nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sejarah Kretek di Indonesia yang Sempat Disebut 'Rokok Obat'

Ahmad Sahroji, Okezone · Rabu 04 Oktober 2017 05:42 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 10 03 337 1788041 sejarah-kretek-di-indonesia-yang-sempat-disebut-rokok-obat-rOZtGlKOXS.jpg Industri rokok kretek (Foto: Reuters)

JAKARTA - Diceritakan Pramoedya Ananta Toer pada 1950-an, dikutip dari buku "Kretek Kajiian Ekonomi & Budaya 4 Kota". Ketika Haji Agus Salim, negarawan yang saat itu menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia di Inggris, menghisap kreteknya di satu pertemuan diplomatik di Kota London.

Aroma dari rokok tersebut memancing seorang diplomat barat bertanya tentang apa yang sedang dihisap oleh Agus Salim. Agus Salim pun menjawab "Inilah yang membuat nenek moyang Anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami". Setelah itu, rokok kian terkenal.

Rokok kretek sendiri adalah rokok yang menggunakan tembakau asli yang dikeringkan, dipadukan dengan cengkeh dan saat dihisap terdengar bunyi kretek-kretek.

Tidak ada jejak pasti kapan rokok kretek lahir di nusantara. Akan tetapi, menurut budaya tutur dikalangan para pekerja pabrik rokok secara turun menurun, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19.

Mulanya penduduk asli Kudus, Jawa Timur, mengaku sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkeh. Setelah itu, sakitnya pun berangsur pulih. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkeh dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok.

Menurut beberapa babad legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok "klobot" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.

Ketua Umum Komunitas Kretek, Aditya Purnomo menilai bahwa keberadaan kretek di Indonesia bukan sekadar barang dagang, akan tetapi kretek merupakan warisan budaya nusantara. "Kretek juga turut hidup dalam budaya masyarakat kita. Di beberapa daerah masih ada orang yang memberi undangan pernikahan dengan memberikan sebungkus kretek. Pun dalam berbagai acara selamatan, kretek tersaji di gelas-gelas sebagai penghormatan kepada tamu yang datang," jelasnya.

Disebut Rokok Obat

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkeh. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat.

Permintaan "rokok obat" ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkeh. Lantaran ketika dihisap, cengkeh yang terbakar mengeluarkan bunyi "keretek", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan "rokok kretek".

Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal. Konon Djamari meninggal pada 1890. Identitas dan asal-usulnya hingga kini masih samar. Hanya temuannya itu yang terus berkembang.

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908 usahanya resmi terdaftar dengan merek "Tjap Bal Tiga". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.(fin)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini