Share

Tragedi Rohingya Terparah di ASEAN, GP Ansor Minta Pemerintah Lebih Aktif Bersuara dan Jadi Aliansi Mitra Dialog

Rachmat Fahzry, Okezone · Jum'at 01 September 2017 17:12 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 01 337 1767673 tragedi-rohingya-terparah-di-asean-gp-ansor-minta-pemerintah-lebih-aktif-bersuara-dan-jadi-aliansi-mitra-dialog-bGWmZZUbLb.jpg Sejumlah warga dari etnis Rohingya mengungsi dari Myanmar. Foto Reuters/Mohammad Ponir

JAKARTA - Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor mengutuk keras dan menilai tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di daerah Arakan, wilayah Rakhine, Myanmar merupakan yang terparah di wilayah ASEAN.

Hal itu diperoleh setelah GP Ansor membaca laporan UN Office of the High Commissioner for Human Rights (OHCHR) 2017 maupun laporan-laporan dari lembaga yang dipercaya, di mana diketahui 60 ribu lebih etnis Rohingya nyawanya terancam. Sebanyak 64% dari etnis Rohingya melaporkan pernah mengalami penyiksaan secara fisik maupun mental, 52% perempuan Rohingya melaporkan mengalami pemerkosaan atau pelecehan seksual, ditambah lagi dengan penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang sekaligus penyiksaan selama penahanan terhadap ribuan warga Rohingya, perusakan maupun penjarahan terhadap rumah, harta benda, makanan dan sumber makanan warga Rohingya secara masif, serta pengabaian maupun ketiadaan perawatan kesehatan terhadap para korban. Rangkaian serangan itu sudah terjadi sejak 9 Oktober 2016 hingga saat ini.

Baca Juga: Muslim Rohingya Ditindas, Komnas HAM: Nobel Perdamaian Suu Kyi Bisa Dicabut!

Dalam siaran pers yang diterima Okezone, Jumat (1/9.2017), Wakil Sekjen PP GP Ansor Mahmud Syaltout, menduga keras kekerasan tersebut dilakukan oleh negara, baik aparat militer, keamanan, kepolisian maupun pemerintahan Myanmar. “Setidaknya didasarkan pada laporan penginderaan secara satelit oleh UNOSAT maupun HRW, terdapatnya pola-pola (patterns) serangan terhadap desa-desa etnis Rohingya yang memang telah ditargetkan,” tuturnya.

“GP Ansor mengkaji dengan seksama, khususnya secara geopolitik mengapa terjadi insiden serangan dengan menargetkan wilayah-wilayah yang dihuni etnis Rohingya pada tahun 2013, kemudian 2016 dan semakin menguat di tahun 2017 ini dengan intensifikasi jumlah korban dan jenis kekejian yang dilakukan.”

Lebih jauh Ansor menduga tragedi kemanusiaan terhadap etnis Rohingya merupakan konflik geopolitik, khususnya pertarungan kuasa dan kekuasaan (yang tak seimbang) di daerah Arakan-Rakhine, yang dihuni mayoritas etnis Rohingya, dengan dugaan kuat didasarkan pada perebutan secara paksa tanah dan sumber daya, khususnya minyak dan gas di wilayah-wilayah sekitar.

Baca Juga: Bantuan untuk Myanmar Datang dari Lintas Agama, Menlu Retno: 'This is Indonesia'

Konflik geopolitik yang sangat berdarah di daerah-daerah kaya sumber daya alam, khususnya minyak dan gas (Oil & Gas Blood) atau kutukan sumber daya (Resource Curse) bukan fenomena khas Myanmar, dan bukan hanya menimpa etnis Rohingya, tapi juga terjadi di belahan bumi yang lain. “Di mana untuk menutup operasi apropriasi kapital dan sumber daya secara menjijikkan operator-operator di lapangan membungkus dan/atau menutupnya dengan konflik antaretnis, antar agama, antar kelompok masyarakat dengan tujuan agar akar maupun persoalan sebenarnya menjadi kabur dan tersamar,” papar Mahmud.

Tragedi kemanusiaan etnis Rohingya sudah menyasar praktik dan simbol agama serta serta membenturkan antarumat beragama termasuk di dalamnya dengan melakukan pembakaran Alquran, pemerkosaan di masjid, mempersenjatai dan memprovokasi warga Rakhine untuk juga melakukan persekusi terhadap minoritas Rohingya.

“GP Ansor juga mencermati bahwa tragedi kemanusiaan terhadap saudara-saudara kita etnis Rohingya karena situasi di mana pemeluk agama mayoritas yang sebenarnya moderat memilih diam dan bukan melawan saat terjadi persekusi terhadap kaum minoritas, Aung San Sukyi, sang penerima Nobel Perdamaian, hanyalah contoh paling memuakkan dari diamnya mayoritas,” tegas Mahmud.

Oleh karenanya GP Ansor meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk lebih aktif bersuara dan cenderung memimpin aliansi mitra dialog dan diplomasi hak asasi manusia. Hal itu dikarenakan, Ansor menilai bagi ASEAN untuk bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik, mengingat selain Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura dan Brunei juga memiliki perusahaan nasional yang beroperasi dan berproduksi di daerah konflik geopolitik tersebut.

“GP Ansor juga mengajak organisasi kepemudaan dan masyarakat Indonesia lainnya, untuk melakukan aksi solidaritas kemanusiaan dan misi bantuan kemanusiaan terhadap saudara-saudara kita etnis Rohingya, serta melakukan secara lebih aktif lagi People-to-People Diplomacy di kawasan, dengan tentu saja dengan kesadaran agar konflik geopolitik di Myanmar itu tidak diimpor ke negeri kita.”

“Menyarankan agar melaksanakan Salat Gaib para korban yang tewas, mengirimkan doa khusus dan juga membaca Hizb Nasr agar para korban yang tewas mendapat ketenangan, agar para korban terluka ringan maupun berat segera mendapatkan kesembuhan; agar para korban yang hilang bisa diketemukan dalam keadaan hidup dan sehat; agar para korban yang mengungsi mendapatkan keamanan dan perlindungan, dan agar perdamaian abadi bisa kembali hadir di negeri Myanmar, sehingga para pengungsi dapat pulang ke tanah mereka dengan jaminan keamanan dan perlindungan,” seru Mahmud.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini