nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gambarkan Kondisi Ekonomi di Rakhine, Ali Yusuf: Seperti Indonesia Tahun 1960

Rayful Mudassir, Jurnalis · Selasa 05 September 2017 17:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 09 05 337 1769810 gambarkan-kondisi-ekonomi-di-rakhine-ali-yusuf-seperti-indonesia-tahun-1960-zcvIwnKHy1.jpg foto: Illustrasi Okezone

JAKARTA - Konflik kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar terus terjadi. Ketua Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) Ali Yusuf yang sempat berada di Rakhine pekan lalu, menceritakan kondisi wilayah tersebut, terlebih saat terjadinya krisis kemanusiaan.

Diceritakan Ali, negara bagian Rakhine merupakan sebuah wilayah yang cukup besar. Meski tidak menggambarkan persis, Ali Yusuf mengibaratkan wilayah termiskin kedua di Myanmar itu seperti beberapa kabupaten di wilayah Indonesia. Myanmar sendiri diketahui sebagai negara terbesar kedua di ASEAN setelah Indonesia.

“Kalau dari sisi sosial ekonomi, mungkin seperti tahun 1960, 1970 di Indonesia. Sangat miskin. Transportasi, infrastruktur baru sedikit jalan yang beraspal. Masih banyak jalan dengan hanya tanah dan berdebu. Apalagi kalau di perkampungan, jalan rusak semua,” kata Ali Yusuf dalam Diskusi Redbons ‘Tragedi Rohingya, Antara Nobel Perdamaian dan Kemanusiaan’ di Kantor Redaksi Okezone, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (5/9/2017).

Disamping itu, kata Ali Yusuf, di bidang sosial ekonomi cukup memprihatinkan. Bahkan kebutuhan dasar saja tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah setempat untuk masyarakatnya. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh etnis Rohingya, namun juga suku lainnya di Rakhine.

“Ketegangan antara etnis Rohingya dengan junta militer memang ada panas dinginnya, ya. Tapi kalaupun normal, posisinya juga sama, tidak bisa dipenuhi kebutuhan masyarakat oleh pemerintah Myanmar,” paparnya.

Bahkan, kata dia, masyarakat yang kini tinggal di tenda pengungsian, selama ini sama sekali tidak memiliki akses untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka hanya bergantung pada bantuan yang disalurkan oleh lembaga kemanusiaan Internasional. Sebagian rumah warga etnis Rohingya diketahui banyak dirusak oleh militer, sehingga terpaksa mengungsi di tenda darurat.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini