirujuk ke rumah sakit di Singapura untuk mendapatkan perawatan yang insentif. Ia dibawa petugas rumah sakit dengan menggunakan mobil ambulans dan mendapat pengawalan dari sejumlah petugas KPK.

Sebelum dirawat di RS Jakarta Eye Center, Novel sempat dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading.

Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan, tindakan ini dilakukan agar Novel bisa segera pulih dengan cepat. ""Agar mendapatkan terapi yang lebih baik, kita merujuk Novel ke Singapura. Mohon doanya untuk kesembuhan beliau," ujarnya.

3. Novel sebut ada keterlibatan Jenderal Polisi (15 Juni 2017)

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Time, Novel Baswedan mengatakan bahwa serangan itu terkait sejumlah kasus korupsi yang ditanganinya.

Ia menduga ada "orang kuat" yang menjadi dalang serangan itu. Bahkan, dia mendapat informasi bahwa seorang jenderal polisi ikut terlibat.

"Saya memang mendapat informasi bahwa seorang jenderal polisi terlibat," kata Novel.

4. Polisi rilis sketsa wajah pelaku (29 Juni 2017)

Polisi membuat sketsa wajah satu dari dua terduga pelaku penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Polisi pun segera menyebarkan sketsa wajah ini.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan, sketsa dibuat berdasarkan dua orang yang melihat orang mencurigakan di masjid dekat rumah Novel. Orang itu diduga kuat pengendara motor yang terlibat penyiraman air keras kepada Novel.

Pelaku berjenis kelamin laki-laki, berusia sekitar 35 tahun, dengan tinggi badan kurang lebih 167 cm. Pelaku memiliki wajah bulat dengan kulit sawo matang dan berambut ikal keriting pendek.

5. Presiden panggil Kapolri (31 Juli 2017)

Presiden Joko Widodo memanggil Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk membahas perkembangan penyidikan kasus penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan.

Setelah mendengar penjelasan dari Tito terkait perkembangan kasus Novel, Jokowi belum memutuskan untuk membentuk tim pencari fakta.

Menurut Tito, Presiden masih memercayai kinerja kepolisian yang akan bekerja sama dengan penyidik KPK dalam menangani kasus ini.

6. Novel diperiksa di KBRI Singapura (14 Agustus 2017)

Novel Baswedan dimintai keterangan oleh pihak kepolisian terkait kasus penyiraman air keras di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura.

Ia menolak mengungkap siapa jenderal yang dikatakannya terlibat dalam perencanaan serangan zat asam terhadapnya.

Dalam pemeriksaan resmi pertama tentang kasus serangan zat asam itu, Novel menyatakan hanya membuka nama sang jenderal kepada suatu tim gabungan pencari fakta.

7. Novel dilaporkan Dirdik KPK Aris Budiman (21 Agustus 2017)

Selama menjalani perawatan di Singapura, masalah baru kembali menerpa Novel Bswedan. Kali ini ia dilaporkan oleh Brigjen Polisi Aris Budiman yang kini menjabat Dirdik KPK, melaporkan penyidik KPK, Novel Baswedan ke Polda Metro Jaya.

Laporan itu tertuang dalam nomor LP 3937/VIII/2017/PMJ/ditkrimsus tertanggal 21 Agustus 2017. Dan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dalam kasus itu pun sudah keluar.

Aris merasa terhina dengan pernyataan Novel Baswedan dalam surat elektronik atau email yang dikirimkan Novel.

8. Desakan pembentukan TPGF (31 Oktober 2017)

Salah satu mantan pimpinan KPK yang meminta pembentukan TGPF adalah mantan Ketua KPK Abraham Samad.

"Pada kesimpulan, mengusulkan ke pimpinan KPK untuk bisa menyampaikan ke Bapak Presiden untuk sesegera mungkin membntuk tim gabungan pencari fakta kasus Novel," kata Samad.

(fin)

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini