nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Istri Sutradara Film G30S/PKI : Tak Ada Intervensi dalam Pembuatan Filmnya

Yudhistira Dwi Putra, Jurnalis · Sabtu 23 September 2017 08:05 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 09 22 337 1781081 istri-sutradara-film-g30s-pki-tak-ada-intervensi-dalam-pembuatan-filmnya-4RIBxQQqOQ.jpg

JAKARTA - Kontroversi seputar kesesuaian fakta dalam film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI karya Arifin C. Noer kembali jadi perbincangan, menyusul pernyataan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Gatot Nurmantyo yang menginstruksikan screening film rilisan tahun 1984 ini di lingkup internal kesatuan TNI.

Menurut Gatot, instruksinya itu dimaksudkan agar angkatan muda TNI memiliki pandangan tentang sebuah sejarah penting yang pernah terjadi di Indonesia pada masa lampau. Sebab, baginya, sejarah sangat penting untuk menata kehidupan sebuah bangsa pada masa mendatang.

"Saya perintahkan kepada jajaran saya untuk menyetel (film G30S PKI) untuk generasi bangsa sekarang ini," kata Gatot di Jombang, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Terkait kontroversi yang terjadi, Jajang C. Noer, aktris senior Indonesia yang merupakan istri dari sang sutradara menjelaskan, proses penggarapan skenario yang dilakukan Arifin telah didahului oleh proses riset dan penelusuran literatur yang sangat panjang.

Jajang yang terlibat dalam proses produksi sebagai pencatat adegan memastikan, tidak ada rekayasa yang dilakukan oleh Arifin dalam proses produksi film berbiaya Rp 800 juta ini. Menurutnya, Arifin berkali-kali menegaskan telah menjaga independensinya sebagai seorang sineas.

"Nah, Mas Arifin ini membuatnya berdasarkan info yang ada pada saat itu. Info resmi. Informasi yang sudah diberitahu kepada kami, masyarakat. Dan itu sampai dicek ke Cornel Papers. Jadi ya berdasar itu, tidak ada direkayasa-direkayasa," kata Jajang saat ditemui Okezone belum lama ini.

Bahkan, Jajang menegaskan, dalam proses produksi --termasuk penulisan skenario, Arifin hanya melibatkan fakta-fakta yang ia yakini kebenarannya. Arifin, diceritakan Jajang bahkan menolak untuk menggarap sejumlah adegan yang ia ragukan kebenarannya.

"Nah, beberapa informasi yang misalnya mata dicongkel, itu Mas Arifin tidak percaya itu. Jadi hal-hal yang seperti itu dia tidak bikin. Tidak ada mata dicongkel, adanya menyayat. Karena dibilang Bapak Muhammad Yani itu disiksa. Umum itu diketahui. Tapi Mas Arifin tidak mau bikin mata dicongkel, karena menurutnya tidak masuk di akalnya dia," tutur Jajang.

"Mas Arifin hanya bikin yang dia yakini. Dia tidak akan bikin yang dia tidak yakini," tambahnya.

(ydp)

(amr)

Berita Terkait

G30S PKI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini