Waduh! Ombudsman Nilai RS Mitra di Kasus Bayi Debora Terlalu Komersil

Febrianto, Okezone · Senin 11 September 2017 05:20 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 10 337 1773035 waduh-ombudsman-nilai-rs-mitra-di-kasus-bayi-debora-terlalu-komersil-r41wKgSkkX.jpg

Waduh! Ombudsman Nilai RS Mitra di Kasus Bayi Debora Terlalu Komersil
JAKARTA - Anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI), Dadan Suparjo Suharmawijaya menilai Rumah Sakit Mitra Kalideres dalam menangangi pasien Tiara Deborah Simanjorang yang berumur 4 bulan, lebih mengedepakan aspek komersil dibandingkan aspek pelayanan.
"Bagaimanapun urusan medis kegawatdaruratan harus diutamakan, dibanding aspek komersil. Tidak ada alasan rumah sakit tidak memberikan layanan," kata Dadan kepada Okezone, Senin (11/9/2017).
Dadan mengatakan, permasalahan kegawatdaruratan tidak hanya harus di IGD. 
"Dalam UU 36 tahun 2009 tentang kesehatan pasal 32 ayat 2, disebutkan, keadaan darurat jangan diartikan hanya sebatas di ruang IGD. Tetapi keadaan darurat berupa kebutuhan tindaklanjut pascapertolongan pertama di IGD sampai keadaan stabil," paparnya.
Dalam kasus bayi Debora, sangat kental sekali, rumah sakit mengedepankan aspek ekonomi. "Aspek komersil lebih menonjol. Padahal selama rumah sakit berdiri, tiap tahun, bahkan tiap tahunnya, telah mendapat untung. Dalam kasus bayi Debora harusnya ditangani terlebih dahulu," katanya.
Debora yang merupakan warga Kecamatan Benda, Kota Tangerang mengalami sesak nafas dan dilarikan ke RS Mitra Keluarga pada 3 September 2017 pukul 3.40 WIB. Namun, nyawanya tak tertolong sesaat sebelum Debora dirujuk ke RS yang bekerja sama dengan BPJS sekitar pukul 9.00 WIB.
Dari informasi yang beredar dan menjadi viral, bayi Debora tak tertangani oleh RS Mitra, karena pihak keluarga tak bisa memberikan uang jaminan, untuk penanganan di ruangan PICU, sebesar Rp19.800.00.
RS Mitra Keluarga dalam siaran pers yang dikeluarkan pada 7 September 2017 menyebutkan bahwa pihaknya telah memberikan tindakan penyelamatan jiwa, sesaat setelah Debora tiba di RS. Tindakan tersebut berupa penyedotan lendir, dipasang selang ke lambung dan intubasi (pasang selang nafas), dilakukan bagging (pemompaan oksigen dengan menggunakan tangan melalui selang nafas), infus, obat suntikan dan diberikan pengencer dahak.
Pihak RS Mitra Keluarga pun telah menawarkan keluarga agar Debora dirawat di PICU, namun pihak keluarga keberatan mengingat kondisi keuangan. Sehingga, RS Mitra Keluarga membantu keluarga Debora agar bisa dirujuk menuju RS yang bekerja sama dengan BPJS.
Setelah mendapatkan RS sebagai rujukan, kondisi Debora tiba-tiba memburuk. Dokter telah memberikan pertolongan resusitasi selama 20 menit namun nyawa Debora tak tertolong. (feb)

JAKARTA - Anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI), Dadan Suparjo Suharmawijaya menilai Rumah Sakit Mitra Kalideres dalam menangangi pasien Tiara Deborah Simanjorang yang berumur 4 bulan, lebih mengedepakan aspek komersil dibandingkan aspek pelayanan.

"Bagaimanapun urusan medis kegawatdaruratan harus diutamakan, dibanding aspek komersil. Tidak ada alasan rumah sakit tidak memberikan layanan," kata Dadan kepada Okezone, Senin (11/9/2017).

Dadan mengatakan, permasalahan kegawatdaruratan tidak hanya harus di IGD. "Dalam UU 36 tahun 2009 tentang kesehatan pasal 32 ayat 2, disebutkan, keadaan darurat jangan diartikan hanya sebatas di ruang IGD. Tetapi keadaan darurat berupa kebutuhan tindaklanjut pascapertolongan pertama di IGD sampai keadaan stabil," paparnya.

Dalam kasus bayi Debora, sangat kental sekali, rumah sakit mengedepankan aspek ekonomi. "Aspek komersil lebih menonjol. Padahal selama rumah sakit berdiri, tiap tahun, bahkan tiap tahunnya, telah mendapat untung. Dalam kasus bayi Debora harusnya ditangani terlebih dahulu," katanya.

Debora yang merupakan warga Kecamatan Benda, Kota Tangerang mengalami sesak nafas dan dilarikan ke RS Mitra Keluarga pada 3 September 2017 pukul 3.40 WIB. Namun, nyawanya tak tertolong sesaat sebelum Debora dirujuk ke RS yang bekerja sama dengan BPJS sekitar pukul 9.00 WIB.

Dari informasi yang beredar dan menjadi viral, bayi Debora tak tertangani oleh RS Mitra, karena pihak keluarga tak bisa memberikan uang jaminan, untuk penanganan di ruangan PICU, sebesar Rp19.800.00.

RS Mitra Keluarga dalam siaran pers yang dikeluarkan pada 7 September 2017 menyebutkan bahwa pihaknya telah memberikan tindakan penyelamatan jiwa, sesaat setelah Debora tiba di RS. Tindakan tersebut berupa penyedotan lendir, dipasang selang ke lambung dan intubasi (pasang selang nafas), dilakukan bagging (pemompaan oksigen dengan menggunakan tangan melalui selang nafas), infus, obat suntikan dan diberikan pengencer dahak.

Pihak RS Mitra Keluarga pun telah menawarkan keluarga agar Debora dirawat di PICU, namun pihak keluarga keberatan mengingat kondisi keuangan. Sehingga, RS Mitra Keluarga membantu keluarga Debora agar bisa dirujuk menuju RS yang bekerja sama dengan BPJS.

Setelah mendapatkan RS sebagai rujukan, kondisi Debora tiba-tiba memburuk. Dokter telah memberikan pertolongan resusitasi selama 20 menit namun nyawa Debora tak tertolong. (feb)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini