nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kuota Perempuan di Pemilu 2014 Tak Sampai 30 Persen, Ini Program Menteri Yohana untuk 2019

Agregasi Antara, Jurnalis · Kamis 28 September 2017 06:12 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 09 27 337 1784265 kuota-perempuan-di-pemilu-2014-tak-sampai-30-persen-ini-program-menteri-yohana-untuk-2019-WqQh6dUQ4w.jpg

Kuota Perempuan di Pemilu 2014 Tak Sampai 30 Persen, Ini Program Menteri Yohana
SORONG - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menjelaskan hasil Pemilu 2014 gagal mencapai keterwakilan 30 persen perempuan di parlemen secara nasional, meskipun dari sudut jumlah pencalonan mengalami kenaikan.
Pemilu 2014 hanya menempatkan sekira 17 persen perempuan di kursi legislatif, sementara di kursi senat terdapat 23 persen perempuan.
Padahal, kata dia, perempuan jumlahnya separuh lebih dari total populasi pemilih atau lebih banyak dari laki-laki. Dengan kata lain, jumlah politisi perempuan di Indonesia saat ini belum representatif jika dibandingkan dengan laki-laki yang cenderung mendominasi 70 persen lebih di legislatif.
Aspirasi perempuan, lanjut dia, tidak akan mudah tersalurkan jika jumlahnya belum kunjung proporsional hingga kini meski menjadi elemen mayoritas dalam Pemilu. Dampaknya, kebijakan-kebijakan yang keluar berpotensi tidak properempuan.
"Perempuan harus dapat posisi di politik. Harus banyak kita berani. Tunjukkan perempuan juga ingin menduduki posisi penting, laki-laki jangan mendominasi semua posisi. Perempuan harus berekspresi. Ada 123 juta perempuan yang bersama laki-laki untuk membangun bangsa ini," kata Menteri PPPA Yohana Yembise di Sorong, Rabu (27/9/2017).
Kementeriannya akan terus melakukan langkah proaktif untuk menyiapkan sejumlah politisi perempuan agar mampu bertarung di Pemilihan Umum 2019.
"Kami punya program pelatihan perempuan di legislasi, guna mendorong terpenuhinya kuota 30 persen perempuan di legislatif," tandasnya.
Dia mengatakan Kementerian PPPA memiliki program untuk memicu peningkatan partisipasi perempuan di panggung politik, salah satunya lewat pelatihan-pelatihan persiapan menghadapi Pemilu 2019.
"Kami lakukan pelatihan-pelatihan kepada ibu-ibu, perempuan, agar siap di dunia politik untuk mempersiapkan mereka agar bisa berkompetisi, agar mereka nanti bisa duduk di legislatif dan ini sudah dilakukan secara nasional. Kami punya desain besar yang sudah dibuat bertahap untuk menjalankan ini," kata dia. (feb)

SORONG - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menjelaskan hasil Pemilu 2014 gagal mencapai keterwakilan 30 persen perempuan di parlemen secara nasional, meskipun dari sudut jumlah pencalonan mengalami kenaikan.

Pemilu 2014 hanya menempatkan sekira 17 persen perempuan di kursi legislatif, sementara di kursi senat terdapat 23 persen perempuan.

Padahal, kata dia, perempuan jumlahnya separuh lebih dari total populasi pemilih atau lebih banyak dari laki-laki. Dengan kata lain, jumlah politisi perempuan di Indonesia saat ini belum representatif jika dibandingkan dengan laki-laki yang cenderung mendominasi 70 persen lebih di legislatif.

Aspirasi perempuan, lanjut dia, tidak akan mudah tersalurkan jika jumlahnya belum kunjung proporsional hingga kini meski menjadi elemen mayoritas dalam Pemilu. Dampaknya, kebijakan-kebijakan yang keluar berpotensi tidak properempuan.

"Perempuan harus dapat posisi di politik. Harus banyak kita berani. Tunjukkan perempuan juga ingin menduduki posisi penting, laki-laki jangan mendominasi semua posisi. Perempuan harus berekspresi. Ada 123 juta perempuan yang bersama laki-laki untuk membangun bangsa ini," kata Menteri PPPA Yohana Yembise di Sorong, Rabu (27/9/2017).

Kementeriannya akan terus melakukan langkah proaktif untuk menyiapkan sejumlah politisi perempuan agar mampu bertarung di Pemilihan Umum 2019.

"Kami punya program pelatihan perempuan di legislasi, guna mendorong terpenuhinya kuota 30 persen perempuan di legislatif," tandasnya.

Dia mengatakan Kementerian PPPA memiliki program untuk memicu peningkatan partisipasi perempuan di panggung politik, salah satunya lewat pelatihan-pelatihan persiapan menghadapi Pemilu 2019.

"Kami lakukan pelatihan-pelatihan kepada ibu-ibu, perempuan, agar siap di dunia politik untuk mempersiapkan mereka agar bisa berkompetisi, agar mereka nanti bisa duduk di legislatif dan ini sudah dilakukan secara nasional. Kami punya desain besar yang sudah dibuat bertahap untuk menjalankan ini," kata dia. (feb)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini