Marak Hoax, PBNU: Masyarakat Sarapan Fitnah Bukan Nasi Uduk Lagi

Puteranegara Batubara, Okezone · Rabu 20 September 2017 15:25 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 20 337 1779685 marak-hoax-pbnu-masyarakat-sarapan-fitnah-bukan-nasi-uduk-lagi-TpUjPDqdFE.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Belakangan ini masyarakat selalu diresahkan dengan maraknya berita fitnah atau Hoax. Media sosial (medsos) pun menjadi tempat yang paling sering untuk menyebarkan berita palsu.

Melihat fenomena itu, Anggota PBNU Abdul Moqsith Ghazali menyebut bahwa dewasa ini, masyarakat sudah tak lagi sarapan pagi dengan nasi uduk, tetapi menyantap fitnah.

Hal itu disampaikan Abdul saat menjadi pembicara dalam Dialog Polri bertajuk 'Dagangan Ala Lapak Saracen' di restoran Es Teler 77, Jakarta Selatan, Rabu (20/9/2017).

"Masyarakat sarapan fitnah bukan nasi uduk, makan siang dan malam itu lagi (fitnah)," kata Abdul.

Terkait Saracen, Abdul menegaskan bahwa bisnis yang dilakukan oleh sindikat tersebut adalah bisnis yang menyesatkan dan dzalim. Mengingat, Saracen merupakan sindikat yang melakukan penyebaran kebencian dan fitnah dengan menggunakan isu SARA di media sosial.

Menurut dia, Saracen telah menciptakan narasi yang bohong. Tak hanya itu, Abdul menyebut bahwa Saracen sangat merugikan seluruh Warga Negara Indoensia (WNI).

"Kalau seseorang maju jadi pemimpin silahkan saja jangan halalkan segala cara. Oleh karena itu sebabnya saya kayakan bisnis fitnah tidak sah dan zalim karena dampak buruknya ke semua," papar dia.

Sejauh ini dalam kasus Saracen, polisi telah menetapkan empat orang sebagai tersangka, yakni JAS, SR, dan MFT lalu, MAH. Dan terakhir polisi menetapkan Asma Dewi sebagai tersangka ujaran kebencian.

Polisi akan memeriksa kejiwaan pimpinan Saracen, Jasriadi di Rumah Sakit (RS) Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, hari ini, Rabu (20/9/2018). Pemeriksaan tersebut dilakukan lantaran Jasriadi selalu berubah-ubah saat dimintai keterangan.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini