OKEZONE STORY: Sambut Muharam, Ketahui Tradisi Grebeg Suro Sekaligus Pelestarian Reog Ponorogo

Hantoro, Okezone · Sabtu 16 September 2017 06:31 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 15 337 1776778 okezone-story-sambut-muharam-ketahui-tradisi-grebeg-suro-sekaligus-pelestarian-reog-ponorogo-X6rwvdBNB3.jpg Rangkaian Grebeg Suro di Telaga Ngebel. (Foto: Ist)

SESAAT lagi umat Islam di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia, memperingati datangnya tahun baru hijriah. Hal ini ditandai dengan dimulainya tanggal 1 Muharam 1439H yang merupakan awal tahun dari penanggalan Islam. Diketahui, Muharam adalah satu dari empat bulan haram atau suci. Keempatnya yakni Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Maka itu, dalam menyambut kehadiran 1 Muharam, masyarakat Tanah Air dan dunia menyelenggarakan tradisi khas di daerahnya.

Di wilayah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, ada tradisi bernama Grebeg Suro (Gerebek Sura). Grebeg Suro adalah acara kebudayaan masyarakat Ponorogo berbentuk pesta rakyat. Seni dan tradisi yang ditampilkan meliputi Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, serta Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel.

Sejarah lahirnya Grebeg Suro dimulai pada 1980-an di saat kalangan warok (seniman reog) dalam menyambut malam 1 Suro melakukan tirakatan semalaman suntuk dengan mengelilingi kota hingga berakhir di area alun-alun. Kala itu Bupati Ponorogo Soebarkah Poetro Hadiwirjo melihat tradisi masyarakat ini bisa menjadi keunggulan di sana dan harus diwadahi.

Pewadahan tradisi Grebeg Suro ternyata mendapat apresiasi tinggi dari warga karena melestarikan kesenian Ponorogo. Disinyalir pada waktu itu minat para pemuda terhadap reog khas Ponorogo mulai luntur, maka diputuskan turut diikutsertakanlah kesenian tersebut di dalamnya.

(Baca: OKEZONE STORY: Sejarah Hari Olahraga Nasional, dari Murni Kompetisi hingga Kentalnya Nuansa Politik)

Pelaksanaannya diawali bergulirnya Festival Reog Nasional yang diikuti puluhan kelompok, bahkan tahun ini mencapai 40 grup, berasal dari dalam dan luar Kabupaten Ponorogo. Waktu berlangsung juga cukup panjang, bisa empat sampai seminggu penuh. Kemudian dari puluhan grup tersebut, dipilih yang terbaik.

Puluhan kelompok reog yang terdiri dari dadak merak, jathil, dan bujangganong itu kemudian mengadakan parade di jalanan kota. Masyarakat pun semangat menyaksikannya hingga seakan tumpah ruah.

Lalu pada sehari sebelum 1 Suro, dalam rangkaian Grebeg Suro diadakan Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka dari kota lama ke kota tengah. Tradisi ini untuk mengenang perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo dari kota lama ke kota tengah.

Parade reog ponorogo. (Foto: Ist)

(Baca: OKEZONE STORY: Gara-Gara Disodori Baki Bendera, Latief Hendraningrat Jadi Pengibar Merah Putih saat Proklamasi)

Malam 1 Suro diadakan penutupan Festival Reog Nasional dan pengumuman lomba. Selanjutnya tepat tanggal 1 Muharam diadakan Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel. Ini merupakan kawasan danau alami yang terletak di Kecamatan Ngebel, kaki Gunung Wilis. Dipilihnya Telaga Ngebel karena merupakan andalan wisata di Ponorogo serta memiliki legenda unik dengan kisah seekor ular naga bernama Baru Klinting.

Banyak nilai kearifan lokal yang terkandung di kegiatan Grebeg Suro dan lokasi-lokasi yang digunakan. Esensi tersebut meliputi nilai simbolik, tanggung jawab, keindahan, moral, hiburan, budaya, sosial, ekonomi, dan religius. Maka itu, acara Grebeg Suro Ponorogo disebut sebagai tradisi yang unik sekaligus pelestarian kesenian daerah.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini