OKEZONE STORY: Peran Kongres Pemuda II yang Jadi Cikal Bakal Lahirnya Sumpah Pemuda

Hantoro, Okezone · Sabtu 28 Oktober 2017 08:31 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 28 337 1804002 okezone-story-peran-kongres-pemuda-ii-yang-jadi-cikal-bakal-lahirnya-sumpah-pemuda-3NBKcNE5c0.jpg Ilustrasi miniatur saat Kongres Pemuda II. (Foto: Hantoro/Okezone)

PERTEMUAN para pelajar dari seluruh wilayah Indonesia yang dilakukan di sebuah rumah Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta Pusat, ternyata memberikan andil besar terhadap peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Kegiatan tersebut bernama Kongres Pemuda II. Ini merupakan kelanjutan dari Kongres Pemuda I 1926 yang digelar di kawasan Lapangan Banteng.

Rumah yang dahulu menjadi wisma para mahasiswa dari seluruh Nusantara itu kini menjadi Museum Sumpah Pemuda. Ketika Okezone berkesempatan berkunjung, terlihat banyak penggambaran kegiatan kepemudaan yang dilaksanakan di sana.

"Ini sekilas sejarah Sumpah Pemuda, ada benda-benda peninggalan waktu Kongres Pemuda II, ada juga suasana waktu museum ini jadi tempat kos," ujar Bakti Ari, staf informasi Museum Sumpah Pemuda, beberapa waktu lalu.

(Baca: OKEZONE STORY: Jelang Momen 28 Oktober, Mengungkap Ketegangan Kongres Pemuda II yang Diintai Puluhan Intel Belanda)

Di ruang tengah museum terdapat tujuh patung yang menggambarkan jalannya Kongres Pemuda II. Dipimpin Soegondo Djojopuspito, yang juga ketua Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), terlihat mereka serius membahas kemajuan bangsa.

Kali ini kongres membahas semangat persatuan pemuda, pendidikan, nasionalisme, demokrasi, serta organisasi kepanduan (pramuka). Kemudian diperdengarkan lagu 'Indonesia' karya Wage Rudolf Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres.

Ketika berlangsungya Kongres Pemuda II, timbul suasana yang sangat tegang, karena diintai 30-an petugas intelijen Pemerintah Hindia-Belanda. Mereka bertugas mencegah kongres mengarah ke aksi kemerdekaan Indonesia.

(Baca: Momen 28 Oktober, Museum Sumpah Pemuda Dibanjiri Pengunjung)

Para pemuda Tanah Air pun sadar tengah diintai, maka itu kegiatan kongres diarahkan ke hal-hal yang bersifat pemersatu. Pengintaian para intel Belanda ini sebenarnya berawal dari Kongres Pemuda I yang dihadiri kawula muda dari berbagai suku Indonesia. Mereka khawatir para pemuda nantinya menuntut kemerdekaan.

"Nah akhirnya sewaktu Kongres Pemuda II ini intelnya diperbanyak, dari yang semula hanya 5–10, di sini bisa 30 lebih. Para tokoh pemuda sadar mereka diintai, karena saat Kongres Pemuda I hingga menuju Kongres Pemuda II sudah dimata-matai, sudah diintai kegiatan seperti apa. Bahkan waktu untuk mengurus izin ke Pemerintah Hindia-Belanda, itu juga sulit, enggak gampang. Syaratnya itu, kongres boleh digelar tapi harus ada intel yang mengawasi. Jadi di sini ada intelijen semua," papar Bakti Ari.

Kongres Pemuda II pun berlangsung sesuai rencana. Sekira 750 pelajar yang hadir menyetujui pembentukan rumusan. Konon kabarnya rumusan Sumpah Pemuda juga terdapat andil dari Ir Soekarno, sebab diketahui ia kerap datang ke rumah tersebut untuk melakukan diskusi serta kegiatan pergerakan lainnya.

(Baca: OKEZONE STORY: Jelang Momen 28 Oktober, Kenali Asal Mula Museum Sumpah Pemuda)

Kemudian kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kesepakatan. Oleh ratusan pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai sumpah setia yang berbunyi:

Pertama

Kami poetra dan poetri Indonesia,

Mengaku bertoempah darah jang satoe,

Tanah Indonesia.

 

Kedua

Kami poetra dan poetri Indonesia,

Mengakoe berbangsa jang satoe,

Bangsa Indonesia.

 

Ketiga

Kami poetra dan poetri Indonesia,

Menjoendjoeng bahasa persatuan,

Bahasa Indonesia.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini