Sempat Ditemui Pendemo Antikomunis, Kivlan Zein Diminta Nasihat untuk Aksi di Kantor LBH

Puteranegara Batubara, Okezone · Selasa 19 September 2017 20:25 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 19 337 1779179 sempat-ditemui-pendemo-antikomunis-kivlan-zein-diminta-nasihat-untuk-aksi-di-kantor-lbh-wNPx25kts1.jpg Kivlan Zein.

JAKARTA - Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zein mengaku diundang pada sehari sebelum penyelenggaraan acara seminar di LBH. Adapun yang mengndangnya ialah Ketua Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Anti Komunis, Rahmat Himran terkait rencana aksi massa di depan gedung LBH.

Kendati begitu, Kivlan mengklaim hanya memberikan nasihat kepada para peserta aksi massa. Dia juga berdalih tidak memberikan instruksi apapun terkait pengepungan kantor LBH tersebut.

"Memang saya diundang tapi bukan untuk memimpin. Saya hanya diminta pendapat dan nasihat terkait adanya demonstrasi menghadapi seminar soal PKI itu," kata Kivlan di Gedung Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (19/9/2017).

Dalam nasihatnya, Kivlan menyebut tidak menyarankan kepada peserta aksi massa agar tak berbuat rusuh dan tak masuk ke halaman gedung LBH. Ia meminta menyerahkannya kepada aparat penegak hukum.

"Nasihat saya (ke peserta massa aksi) jangan lakukan kerusuhan, jangan masuk halaman, jangan lempar kaca, kalau dipukul ya foto yang mukul," jelas dia.

Dalam acara yang diselenggarakan LBH, Kivlan merasa khawatir bahwa kegiatan itu berujung pada penuntutan pencabutan TAP MPRS 25/1966 yang ujungnya membolehkan PKI hidup kembali. Padahal, polisi menyatakan tak ada kegiatan LBH berbau komunisme pada Minggu 17 September 2017.

[Baca Juga: Sebut LBH Gelar Acara Berbau Komunis, Kivlan Zein: Ada Orang Saya di Dalam]

"Melihat jadwal dan data yang saya terima ada rapat di sana (LBH) dan tetap berjalan. Saya tahu karena ada orang saya di dalam yang ikut," ungkap dia.

Bahkan, dalam acara ‘Asik Asik Aksi’ itu, Kivlan menuding bahwa ada sekelompok peserta yang menggunakan baju berlambang palu arit dan di dalam gedung menyanyikan lagu 'Genjer-Genjer'.

"Lewat pentas seni itu mereka menyatakan PKI tidak salah, kemudian menyalahkan bahwa yang salah adalah orde baru, pemerintahan Soeharto, dan ujung-ujungnya menuntut agar pemerintah minta maaf," tututp Kivlan. (sym)

(ulu)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini