Kisah Umar Patek: Air Mata Sang Pentolan Jamaah Islamiyah di Bawah Bendera Merah Putih

Yudhistira Dwi Putra, Okezone · Rabu 01 November 2017 08:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 31 337 1806005 kisah-umar-patek-air-mata-sang-pentolan-jamaah-islamiyah-di-bawah-bendera-merah-putih-Cu3FClyinC.jpg Umar Patek usai menjadi pasukan pengibar bendera (FOTO: Okezone)

JAKARTA - Pagi itu, Umar Patek tampak gagah dengan balutan kemeja dan celana berwarna putih. Tangannya yang dibalut sarung tangan berwarna senada ia angkat mendekat ke dahi. Dalam gerakan hormat itu, sarung tangannya terlihat kontras dengan peci hitam yang menutupi rambut merahnya.

Upacara bendera dalam peringatan hari jadi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), Senin 30 Oktober 2017 di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Porong, Jawa Timur itu menjadi kali kelima Umar turut dalam pasukan pengibar Sang Saka.

"Umar Patek sudah lima kali menjadi pengibar bendera," kata Kepala Lapas Porong Riyanto melalui keterangan tertulisnya.

Riyanto menuturkan, sejak menjalani masa hukuman sebagai terpidana kasus terorisme pada 2014 lalu, pria bernama lain Hisyam bin Ali Zein itu mengalami banyak perubahan perilaku dan pemikiran.

Bahkan, terhitung dalam kurun waktu 2015 hingga 2017, Umar selalu terlibat sebagai pasukan pengibar bendera merah putih. Beberapa hari besar seperti Hari Kebangkitan Nasional, Hari Pancasila, hingga HUT Kemerdekaan RI ia lewati dengan prosesi sebagai pengibar bendera sakti.

Menurut Riyanto, Umar selalu antusias kala mendapat kesempatan mengibarkan merah putih. Bahkan, pada upacara kali ini, Umar terlihat amat emosional hingga meneteskan air mata setiap kali mengucap aba-aba siap.

"Umar Patek terlihat gembira lantaran mengenakan pakaian adat Madura dan selalu meneteskan air mata saat memberikan aba-aba siap," imbuh Riyanto.

Umar Patek memang banyak berubah. Kehidupan di penjara menghidupkan kembali semangat nasionalismenya. Umar bahkan beberapa kali terlibat dalam agenda deradikalisasi atau sejumlah misi kontra terorisme di bawah komando pemerintah Indonesia.

Sebut saja ketika dirinya maju sebagai negosiator dalam upaya pembebasan sejumlah warga negara Indonesia yang disandera oleh kelompok teroris, Abu Sayyaf di Filipina. Kala itu, Umar sendiri yang menawarkan bantuan tanpa imbalan kepada pemerintah untuk berbicara langsung kepada Al Habsy Misaya dan Jim Dragon, dua pemimpin kelompok Abu Sayyaf yang ia kenal baik.

"Tak ada syarat apa pun. Dari mulutku tak pernah keluar meminta imbalan pengurangan masa tahanan separuh atau 10 tahun," katanya di Malang.

Umar Patek, Terorisme dan Perjalan Pulangnya Mencari Nasionalisme yang Sempat Hilang

Nama Umar begitu mashyur, baik di kalangan kelompok radikal maupun di kalangan penegak hukum. Pria kelahiran tahun 1970 ini terlibat sebagai asisten koordinator lapangan dalam insiden peledakan Bom Bali I tahun 2002.

Atas berbagai sepak terjangnya, Umar bahkan sempat menjadi buronan terorisme nomor satu paling dicari oleh pemerintah dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Australia dan Filipina. Bahkan, pemerintah Ameria Serikat sampai menggelar sayembara untuk menangkap Umar. Kala itu, kepala Umar dihargai US$ 1 Juta.

Selain bom Bali I, Umar juga ditengarai berperan dalam berbagai pelatihan perang di Mindanao, Filipina. Tak main-main, dalam pelatihan perang dibawah naungan JI itu, Umar menjabat posisi sebagai komandan lapangan. Bahkan, teroris sekelas Noordin M Top pun diketahui pernah menjadi muridnya.

Pada 14 September 2006, Patek sempat dikabarkan terbunuh di Filipina, tepatnya di Provinsi Zulu. Namun, laporan tersebut tak terkonfirmasi sebagai sebuah fakta. Patek pun tetap dicari, status buronan pun tetap melekat kepadanya.

Pasca kematian pentolan JI lainnya, Dulmatin, Umar sempat digadang-gadang sebagai amir atau pemimpin kelompok selanjutnya. Seperti Dulmatin, kewajiban Umar sebagai amir adalah mengkoordinasi, menjalin komunikasi, mempersiapkan persenjataan hingga mengelola kaderisasi.

Umar tak kalah berbahaya Dulmatin. Meski kepala sang pendahulu dihargai lebih tinggi oleh pemerintah Amerika Serikat, yakni sebesar US$ 10 juta.

Tak seperti Dulmatin yang berpengalaman mengelola pergerakan, Umar cenderung berdiri di belakang layar. Ia adalah ahli strategi yang sangat handal. Selain itu, Umar juga dikenal dengan kemampuan intelijen dan spionase (penyamaran) yang mumpuni.

Pada 11 Agustus 2011, Umar yang tengah berada di Pakistan terekstradisi. Sesampainya di Indonesia, Umar langsung ditahan.

Kemudian, pada 21 Juni 2012, pengadilan Indonesia menghukum Umar dengan 20 tahun penjara terkait Bom Bali I. Ia dinyatakan bersalah atas enam tuduhan, termasuk keterlibatannya dalam serangan terhadap gereja-gereja pada malam Natal 2000.

Jaksa tidak menuntut hukuman mati. Selama persidangan Umar meminta maaf kepada keluarga korban dan menyatakan bahwa ia tidak melakukan apa pun selain berkutat dengan bahan kimia campuran untuk bahan peledak.

Selain itu, Umar juga menyatakan bahwa sasarannya selalu Israel dan bukan "Barat". Menyatakan "Saya mempertanyakan mengapa di Bali? Jihad harus dilakukan di Palestina bukan ... Siapa yang menjadi korban, mereka orang Barat, bukan Israel. Bahkan banyak orang Indonesia menjadi korban. Mereka tidak memiliki hubungan ke Palestina," tutur Umar.

(ydp)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini