nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Angka Perceraian Akibat Medsos di 5 Daerah Ini Tinggi, Bekasi Urutan Teratas

Ahmad Sahroji, Jurnalis · Jum'at 06 Oktober 2017 06:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 10 05 337 1789295 angka-perceraian-akibat-medsos-di-5-daerah-ini-tinggi-bekasi-urutan-teratas-1RwXK2wc4c.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Arus perkembangan teknologi komunikasi dewasa ini sudah menjadi bagian dari kebutuhan pokok masyarakat. Media sosial misalnya, fungsinya sebagai wadah komunikasi semakin mengintegrasi semua kebutuhan masyarakat.

Akan tetapi, tidak sedikit dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan media sosial. Tingginya kasus perceraian di beberapa daerah di Indonesia disebut-sebut juga akibat pengaruh medsos.

Berikut data yang berhasil dirangkum Okezone dari berbagai sumber:

1. Bekasi (1.862 kasus)

Penggunaan media sosial yang semakin berkembang di Bekasi dituding menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka perceraian. Pengadilan Negeri Agama Bekasi mencatat perceraian akibat sosial media terus meningkat, mencapai ratusan kasus setiap bulannya.

”Fakta persidangan yang kami pantau, itu akibat sosmed. Setiap bulannya meningka,” ujar Humas Pengadilan Negeri Agama Kota Bekasi Jazilin pada Selasa (3/10/2017).

Hingga Oktober ini, kata dia, tercatat 2.231 kasus perceraian yang ditangani. Sebanyak 1.862 kasus tersebut diakibatkan pihak ketiga dan kasus ekonomi sebanyak 111.

2. Depok (157 kasus)

Panitera Pengadilan Agama Kota Depok Entoh Abdul Fatah mengatakan, ratusan pasangan suami istri di Depok, Jawa Barat, bercerai karena penggunaan media sosial. Tercatat sebanyak 157 pasangan bercerai karena sejumlah akun media sosial.

"Fakta persidangan yang kami pantau, itu akibat sosmed," kata Entoh.

3. Balikpapan (1.535 kasus)

Pengadilan Agama Kota Balikpapan mencatat, angka perceraian meningkat jadi 1.535 kasus pada tahun ini. Tahun lalu, hanya terjadi 1.460 kasus perceraian.

Media sosial (medsos) disebut-sebut salah satu faktor penyebab perceraian. Percekcokan pasangan suami istri terkadang disebabkan hal sepele yang diunggah di media sosial.

“Ada beberapa perkara karena pasangannya cemburu saat mendapati ada hubungan lain di media sosial,” kata Hakim Pengadilan Agama Kota Balikpapan Rusinah.

4. Situbondo (1.073 kasus)

Kantor Pengadilan Agama (PA) Situbondo, Jawa Timur, mencatat angka perceraian pada 2016 sebanyak 2.211 kasus. Sehingga pada tahun ini, di Kota Santri itu terdapat ribuan duda dan janda baru.

"Kantor Pengadilan Agama Situbondo dari Januari hingga September 2016 saja sudah menangani 1.859 kasus perceraian ditambah kasus perceraian sisa tahun 2015 yang belum putus sebanyak 352 kasus," ujar Sekretaris Panitera Pengadilan Agama Situbondo, M Nidzam Fickry di Situbondo..

Dari angka 1.859 kasus perceraian pada 2016, lanjut dia, yang paling banyak perceraian diajukan atau gugat cerai dilakukan oleh pihak istri, yaitu 1.073 kasus. Selebihnya, cerai talak atau gugatan cerai yang diajukan suami 786 kasus.

Tingginya angka perceraian, menurut Nidzam, sebagian diduga akibat dari kemajuan teknologi. Khususnya media sosial (medsos) yang memicu ketidakharmonisan dalam rumah tangga.

5. Lumajang (268 kasus)

Angka perceraian di Lumajang meningkat cukup signifikan diduga akibat dari semakin pesatnya teknologi informasi dikalangan masyarakat. Kondisi demikian dibuktikan dengan data pengajuan pernikahan ke Pengadilan Negeri Agama dari tahun ke tahun mengalami trend peningkatan.

Teguh Sentoso, PLT Panitra Hukum Pengadilan Agama Lumajang menyatakan data pengajuan di Pengadilan Agama Lumajang pada bulan Juli tahun 2016 mencapai 818 pengajuan perceraian sementara itu pada bulan juli Tahun 2017 mencapai 891 pasangan yang telah melayangkan surat perceraian.

"Kurang lebih mengalami peningkatan mencapai Empat persen," katanya

Sementara itu perkara yang telah diputuskan cerai oleh pengadilan agama Lumajang pada bulan Juli tahun 2016 mencapai 336 sedangkan pada bulan Juli tahun 2017 mencapai 268.(fin)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini