OKEZONE STORY: Jelang Momen 28 Oktober, Kenali Asal Mula Museum Sumpah Pemuda

Hantoro, Okezone · Sabtu 14 Oktober 2017 07:31 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 13 337 1795121 okezone-story-jelang-momen-28-oktober-kenali-asal-mula-museum-sumpah-pemuda-GjUKCpah9z.jpg Museum Sumpah Pemuda pada masa lalu. (Foto: Ist)

KALA itu cuaca mendung cenderung gerimis menemani Okezone yang berkesempatan bertandang ke sebuah rumah lawas di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta Pusat 10420. Tak lain dan tak bukan, ini merupakan Museum Sumpah Pemuda yang sangat bersejarah di momen 28 Oktober 1928. Bangunan seluas 460 meter persegi ini mudah ditemukan karena satu-satunya yang bergaya art deco dengan cat putih bersih.

Setiap warga negara Indonesia (WNI) pasti sudah mafhum dengan peringatan gerakan para pemuda perwakilan dari seluruh penjuru Nusantara itu, juga rumah yang dijadikan penyimpanan benda-benda peninggalannya. Namun, mesti tahu lebih jelas sejarah bangunan ini berubah menjadi tempat penting di Ibu Kota.

Museum Sumpah pemuda sebenarnya adalah sebuah rumah kontrakan milik warga keturunan bernama Sie Kong Liang yang dibangun sejak awal abad ke-20. Lalu pada 1908, rumah ini disewa pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) dan RHS (Rechts Hooge School) untuk tempat tinggal dan belajar, dan dikenal dengan nama Commensalen Huis. Para mahasiswa menyewanya seharga 12,5 gulden per orang setiap bulannya atau setara 40 liter beras waktu itu.

"Sebelum jadi Museum Sumpah Pemuda, ini adalah tempat pemondokan mahasiswa. Ini salah satu ruang belajar. Kalau museum ini sekarang dikelola Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sempat berpindah-pindah (pengelolaannya), mulai Departemen Kebudayaan dan Pariwisata kemudian balik lagi ke Kemendikbud," kata staf informasi Museum Sumpah Pemuda Bakti Ari kepada Okezone, sambil menunjukkan patung dan benda koleksi yang dipamerkan, Sabtu (14/10/2017).

(Baca: Momen 28 Oktober, Museum Sumpah Pemuda Dibanjiri Pengunjung)

Ia menerangkan, mahasiswa yang pernah tinggal di rumah kawasan Kwitang tersebut adalah Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Soerjadi, Assaat, Abu Hanifah, Abas, Hidajat, Ferdinand Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali, Mohammad Tamzil, Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan Katjasungkana. Selanjutnya, merekalah yang menjadi tokoh pergerakan di momen 28 Oktober.

Kemudian pada 1927, jelas Bakti, Gedung Kramat 106 digunakan berbagai organisasi pemuda untuk melakukan pergerakan. Ir Soekarno dan tokoh-tokoh negara lainnya sering hadir di sana. Mereka biasanya membicarakan format perjuangan dengan para penghuni rumah kontrakan ini.

Dijelaskan, di Gedung Kramat 106 pernah diadakan Kongres Sekar Roekoen, Pemuda Indonesia, dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Rumah tersebut juga jadi sekretariat PPPI dan Majalah Indonesia Raja yang diluncurkan mereka.

"Ada juga penggambaran gerakan kepanduan (pramuka), karena waktu Kongres Pemuda II, mereka hadir perwakilannya. Di tempat ini, dibahas waktu sidang terakhir itu mengenai kepanduan. Makanya di sini kita tampilkan sekilas tentang kepanduan. Karena kepanduan ini salah satu organisasi yang bisa membentuk karakter para pemuda. Jadi benar-benar disenangi waktu itu. Pemuda yang tinggal di sini juga ikut kepanduan," papar Bakti.

(Baca: Momen 28 Oktober, Serunya Belajar di Museum Sumpah Pemuda)

Dikarenakan sering digunakan berbagai organisasi untuk rapat, Gedung Kramat 106 yang awalnya bernama Langen Siswo kemudian diubah menjadi Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw (Gedung Pertemuan).

Lalu pada 15 Agustus 1928, di rumah ini diputuskan akan diselenggarakan Kongres Pemuda II sekira Oktober. Ketua PPPI Soegondo Djojopoespito terpilih sebagai pemimpinnya.

Sebelumnya di Kongres Pemuda I berhasil diselesaikan perbedaan-perbedaan sempit berdasarkan kedaerahan dan tercipta persatuan bangsa Indonesia. Lalu pada Kongres Pemuda II diharapkan melahirkan keputusan lebih maju.

Lalu benar saja, di Gedung Pertemuan dihasilkan keputusan signifikan yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Setelah peristiwa bersejarah itu banyak penghuninya yang hijrah karena sudah lulus belajar.

Usai para pelajar tidak melanjutkan sewanya, pada 1934, Gedung Pertemuan kemudian disewakan kepada Pang Tjem Jam selama 1934–1937. Pang Tjem Jam menggunakan gedung itu sebagai rumah tinggal. Setelah itu, penghuninya pun berganti-ganti hingga pada 1973 diambil alih Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan diubah menjadi Museum Sumpah Pemuda.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini