nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rekomendasi Hasil Rembuk Nasional 2017: Intoleransi Ancam Kebhinekaan

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Selasa 24 Oktober 2017 16:13 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 10 24 337 1801442 rekomendasi-hasil-rembuk-nasional-2017-intoleransi-ancam-kebhinekaan-UBkjyknwy4.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Masalah intoleransi dan paham radikal yang berkembang belakangan ini mulai mengkhawatirkan dan mendapat perhatian khusus dalam Rembuk Nasional 2017 yang diselengarakan di Jiexpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin kemarin.

Pada tahun ini, pantia Rembul Nasional bersama Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres)‎ secara khusus membentuk forum Rembug Nasional yang membahas topik 'Merawat Kebhinekaan dan Memperkokoh NKRI'.

Permasalahan yang dihadapi Indonesia dalam merawat kebhinekaan, salah satunya adalah meruncingnya intoleransi. Menurut survei Wahid Institute, 7,7 % responden bersedia melakukan tindakan radikal, dan itu setara dengan 11 juta penduduk di Indonesia. Hal itu dikatakan Policy and Research Senior Officer Wahid Institute Alamsyah M.Djakfar.

Menurut Djakfar, Indeks toleransi masyarakat muslim terhadap suatu kelompok yang tidak disukai mencapai tingkat 49%. Adapun ketika ditanyakan kelompok mana yang tidak disukai adalah seperti LGBT, Komunis, Yahudi, Kristen hingga ke Wahabi.

"Dan ketidaksukaan terhadap kelompok ini sepertinya akan terus muncul dan bisa dipolitisasi hingga 2019," kata Djakfar dalam keterangan tertulisnya.

Peserta Rembug Nasional juga banyak menyoroti fungsi Pancasila sebagai dasar negara yang mulai memudar. Adapun rekomendasi yang dibacakan Ketua Bidang Rembuk II, Prof Paschalis Maria Laksono ini terkait ranah hukum, pelembagaan Kebhineka Tunggal Ikaan, serta strategi merawatnya.

Terkait ranah Hukum, Rembuk Nasional menyarankan dilakukannya amandemen peraturan perundangan yang mengancam Kebhinneka Tunggal Ikaan, serta menunda dan membatalkan proses RUU yang diskriminatif.

"Pemerintah juga harus ambil inisiatif menyusun peraturan perundangan yang merawat kebhinnekaan dan memperkokoh NKRI, termasuk di antaranya meninjau beberapa kewenangan dalam otonomi daerah," ucapnya.

Selain itu, lanjut Djakfar, penegakan hukum yang tegas dan kuat terhadap perbuatan-perbuatan intoleran, rasialis, dan diskriminatif terhadap keragaman, baik dalam hal agama, budaya, dan politik, mutlak dibutuhkan.

Terkait Pelembagaan Kebhinneka-Tunggal-Ikaan, pemerintah disarankan melaksanakan secara selaras dan berkesinambungan pembudayaan (internalisasi) nilai-nilai kebhinneka tunggal ikaan dalam pendidikan dengan memastikan tersedia guru berkompeten dalam jumlah yang memadai yang dihasilkan oleh proses pendidikan guru yang bernaluri bhinneka tunggal ika.

"Perlu juga dilakukan reformasi kurikulum baik pada pendidikan sipil, militer, dan kedinasan. Selain itu perlu Pelembagaan (institusionalisasi) nilai bhinneka tunggal ika sebagai indikator utama pada semua program yang didanai oleh APBN dan APBD," tegasnya.

Beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk merawat kebhinekaan antara lain dengan membuka ruang-ruang interaksi antar-agama, budaya, dan golongan dengan mengatur badan penyiaran nasional dan daerah guna mendukung dan merawat kebhinekaan bersama.

Selain itu, perlu juga memperkuat partisipasi publik melalui peran seni, budaya lokal, dan kreativitas oleh berbagai pemangku kepentingan, utamanya generasi muda, sesuai dengan acuan kearifan budaya lokal dan teknologi informatika.

Poin-poin rekomendasi tersebut telah disampaikan langsung kepada Presiden Joko Widodo dalam acara puncak Rembuk Nasional 2017, tadi malam.

Rembuk Nasional 2017 yang mengangkat tema besar Membangun untuk Kesejahteraan Rakyat adalah Rembuk Nasional ketiga yang telah dilakukan pemerintah.

Hal yang membedakan Rembuk Nasional 2017 dari dua acara rembug sebelumnya adalah rembug kali ini didahului Rembug Daerah yang diselenggarakan di 16 Perguruan Tinggi terpilih di 14 Provinsi, mulai dari Universitas Cendrawasih di Jayapura sampai Universitas Syiah Kuala di Aceh, dan masing-masing mengambil pilihan topik yang bebeda.

(ulu)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini