nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

HARI SUMPAH PEMUDA: Muhammadiyah Memaknai Khitah Media Sosial sebagai Pemersatu Bangsa

Fahreza Rizky, Jurnalis · Sabtu 28 Oktober 2017 07:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 10 28 337 1803986 hari-sumpah-pemuda-muhammadiyah-memaknai-khitah-media-sosial-sebagai-pemersatu-bangsa-FhaFVA2oii.JPG Ilustrasi penggunaan media sosial. (Foto: Ist)

JAKARTA – Mimpi anak-anak muda untuk mendisiplinkan diri membangun bangsa tercetus melalui Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Dalam forum itu mereka bersepakat bersatu dan memupus sekat-sekat perbedaan yang ada.

Selama 89 tahun sudah peringatan ikrar para pemuda tersebut yang bertujuan memupus perbedaan demi demokrasi dan pembebasan bangsa dari ketertindasan rezim kolonial. Kini berkah kebersatuan yang mereka perjuangkan dinikmati oleh khalayak luas.

Pada tahun ini, Indonesia kembali merayakan momen bersejarah itu untuk ke-89 kalinya. Di tengah berbagai persoalan yang kian berkecamuk, perayaan tersebut dapat menjadi refleksi dalam rangka merajut kembali persatuan yang kini mulai luruh bersama kepentingan yang ada.

Luruhnya kebersatuan bangsa salah satunya disebabkan media sosial. Ia bagaikan pisau bermata dua: membawa anugerah atau bencana.

Berdasarkan hasil survei Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) tentang wabah hoax nasional pada 13 Februari 2017, disebutkan bahwa medsos menjadi sarana utama peredaran hoax. Maraknya informasi palsu ini berpotensi menimbulkan perpecahan, instabilitas politik, dan gangguan keamanan.

Sementara hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada Desember 2016 menyebut bahwa pengguna internet di Indonesia didominasi kalangan muda yakni usia 25–34 tahun sebesar 75,8 persen, 10–24 tahun 75,5 persen, 35–44 tahun 54,7 persen, 45–54 tahun sebesar 17,2 persen, dan 55 tahun ke atas 2 persen.

Artinya, ada kaitan kuat antara pemuda dan media sosial. Lantas, bagaimanakah elemen masyarakat sipil menyikapi permasalahan ini dalam kaitannya dengan refleksi Sumpah Pemuda?

Okezone berkesempatan mewawancarai pimpinan salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Muhammadiyah beserta organisasi otonom (ortom) di bawahnya.

Ketua PP Muhammadiyah Profesor Dadang Kahmad memberikan refleksi momentum peringatan 89 tahun Sumpah Pemuda dan kaitannya dengan media sosial. Menurut dia, inti dari Sumpah Pemuda ialah persatuan, sedangkan medsos diartikan sebagai alat pemersatu bangsa.

Dadang mengingatkan, pemuda kekinian tidak boleh melupakan perjuangan pemuda dahulu. Salah satu cara untuk menguatkan ingatan perjuangan mereka ialah dengan menjaga kebersatuan, baik di dunia nyata atau di dunia maya.

"Saya kira pemuda sekarang jangan kehilangan semangat itu. Pakai media apa pun untuk mmenyatukan bangsa Indonesia. Kita itu negara paling multikultur, pluralis,dihuni oleh 700 lebih suku bangsa dan hampir 1000 lebih bahasa daerah. Kalau kita tidak mengelola (medsos) secara baik dan pemuda tak berperan, itu kita khawatirkan akan terjadi perpecahan bangsa," kata Dadang saat berbincang dengan Okezone, Sabtu (28/10/2017).

Dadang menuturkan, momentum peringatan Sumpah Pemuda sangat baik untuk menyatukan bangsa Indonesia setelah sebelumnya sempat dirundung berbagai persoalan. Terlebih, berbagai kekisruhan belakangan ini justru bermula dari media sosial.

Sebagai pemimpin Persyarikatan, Dadang mengaku telah memberikan arahan kepada seluruh warga Muhammadiyah: termasuk di dalamnya kalangan pemuda, agar bijak menggunakan media sosial. Bahkan, organisasi yang lahir pada 1912 ini juga telah memiliki pedoman untuk menggunakan media sosial bagi warganya, yaitu berupa rumusan fiqih informasi dan kode etik bermedia sosial.

"Di Muhammadiyah saya anjurkan medsos itu digunakan untuk hal-hal konstruktuif dan bermanfaat, tidak dipakai untuk hal negatif. Kami mengeluarkan etika medsos agar kita hendaknya arif dan bijaksana untuk menggunakannya demi terciptanya persatuan dan kesatuan masyarakat. Sehingga tidak terjadi konflik yang disebabkan oleh medsos," terangnya.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung ini memahami bahwa media sosial didominasi penggunaannya oleh kalangan muda. Karenanya, ia terus memberi anjuran kepada mereka agar tidak terpengaruh pada isu negatif dan dan hoax yang berseliweran di media sosial.

"Jangan jadikan medsos untuk permusuhan. Bahkan kalau ada orang yang menghina kita ya sebaiknya tidak usah dibalas lah," tutur Dadang.

Di sisi lain, ia menyoroti kondisi politik Tanah Air yang dinilai terlalu gaduh. Menurut Dadang, media sosial kerap dijadikan alat untuk mengintimidasi lawan politiknya hingga tersudut. Bentuknya pun beragam. Mulai dari penyebaran berita bohong, hingga akhirnya menyebabkan kekisruhan di dunia maya. Tak ayal, kericuhan itu berlanjut hingga dunia nyata.

"Ada kelompok yang memproduksi hoax untuk pencitraan, memenangkan pertarungan, dan mengeliminasi lawannya. Saya ingatkan pada pemuda Muhammadiyah dan (kalangan muda Persyarikatan lainnya) untuk (bijak bermedia sosial). (Kalau menyebarkan hoax) itu pertanggung jawabannya sama Allah. Ancamannya sangat berat. Lihat surah An-Nuur ayat 11-21. Dalam 10 ayat itu Allah memberikan larangan yang berat agar orang tidak menyebarkan atau memproduksi berita bohong," ungkap Dadang.

Ia menambahkan, regulasi pemerintah mengenai aturan bermedia sosial, yakni lewat Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dirasa sudah cukup bagi masyarakat. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah konsisten serta tidak tebang pilih dalam menegakkan aturan tersebut.

Selain itu, Dadang juga meminta pemerintah melibatkan tokoh-tokoh agama untuk bersama-sama menjaga media sosial dari fitnah dan berita bohong. "Kumpulkan tokoh agama, juga ada alat penekan bahwa berdosa bagi penyebar atau bisnis berita bohong. Pemerintah harus konsisten (menegakkan aturan) dan harus dihindari (tebang pilih)," ucapnya.

Pemuda adalah Kunci Kembalikan Khitah Medsos untuk Persatuan

Terpisah, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan media sosial bagaikan senjata, tergantung siapa yang mengendalikannya. Bagi dia, modal utama yang harus dimiliki pemuda di tengah derasnya informasi yakni merawat akhlak yang baik dan nalar yang sehat.

"Socmed bak senjata saja, tergantung man behind the gun. Bila socmed digunakan secara maksimal untuk meninggikan keadaban publik, maka nsosmed bisa menjadi alat yang mempersatukan dan menggerakkan potensi anak muda negeri, untuk memajukan. Namun sebaliknya bila digunakan memecah belah maka sangat membahayakan. Pemuda penting membangun kembali tradisi dialog yang konstruktif bukan monolog," tutur Dahnil kepada Okezone.

Dia menuturkan, Pancasila sebagai bahasa persatuan lahir dari tradisi dialog. Namun saat ini kehadiran media sosial justru mencerabut tradisi tersebut. Apalagi, kini medsos dipenuhi akun-akun bodong yang kerap mengadu domba bangsa. "Mangkanya perlu menjaga tradisi dialog yang otentik antar anak bangsa," singkatnya.

Sementara itu, Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah, Ichsan Marsha menegaskan pemuda kekinian harus menggaungkan literasi media sosial dalam rangka membendung derasnya hoax. Dengan begitu, persatuan antar sesama anak bangsa dapat kembali diraih, sebagaimana komitmen Sumpah Pemuda 1928. Lebih dari itu, medsos sejatinya merupakan sarana efektif untuk menggembirakan dakwah amar makruf nahi munkar demi kebersatuan bangsa.

"Pemuda saat ini harus menggalakkan program literasi media sosial demi persatuan bangsa dan mengembalikan roh Sumpah Pemuda dahulu kala. Selain itu medsos juga kita kembalikan manfaatnya sebagai sarana menggembirakan dakwah untuk kebersatuan bangsa, bukan sebagai lahan peperangan. Momentum ini untuk mempertegas kembali," ujar Ichsan.

Pemuda Muhammadiyah, kata Ichsan, telah melakukan serangkaian pembinaan dan advokasi terkait derasnya informasi di media sosial saat ini. Beberapa di antaranya dengan menggelar seminar anti-hoax, mempelajari dan mengamalkan fiqih informasi yang telah dikeluarkan PP Muhammadiyah, serta mengadvokasi persoalan yang muncul di medsos.

"Kita sudah membuat kegiatan literasi media sosial, baik formal atau informal. Dalam Islam sudah jauh di atur dalam menyaring dan menerima informasi harus disertai dengan tabayyun (konfirmasi). Kita juga mengadvokasi melalui pelaporan situs provokatif Seword.com. Itu bagian kita, pemuda, untuk mengawal medsos dan menggembirakan dakwah amar makruf nahi munkar," terang Ichsan.

Di sisi lain, Ketua DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) DKI Jakarta, Ali Akbar, mengungkapkan sejatinya pemuda memiliki peran strategis untuk mengembalikan media sosial kepada khittahnya, yakni alat pemersatu bangsa. Ali menekankan, pemuda harus giat membaca dan menulis, serta memahami konteks dari informasi yang berseliweran di media sosial. Dengan begitu, korban hoax dapat diminimalisir.

"Pemuda memiliki peran strategis untuk mengembalikan medsos pada khittahnya demi persatuan di antara kita. Literasi medsos menjadi sesuatu yang harus digalakkan saat ini. Selain itu, kita juga tidak boleh kagetan merespon perbedaan pandangan dengan yang lainnya, baik di dunia nyata, ataupun di dunia maya. Pemuda memiliki peran besar untuk mengembalikan itu semua. Momen yang tepat adalah di Sumpah Pemuda ke-89 ini," pungkas Ali.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini