Koalisi Nasional Masyarakat Sipil Gugat Iklan Rokok ke MK

Ahmad Sahroji, Okezone · Selasa 31 Oktober 2017 05:52 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 30 337 1805231 koalisi-nasional-masyarakat-sipil-gugat-iklan-rokok-ke-mk-HY0RqOsSpn.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Sejumlah organisasi melayangkan Permohonan Pengujian (gugatan) ke Mahkamah Konstitusi (MK), terhadap Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Pers. Organisasi yang terdiri dari PP Pemuda Muhammadiyah, PP Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM), PP Nasyiatul Aisyiyah (NA) bersama “Indonesian institute for Social Development" (IISD) memprotes iklan rokok di sejumlah media massa.

"Dalil yang menunjukkan atau membuktikan bahwa walaupun rokok adalah produk legal, tetapi rokok bukanlah produk yang boleh beriklan, karena rokok bukanlah produk normal seperti barang konsumen lainnya," kata Koordinator Koalisi Nasional Masyarakat Sipil untuk Pelarangan Iklan Rokok, Tri Ningsih, Selasa (31/10/2017).

Selain itu, lanjut dia, banyak juga produk-produk yang legal secara hukum, tetapi karena pertimbangan dampak atas penggunaannya, zat yang tergantung didalamnya, bahkan atas dasar program pemerintah produk ini dilarang beriklan seperti minuman berlakohol, susu formula dan obat-obatan tertentu.

"Kami berprasangka baik kepada Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang memeriksa perkara ini, akan melakukan sidang pemeriksaaan permohonan ini sampai selesai sesuai dengan alur hukum acara Judcial Review di Mahakamah Konstitutsi," ungkap dia.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Kesehatan menyebutkan, bahwa perokok pemula usia 10-14 tahun meningkat sejumlah 8,5% pada tahun 1995 menjadi 18% pada tahun 2015. Demikian juga perokok usia 16-19 tahun meningkat dari 7,1 % pada tahun 1995 menjadi 20,5% pada tahun 2014.

"Sementara target industri rokok untuk memproduksi 240 milyar batang rokok pada tahun 2014 telah terlewati menjadi 360 milyar batang pada tahun tersebut, dan kini industri rokok akan meningkatkan produksinya menjadi 520 milyar batang pada tahun 2020," pungkas dia.

(fin)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini