Tewasnya Sang Perunding Ulung, MT Haryono di Tangan Cakrabirawa

Yudhistira Dwi Putra, Okezone · Sabtu 30 September 2017 07:35 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 29 337 1785629 tewasnya-sang-perunding-ulung-mt-haryono-di-tangan-cakrabirawa-rdyDUxhbkK.jpg

JAKARTA - Deru mesin truk memecah malam hari tanggal 30 September 1965. Tiga unit truk pengangkut pasukan Cakrabirawa itu berjalan beriringan menuju kediaman Letnan Jenderal Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Malam itu, ajal datang bersama rombongan serdadu untuk menjemput sang jenderal yang dikenal sebagai perunding ulung itu.

M.T. Haryono dikenal memiliki pembawaan yang tenang dan bersahaja. Selain itu, kemampuannya menguasai tiga bahasa asing, yakni Belanda, Inggris dan Jerman membuat diriya menjadi salah satu sosok terpenting dalam berbagai agenda perundingan yang dilakukan pemerintah Indonesia.

Salah satu perundingan termashyur yang melibatkan peran M.T. Haryono adalah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949, dimana dirinya ketika itu menjabat posisi sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia. Setelah KMB yang berbuah pada pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1950, M.T. Haryono diangkat sebagai Atase Militer Indonesia di Belanda. Sejak itu, karir M.T. Haryono terus menanjak, hingga diangkat sebagai Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) dengan pangkat mayor jenderal pada 1 Juli 1964.

Singgungan Dengan PKI

Menjabat posisi Men/Pangad ketika itu, pemikiran-pemikiran M.T. Haryono seringkali bersinggungan dengan gagasan-gagasan yang dilontarkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang ketika itu memiliki pengaruh cukup besar di tengah masyarakat.

Salah satu singgungan yang disebut-sebut sebagai pemicu sentimen negatif PKI terhadap sosok M.T. Haryono adalah ketika M.T. Haryono dengan tegas menolak gagasan PKI yang hendak mempersenjatai para buruh dan kaum tani yang kemudian dikenal sebagai Angkatan Ke-lima. Seperti sebagian besar perwira lain di Angkatan Darat, M.T. Haryono melihat adanya potensi bahaya dari gagasan pembentukan Angkatan Ke-lima itu. Sejak itulah M.T. Haryono kemudian dijadikan target pembunuhan PKI.

Malam Kematian Bagi Sang Bangsawan

Petikan "Mas" dalam nama M.T. Haryono merupakan identitas kebangsawanannya. Diturunkan dari sang ayah, Mas Harsono Tirtodarmo, darah kebangsawanan Sunan Giri mengalir di dalam tubuh sang jenderal.

Darah itulah yang kemudian mengalir dari dalam tubuh M.T. Haryono, bersama penggalan-penggalan terakhir nyawanya. Berondongan senapan Thompson milik Sersan Mayor Boengkoes, seorang komandan dari pasukan pengawal Presiden Soekarno, Cakrabirawa --sekarang dikenal dengan Paspampres-- berhasil mengakhiri hidup M.T. Haryono.

Setelah dipastikan mati, Cakrabirawa kemudian mengangkut jasad M.T. Haryono ke atas truk. Menurut kesaksian anak ke-tiga M.T. Haryono, Rianto Nurhadi, jasad sang ayah diperlakukan dengan sangat keji oleh pasukan Cakrabirawa.

"Kami melihat sendiri ayah saya diseret. Diseretnya itu dia menarik kaki ayah saya sepanjang kamar sampai ke depan truk dan ayah saya dilempar seperti melempar karung beras," tutur Rianto.

Sementara itu, Sersan Mayor Boengkoes, dalam sebuah wawancara sempat mengungkapkan penyesalannya, kendati sebagai seorang serdadu, ia sadar betul pembunuhan itu ia lakukan sebagai bentuk kepatuhannya pada garis komando.

"Karena ditugaskan, saya lakukan," ucapnya singkat.

Sersan Mayor Boengkoes menuturkan, beberapa jam sebelum misi penjemputan M.T. Haryono, ia dan sejumlah pasukan Cakrabirawa lainnya mengikuti sebuah rapat. Dalam rapat itu terungkap sebuah rencana soal adanya rencana kudeta terhadap Presiden Sokarno yang oleh M.T. Haryono dalam sejumlah jenderal dan perwira Angkatan Darat lain yang disebut-sebut tergabung dalam kelompok Dewan Jenderal.

Rapat itulah yang kemudian disebut oleh Sersan Mayor Boengkoes sebagai awal dari kelamnya malam hari 30 September 1965.

(ydp)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini