Share

Ini Dia Tiga Jenderal Bintang Lima di Indonesia, Salah Satunya Mantan Presiden

Fahmy Fotaleno, Okezone · Kamis 05 Oktober 2017 07:22 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 04 337 1788772 ini-dia-tiga-jenderal-bintang-lima-di-indonesia-salah-satunya-mantan-presiden-taBz9eg92T.jpg Jenderal Besar AH Nasution dan Jenderal Besar Soeharto (Foto: Twitter/@HMSoeharto1921)

JAKARTA - Jenderal bintang lima bergelar jenderal besar. Jenderal Besar adalah pangkat tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang perwira TNI. Gelar ini diberikan atas jasa luar biasa jenderal tersebut terhadap bangsa dan negaranya bahkan dunia.

Di Indonedia sendiri hanya sedikit yang mempunyai pangkat jenderal bintang lima. Berikut tiga jenderal bintang lima di Indonesia:

1. Jenderal Besar Sudirman

Jenderal Besar Raden Sudirman lahir 24 Januari 1916 dan meninggal 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun. Ia adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia secara luas terus dihormati di Indonesia.

Jenderal Sudirman menjadi buronan nomor satu saat bergerilya usai serangan agresi militer kedua Belanda yang menghancurkan Yogyakarta pada 1948.

Kematian Soedirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Soedirman terus dihormati oleh rakyat Indonesia. Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi tentara Indonesia.

2. Jenderal Besar TNI (Purn) Abdul Haris Nasution

Jenderal Besar TNI (Purn) Abdul Haris Nasution lahir di Kotanopan, Sumatera Utara pada 3 Desember 1918 – meninggal di Jakarta pada 6 September 2000 di usia 81 tahun. Ia menerima pangkat kehormatan Jenderal Besar yang dianugerahkan pada tanggal 5 Oktober 1997.

Pada tahun 1940, Jerman Nazi menduduki Belanda dan pemerintah kolonial Belanda membentuk korps perwira cadangan yang menerima orang Indonesia. Nasution kemudian bergabung, karena ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan pelatihan militer. Seiring dengan beberapa orang Indonesia lainnya, ia dikirim ke Akademi Militer Bandung untuk pelatihan.

merupakan salah satu tokoh yang menjadi sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September, namun yang menjadi korban adalah putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Lettu Pierre Tendean.

Nasution merupakan konseptor Dwifungsi ABRI yang disampaikan pada tahun 1958 yang kemudian diadopsi selama pemerintahan Soeharto. Konsep dasar yang ditawarkan tersebut merupakan jalan agar ABRI tidak harus berada di bawah kendali sipil, namun pada saat yang sama, tidak boleh mendominasi sehingga menjadi sebuah kediktatoran militer.

3. Jenderal Besar TNI (Purn) Soeharto

Presiden kedua Indonesia ini lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, pada 8 Juni 1921 dan meninggal di Jakarta, 27 Januari 2008 pada umur 86 tahun.

Di dunia internasional, terutama di Dunia Barat, Soeharto sering dirujuk dengan sebutan populer "The Smiling General" (Sang Jenderal yang Tersenyum) karena raut mukanya yang selalu tersenyum.

Karir militernya dimulai pada 1 Juni 1940, ia diterima sebagai siswa di sekolah militer di Gombong, Jawa Tengah. Setelah enam bulan menjalani latihan dasar, ia tamat sebagai lulusan terbaik dan menerima pangkat kopral. Ia terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, serta resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945.

Lembaran hitam juga sempat mewarnai perjalanan kemiliterannya. Ia pernah dipecat oleh Jenderal Nasution sebagai Pangdam Diponegoro.

Soeharto dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat dan segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya. Setelah diangkat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) pada 1 Mei 1963, ia membentuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) untuk mengimbangi G-30-S yang berkecamuk pada 1 Oktober 1965.

Soeharto yang mengawali kekuasaannya sebagai pejabat presiden pada 12 Maret 1967 dan menjadi presiden pada 27 Maret 1968 terus menggenggam jabatan itu selama 31 tahun.(fin)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini