Waspadai "Saracen-saracen" Baru Jelang Pilkada dan Pemilu

Ahmad Sahroji, Okezone · Sabtu 02 September 2017 06:15 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 01 337 1767698 waspadai-saracen-saracen-baru-jelang-pilkada-dan-pemilu-RHbNk7XrYf.jpg Ilustrasi (Dok. Okezone)

JAKARTA - Tertangkapnya jaringan Saracen, kelompok penyebar konten ujaran kebencian bernada suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) di dunia maya, diprediksi tidak akan menyurutkan penyebaran informasi bohong, terutama mendekati pemilihan kepada daerah serentak 2018, dan pemilihan umum 2019.

"Kita tidak bisa menghalau perkembangan teknologi," kata pengamat komunikasi UIN Jakarta, Rachmat Baihaky kepada Okezone, Jumat (1/9/2017).

Menurut Baihaky, untuk mengindari informasi hoax, masyarakat harus sering bertukar informasi dengan meningkatkan komunikasi manusia antar manusia. "Rapat karang taruna, diskusi RT, ngobrol, karena sampai saat ini media mainstream pun sulit untuk dipercaya," tambahnya.

"Tatap muka, itu yang harus dikembalikan. Dengan seperti itu akan kemudian muncul dialektika, discourse, diskusi-diskusi yang mencerdaskan. Itu yang dibutuhkan saat ini," lanjutnya.

Komunikasi melalui diskusi di media sosial, lanjut Baihaky, dinilainya sudah tidak sehat. Karena sering kali menimbulkan miss preception. "Ini (diskusi tatap muka) bisa jadi sebuah atmosfer yang bisa mencerdaskan masyarakat," tandasnya.

"Saat ini kita membutuhkan civil society baru di tengah masyarakat kita. Tatap muka, diskusi-diskusi di tengah masyarakat yang sehat. Ini yang kemudian bisa mencerdaskan masyarakat," pungkasnya.

Diketahui, polisi menangkap tiga orang tiga orang pengelola Saracen, yakni JAS (32), MFT (43), dan SRN (32), di tiga lokasi berbeda, Rabu 23 Agustus 2017. Saracen memiliki 800 ribu akun di media sosial untuk menyebarkan hoax dan konten-konten berisi ujaran kebencian. Kelompok ini menawarkan jasa kepada sejumlah klien, dengan tarif hingga puluhan juta rupiah.(fin)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini