Ketika Pemuda Berkomitmen pada Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

Tim Okezone, Okezone · Senin 23 Oktober 2017 22:30 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 23 337 1801017 ketika-pemuda-berkomitmen-pada-kesetaraan-gender-dan-pemberdayaan-perempuan-5gFfaU5Auw.jpg

JAKARTA – Pada 2030 dinilai sebagai saatnya perempuan dan laki-laki mendapatkan perlakuan setara. Hal itu seperti diungkapkan Shinta Nurfauzia, Co Founder Lemonilo.

“Perempuan yang memilih karir bukanlah perempuan yang tidak sayang anak dan keluarga, jika kita sebagai masyarakat menginginkan hal ini dan mengubah diri kita untuk menolak kultur yang seperti ini, suatu hari hukum akan berbicara, hukum akan memperbolehkan laki-laki juga bisa mengambil cuti ayah, cuti yang memperbolehkan laki-laki untuk mengurus rumah tangga sama seperti perempuan, karena ini sudah tahun 2017 ini. 2030 saatnya perempuan dan laki-laki setara,” paparnya pada acara “Visi Pemuda 2030: Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan di Indonesia”, Jumat (20/10/2017).

Selain Shinta, dalam acara ini hadir pula Vice President Gojek Dayu Dara, Ambassador for G(irls)20, Nariswari K Nurjaman, dan National Head of Public Relations Association Internationale des Etudiantes en Sciences Economiques at Commerciales (AIESEC) Indonesia Rochmad Siddhiqie.

Keempat pembicara tampil menyampaikan pandangan dan pengalaman terkait isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dari kacamata generasi muda. Visi Pemuda 2030 mengambil semangat peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, peristiwa tersebut dikenang sebagai momen menguatnya nasionalisme di kalangan pemuda untuk menyatukan tekad melepaskan diri dari belenggu kolonialisme.

Pada konteks 89 tahun setelah peristiwa Sumpah Pemuda, Visi Pemuda 2030 merupakan refleksi kumpulan pemikiran generasi muda Indonesia yang berupaya menjawab beragam tantangan bangsa di masa depan. Salah satunya adalah kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan yang merupakan salah satu dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs telah berjalan selama dua tahun sejak Sustainable Development Summit yang berlangsung pada 25-27 September 2015. Pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan dari 193 negara anggota PBB tersebut berhasil mengesahkan dokumen yang disebut dengan Sustainable Development Goals (SDGs ) dan memuat 17 tujuan yang terbagi 169 target untuk menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Acara yang digelar pada 20 Oktober 2017 ini dibuka oleh Shinta Widjaja Kamdani – Pendiri dan Ketua Pembina Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), Anita Nirody - UN Resident Coordinator, dan Sri Danti Anwar – Deputi untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Shinta W. Kamdani mengatakan, kesetaraan termasuk juga kesetaraan gender merupakan spirit dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan juga cita-cita pembentukan bangsa ini, sebagaimana yang diimpikan oleh para pemuda di tahun 1928.

“Kami dari Indonesia Business Coalition for Women Empowerment, sebagai koalisi perusahaan berkomitmen untuk mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan untuk mewujudkan cita-cita ini,” katanya.

Sementara Anita Nirody menekankan tentang kondisi ketidaksetaraan gender yang masih terjadi dan perlunya keterlibatan berbagai pihak untuk menanganinya.

“Kita semua memiliki peran penting dalam mempercepat tercapainya kesetaraan gender - perempuan, anak perempuan, laki-laki, dan anak laki-laki – sehingga hukum dan kebijakan yang tepat tersedia agar perempuan dan anak perempuan berdaya, serta seluruh masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk meraih mimpinya,” ungkap Anita.

Acara terbagi dalam dua sesi perbincangan. Setelah para panelis generasi muda tampil di sesi 1 melalui Visi Pemuda 2030, sesi kedua perbincangan menampilkan panelis: Vice President Director PT Pan Brothers - Anne Patricia Sutanto, Government & Public Affairs General Electric Indonesia - Donna M Priadi, dan CEO UnLtd Indonesia - Romy Cahyadi.

Para panelis menyampaikan pandangan-pandangannya khususnya merespons apa yang disampaikan oleh panelis generasi muda di bagian ‘Visi Pemuda 2030’. Pilihan format acara ini berupaya untuk menunjukkan proses komparasi dan pertukaran pengalaman serta pandangan dari kedua generasi yang diharapkan akan melahirkan inisiatif-insiatif 'segar' sebagai bentuk kontribusi pada akselerasi agar Indonesia mampu mencapai Tujuan 5 (Kesetaraan Gender) dari Tujuan Pembangunan Keberlanjutan (SDGs) di 2030 mendatang.

“Kesetaraan gender merupakan syarat mutlak tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals. Bukan hanya untuk Tujuan Lima, tapi juga untuk keenambelas tujuan lainnya di SDGs,” ucap Direktur Eksekutif IBCWE Dini Widiastuti mengenai pentingnya melibatkan berbagai kelompok masyarakat dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

“Visi Pemuda 2030” mengambil semangat peristiwa Sumpah Pemuda. Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, peristiwa tersebut dikenang sebagai momen menguatnya nasionalisme di kalangan pemuda untuk mendorong perubahan. Visi Pemuda 2030 merupakan refleksi kumpulan pemikiran generasi muda Indonesia yang berupaya menjawab beragam tantangan bangsa di masa depan. “Visi Pemuda 2030: Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan di Indonesia” diselenggarakan oleh IBCWE, UN Women, United Nations Development Programme (UNDP) dan AIESEC.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini