nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Meninggalnya Bayi Debora, Menkes Buka-bukaan soal Kewajiban Rumah Sakit Layani Pasien Gawat Darurat

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 11 September 2017 10:09 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 09 11 337 1773349 soal-meninggalnya-bayi-debora-menkes-buka-bukaan-soal-kewajiban-rumah-sakit-layani-pasien-gawat-darurat-ZVA4mwl3DN.jpg Menkes Nila Moloek (Foto: Fadel/Okezone)

JAKARTA - Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila Farid Moeloek ikut menyoroti kasus meninggalnya bayi Debora yang masih berusia empat bulan. Balita itu harus meregang nyawa setelah diduga pihak Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat tak menerima jaminan kesehatan BPJS.

Wanita yang akrab disapa Nila Moeloek itu menuturkan, pihaknya cukup menyesalkan masih ada rumah sakit yang menolak pasien karena peserta BPJS. Padahal, kata dia, sudah ada sebuah regulasi kalau dalam keadaan darurat harus segera ditangani pihak rumah sakit.

"Secara regulasi setiap keadaan gawat darurat harus ditolong di rumah sakit. Tapi melihat dari apa yang dijawab rumah sakit mereka menolong dan kemudian kita harus tahu sampai sejauh mana keadaan penyakit anak tersebut, itu yang harus kita lihat," ujarnya saat ditemui dalam acara HUT Polwan ke-69 di Gedung Auditorium, Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta Selatan, Senin (11/9/2017).

Baca juga: Bayi Debora Meninggal karena Biaya, Pemerintah Diminta Buat Regulasi Khusus Pelayanan Rumah Sakit

Ia menerangkan, merujuk kepada Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 dalam Pasal 32 huruf q termaktub salah satu hak pasien yakni menggugat dan atau menuntut RS apabila RS diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar. Dengan begitu, tak ada alasan kepada penyedia jasa kesehatan untuk menolak pasien yang tidak memiliki biaya.

"Kedua, memang saya kira dalam keadaan gawat darurat, sudah ada UU, tidak bisa memperhitungkan dulu biaya atau anggaran," tuturnya.

Nila sendiri telah meenginstruksikann tim dari kementerian dan Dinas Kesehatan DKI untuk meminta pemaparan RS Mitra Keluarga Kalideres, yang menangani bayi Debora sejak masa kritis hingga meninggal dunia.

"Hari ini kita tentu dari Dinkes DKI, Kemenkes akan pergi ke rumah sakit. Kita harus dengarkan dari dua pihak, jadi tidak hanya satu pihak," ujar Nila.

Nila menegaskan, pihaknya akan meminta keterangan ihwal sejauh mana rumah sakit memberikan pertolongan pada bayi Debora dan analisis medis RS Mitra Keluarga soal penyakit yang menyebabkan Debora kehilangan nyawanya.

Pihak manajemen RS Mitra Keluarga dalam siaran pers yang dikeluarkan pada 7 September 2017 menyebutkan bahwa pihaknya telah memberikan tindakan penyelamatan jiwa, sesaat setelah bayi D tiba di RS. Tindakan tersebut berupa penyedotan lendir, dipasang selang ke lambung dan intubasi (pasang selang nafas), dilakukan bagging (pemompaan oksigen dengan menggunakan tangan melalui selang nafas), infus, obat suntikan dan diberikan pengencer dahak.

Pihak RS Mitra Keluarga pun telah menawarkan keluarga agar bayi D dirawat di PICU, namun pihak keluarga keberatan mengingat kondisi keuangan. Sehingga, RS Mitra Keluarga membantu keluarga bayi D agar bisa dirujuk menuju RS yang bekerja sama dengan BPJS.

Setelah mendapatkan RS sebagai rujukan, kondisi bayi D tiba-tiba memburuk. Dokter telah memberikan pertolongan resusitasi selama 20 menit namun nyawanya tak tertolong. Sebagaimana diketahui, bayi D yang merupakan warga Kecamatan Benda, Kota Tangerang mengalami sesak nafas dan dilarikan ke RS Mitra Keluarga pada 3 September 2017 pukul 3.40 WIB. Namun, nyawanya tak tertolong sesaat sebelum dirujuk ke RS yang bekerja sama dengan BPJS sekitar pukul 9.00 WIB.

(ran)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini