13 Tahun Berlalu, Siapa Dalang di Balik Kematian Pejuang HAM Munir Said?

Reni Lestari, Okezone · Kamis 07 September 2017 14:28 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 07 337 1771176 13-tahun-berlalu-siapa-dalang-di-balik-kematian-pejuang-ham-munir-said-tg6DeGVzcd.jpg Munir Said Thalib (Okezone)

JAKARTA – Hari ini 13 tahun lalu, Indonesia kehilangan seorang putra terbaiknya; Munir Said Thalib. Pejuang hak asasi manusia (HAM) yang vokal menentang penindasan itu meninggal dunia dibunuh dengan racun di atas Pesawat Garuda Indonesia, pada 7 September 2004.

Munir saat itu menumpangi Garuda Indonesia nomor penerbangan GA-974 menuju Amsterdam, Belanda. Ia merenggang nyawa dalam usia 38 tahun, usai menenggak minuman yang sudah dicampur racun.

Kematian Munir menyorot perhatian dunia. Sayangnya, lebih satu dasawarsa berlalu, motif dan dalangnya tak terungkap.

Munir diduga dibunuh karena memegang data-data penting pelanggaran HAM berat hingga kampanye hitam pemilu 2004 yang akan dibawanya ke Belanda. Munir memang terkenal sebagai aktivis yang konsisten memperjuangkan HAM, berani bersuara lantang menentang penindasan oleh penguasa.

Meski desakannya dari berbagai elemen, negara belum sepenuhnya serius menuntaskan kasus Munir. Pengadilan yang telah digelar seolah belum bisa mengungkap awan tebal yang melingkupi kasus ini. Siapa yang paling bertanggungjawab atas kematian Munir masih teka-teki.

Pollycarpus Budihari Prijanto, pilot Garuda Indonesia yang ditumpangi Munir, sudah divonis 14 tahun penjara karena menjadi fasilitator pembunuhan Munir. Itu pun ia tak menjalani hukuman sepenuhnya. Pollycarpus justru memperoleh pembebasan bersyarat dan keluar dari Lapas Sukamiskin, Jawa Barat, pada Sabtu 29 November 2014.

(Baca juga: Putusan PTUN soal Dokumen TPF Munir Dianggap Melindungi Pelanggar HAM)

Sementara Mayor Jenderal (Purn) Muchdi Purwoprandjono yang pernah menjadi terdakwa dalam kasus pembunuhan Munir, pada 31 Desember 2008, dinyatakan bebas murni dari segala dakwaan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel).

Aksi mengenang Munir (Zen Arivin/Okezone)

Lalu, siapa dalang atau otak di balik pembunuhan Munir? Publik masih bertanya-tanya sampai sekarang. Desakan demi desakan agar pemerintah mengungkap fakta sebenarnya di balik kematian Munir terus terdengar. Istri mendiang Munir, Suciwati juga terus bersuara menuntut keadilan dari negara.

Joko Widodo (Jokowi) yang semasa kampanye pernah berjanji akan menuntaskan kasus Munir, saat jadi Presiden sekarang justru belum mewujudkan janjinya.

(Baca juga: SBY: Saya Dituduh Konspirasi Munir, Oh Come On!)

Pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pemerintah pernah membuat Tim Pencari Fakta (TPF) kasus kematian Munir. Belakangan kabar tak sedap berembus; dokumen hasil pencari fakta kasus Munir dikabarkan hilang.

KontraS sempat menggugat Sekretariat Negara (Setneg) ke Komisi Informasi Pusat (KIP) menuntut agar Setneg mengumumkan hasil TPF Munir yang konon berisi informasi pelaku pembunuhan.

Pada 10 Oktober 2016, KIP memerintahkan Setneg segera mengumumkan hasil resmi penyelidikan TPF Munir kepada masyarakat. Namun Setneg mengaku tidak menyimpan dokumen hasil TPF tersebut. Setneg pun mengajukan banding ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) atas alasan tersebut. Akhirnya diputus Setneg tidak memiliki kewajiban untuk membuka hasil TPF Munir ke publik.

(Baca juga: Putusan KIP Dibatalkan, Istri Munir Sebut PTUN Legalkan Kejahatan Negara)

Tak berhenti sampai di sana. KontraS pun kemudian mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Namun, Selasa 5 Septmeber 2017, MA memutus menolak kasasi tersebut dan menyatakan Sekretariat Negara (Setneg) bukan pihak yang wajib membuka hasil TPF Munir.

Munir Said Thalib, pria keturunan Arab-Indonesia yang lahir di tahun yang sama ketika tragedi 1965 terjadi, meninggal pada usia relatif belia, 38 tahun. Munir meninggalkan satu istri, Suciwati dan dua anaknya, Diva Suukyi Larasathi dan Soeltan Alif Allende. Semasa hidup, ia membidani dua lembaga yang berfokus pada HAM, KontraS dan Imparsial. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau HAM Indonesia, Imparsial.

(Baca juga: Membuka Kembali Kasus Kematian Munir)

Beberapa film dokumenter untuk memperingati tahun-tahun kepergian Munir pun telah dibuat dan diputar. Antara lain, "Bunga Dibakar" karya Ratrikala Bhre Aditya, "Garuda's Deadly Upgrade" hasil kerja sama antara Dateline (SBS TV Australia) dan Off Stream Productions, dan "His Story" diputar di Tugu Proklamasi, 2006.

Mengungkap tuntas kasus kematian Munir adalah salah satu pekerjaan rumah pemerintah Indonesia yang harus dilakukan demi mewujudkan keadilan dan tegaknya HAM. Publik pantas menunggu langkah konkret Jokowi, Presiden sipil yang lahir dari rakyat.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini