OKEZONE STORY: Sejarah Hari Olahraga Nasional, dari Murni Kompetisi hingga Kentalnya Nuansa Politik

Hantoro, Okezone · Sabtu 09 September 2017 07:31 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 08 337 1771922 okezone-story-sejarah-hari-olahraga-nasional-dari-murni-kompetisi-hingga-kentalnya-nuansa-politik-Pzx6YNzh4z.jpg Ilustrasi Pekan Olahraga Nasional (PON) pada masa lalu. (Foto: Ist)

SETIAP tanggal 9 September, publik Tanah Air memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas). Berbagai sejarah mengenai lahirnya momen ini menjadi latar belakang yang tak terlupakan, mulai murni kompetisi para atlet hingga faktor politis. Semua warga negara Indonesia pun wajib mengetahuinya.

Haronas mulanya dicetuskan seiring dengan diselenggarakannya Pekan Olahraga Nasional (PON) I pada 9–12 September 1948 di Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah. Tanggal 9 September yang menjadi pembukaan ajang atlet-atlet asli daerah inilah yang ditetapkan sebagai Hari Olahraga Nasional.

(Baca: OKEZONE STORY: Kakbah Jadi Rangkaian Ibadah Tawaf Berhaji, Wajib Tahu Sejarahnya)

Mengutip dari berbagai sumber, Sabtu (9/9/2017), PON I sebenarnya digelar sebagai bentuk "tandingan" kompetisi dunia Olimpiade XIV/1948 di Kota London, Inggris, karena kontingen Indonesia tidak bisa mengikutinya akibat tak memenuhi persyaratan. Kala itu Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) yang merupakan organisasi resmi di dalam negeri belum diakui dan menjadi anggota Internasional Olympic Committee (IOC).

Kemudian dunia belum mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia yang juga menjadi penghalang atlet-atlet kita tidak bisa menuju London. Ditambah, paspor Indonesia tak diakui Pemerintah Inggris, namun memperbolehkan jika memakai paspor Belanda. Tetapi, putra-putri Tanah Air tidak menggunakannya karena hanya ingin bertanding di sana mewakili negara kelahirannya Indonesia.

Akibat penolakan tersebut, PORI memutuskan segera menyelenggarakan kompetisi sendiri, dan disepakati diberi nama Pekan Olahraga Nasional. Masalah inilah yang menjadi topik pembahasan konferensi darurat PORI pada 1 Mei 1948 di Surakarta.

(Baca: OKEZONE STORY: Gara-Gara Disodori Baki Bendera, Latief Hendraningrat Jadi Pengibar Merah Putih saat Proklamasi)

Ilustrasi PON pada zaman dahulu. (Foto: Ist)

Pengadaan PON sebenarnya sudah pernah PORI bahas jauh-jauh hari sebelumnya guna menghidupkan kembali kompetisi Ikatan Sport Indonesia (ISI) Sportweek atau Pekan Olahraga ISI pada 1938. Sewaktu itu, diwacanakan dilaksanakan pada Agustus atau September 1948. Kemudian akibat muncul penolakan atlet dalam negeri di Olimpiade London, semakin digencarkan pula rencana PON I.

Selain itu, PON I menjadi ajang untuk menunjukkan kepada publik internasional bahwa bangsa Indonesia bisa berjaya di gelaran olahraga meski keadaan politiknya dipersempit akibat Perjanjian Renville. Selanjutnya, PORI memutuskan memilih Solo menjadi kota penyelenggara PON I. Di luar berstatus markas PORI, Kota Surakarta saat itu sudah memiliki fasilitas lengkap untuk ajang olahraga.

Berdasarkan latar belakang tersebutlah PORI menegaskan Pekan Olahraga Nasional I diadakan di Kota Solo. Ditetapkan pada 9–12 September 1948. Kemudian diikuti sekira 600 atlet dari 9 cabang olahraga dan memperebutkan 108 medali. Hal inilah yang menjadi cikal bakal serta penetapan adanya PON dan Hari Olahraga Nasional.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini